Bersama mas Rudi Lubis dan dr. Rina kami panen bermacam sayur bersama suami istri yang tekun memelihara sayur dari persemaian sebagai anak balita sampai dewasa dan siap dipetik. Seperti manusia sayur ada yang suka berendam dalam air dan menyajikan daunnya untuk dipetik dan enak dimakan. Ada yang suka menunjam tanah yang kelihatannya kotor dan keras tetapi menghasilkan buah yang beraneka warna, ada yang jingga ada juga yang putih seakan keturunan kulit putih yang biarpun bergelut tanah tetap tidak terpengaruh, menyajikan warna putih yang bersih.
Read MoreHari ini Jum’at 3 September, Nenek, Ibu, istri dan kekasih kami Astuty HS andaikan masih hidup akan ulang tahun ke 77, suatu usia yang tidak sempat dijalaninya karena pada Hari Ulang tahun yang lalu beliau dipanggil oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Pagi ini juga kami bersama anak-anak, Ria, Triadi, Fajar, Rina dan Rudi melakukan ziarah ke Makam beliau di Kali Bata. Kami merasa terharu bahwa sejak beliau menghuni makamnya telah banyak di sekitar beliau para sahabat, termasuk Pak Harmoko yang ibu dan anak-anaknya datang juga berziarah ke makam beliau, yang menyusul. Ada banyak para Mantan Menteri, para Jendral dan sahabat sehari-hari yang biasa bergaul dalam kegiatann pembangunan, Dharma Wanita dan Organisasi masyarakat lain berjejer secara rapi di Makam yang terhormat tersebut.
Read MoreSejak tahun 1970 diusahakan untuk meyakinkan masyarakat bahwa Pemerintah tidak Anti Anak. Poster yang “Membandingkan Banyak Anak Sengsara” dibanding “yang mempunyai Anak Sedikit Bahagia” segera setelah muncul langsung dilarang beredar karena kita menghendaki anak yang berkualitas tanpa harus menyalahkan mereka yang terlanjur memiliki jumlah anak banyak. Pemerintah sengaja tidak “mempromosikan” mereka yang memiliki jumlah anak yang banyak dan berhasil agar tidak merangsang keluarga memilih opsi tersebut. Strategi ini ditegaskan dalam setiap kali kunjungan kerja ke daerah dan bertemu dengan orang tua yang mengendong anak atau bayi yang ikut dalam berbagai kampanye KB. Suasana itu membuat setiap kampanye KB berjalan meriah dan lancar dihadiri oleh pasangan usia subur yang dalam kesempatan itu bisa lega karena kasih sayang kepada suami dan anaknya tidak diganggu atau terganggu. Justru diberikan cara bagaimana memelihara kasih sayang itu secara penuh karena bisa diatur kehamilannya dengan baik disertai doa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Read MoreKita simak dengan penuh perhatian tulisan Nofrizal MA yang disiarkan gemari.id tentang pencegahan agar anak tidak stunting. Tulisan itu mengupas masalah anak stunting dalam uraian menarik. Menurut Nofrizal ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan, yaitu kualitas sperma, menjadi ayah siaga, menjalankan kegiatan konsultasi, memberi prioritas gizi untuk ibu hamil, melaksanakan pendampingan, menjauhi kebiasaan merokok dan tabungan keluarga. Semua komponen tersebut perlu mendapat perhatian yang seksama.
Read More“Suami, Begitu Penting Perannya dalam Mengatasi Stunting”
-----------------------------------------------------------------------------------
Oleh : H. Nofrijal, MA
Penyuluh Keluarga Berencana Ahli Utama (PUMA)
Terkadang sosok ayah tidak terlihat bila dibandingkan dengan peran ibu dalam penanggulangan kasus stunting di keluarga, hal ini dikarenakan hampir semua urusan keluarga (domistic affairs) menjadi tugas seorang ibu, sehingga peran ibu terlihat lebih menonjol dibandingkan dengan peran ayah, memunculkan ungkapan “ibu menjadi menteri dalam negeri, sedangkan ayah menjadi menteri luar negeri”. Tugas-tugas tradisional keluarga, seperti memasak, mengurus pendidikan anak, kesehatan keluarga dan bahkan urusan lingkungan hidup rumah tangga, sering hanya menjadi urusan ibu.
Bagaimana peran ayah dalam upaya menurunkan kasus stunting di dalam keluarga? Ayah (suami) memegang peran penting dan menentukan dalam menurunkan angka stunting, bukankah mewujudkan anak yang sehat, cerdas dan berkarakter menjadi tugas bersama kedua orang tua, apalagi suami dalam masyarakat Indonesia berperan sebagai kepala keluarga. Rendahnya Angka partisipasi suami dalam urusan kehidupan keluarga dapat dilihat dari peran dan partisipasi suami dalam penggunaan kontrasepsi di Indonesia, hampir 35 juta peserta KB di Indonesia hanya sekitar 2 % penggunanya adalah suami, demikian juga dengan peran bantu suami dalam pendidikan anak-anak dalam keluarga, mayoritas ditangani oleh si ibu. Sangat jarang ditemui seorang ayah yang menghadiri pertemuan dan aktif dalam undangan orang-tua wali murid satu sekolah, kegiatan kelompok pengasuhan bina ketahanan keluarga, mendampingi sibuah hati kunjungan ke Posyandu dan bahkan ke konsultasi dokter praktek.
Peran penting ayah dalam keluarga, terutama dalam pendampingan dan pendidikan. Ayah merupakan sosok sentral, selain sebagai pemimpin, ayah juga sering dijadikan idola dan panutan anak-anaknya. Saat ayah memerankan kewajibannya dengan baik, maka ayah menjadi sosok panutan yang bertanggung jawab dengan berperan melindungi keluarganya. Peran ganda suami sebagai sumber nafkah keluarga dan pendidik utama dalam keluarga dapat berjalan serasi bila komitmen awal pernikahan menjadi fondasi pertama dalam membangun mahligai keluarga.
Menurut Fia Afifah R (2020) peran ayah dalam konsep Agama Islam, terdiri dari 1) Menjadi Pemimpin dalam keluarga, peran ayah yang pertama dalam keluarga adalah menjadi pemimpin. Setiap manusia menjadi pemimpin atas dirinya sendiri dan Allah menciptakan manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi, hal ini sesuai denga firman Allah dalam surat Al-An’am: 165). 2) Sumber nafkah keluarga. Kekuatan ekonomi (nafkah) utama dalam keluarga adalah pendapatan ayah, walaupun tidak dilarang bilamana istri dapat berperan dalam “income generating family” melengkapi dan bahkan menutupi kekurangan sumber ekonomi tersebut. Antara ayah dan ibu terdapat “simbiosis mutualisme” pengelolaan pendapatan dalam keluarga, nafkah yang didapatkan diperuntukan untuk kebaikan keluarga: kesehatan, pendidikan dan pengeluaran sosial lainnya, dengan demikian pengaturan pendapatan keluarga menjadi tugas bersama antara ibu-ayah. 3) Pendamping yang baik untuk anaknya. Pendamping yang baik dapat berarti tempat bertanya ibu dan anak, ayah dapat mendampingi kebutuhan kesehatan, pendidikan dan sosial anak pada usia balita dan anak-anak, menjadi pendamping dan penasehat utama ketika anak mulai dewasa, apalagi ketika anak sudah cukup umur untuk melangsungkan pernikahan. 4) Pendidik Keluarga. Dalam surat Lukman ayat 13-19, menyiratkan bahwa ayah memiliki peran sebagai pemimpin sekaligus pendidik anak-anaknya. Ayah tidak bisa melepaskan masalah pendidikan dan kesehatan anak hanya kepada ibu dan sekolahnya. Anak memerlukan ayah dalam perkembangnnya, yang tidak dapat digantikan oleh figure lainnya.
Untuk mewujudkan keluarga bebas stunting, terdapat setidaknya 7 peran ayah dan bersama-sama dengan masyarakat dan pemerintah melakukan percepatan penurunan kasus stunting.
1/7 Menjamin Kualitas Sperma
Kualitas janin dan bayi yang dilahirkan sangat tergantung dengan kualitas sperma ayah atau calon ayah dan kualitas sel telur calon ibu atau ibu. Bagi pasangan suami istri yang ingin memiliki momongan pada kesempatan pertama setelah menikah merupakan harapan dan cita-cita suami dan istri yang sudah menikah dengan cukup umur, demikian juga bagi seorang ayah dan ibu yang ingin anak kedua setelah anak pertama berusia 3-4 tahun, menambah anak kedua menjadi harapan yang tumbuh dari kedua belah pihak. Seorang ayah dan calon ayah semestinya memiliki pengetahuan yang cukup tentang konsepsi dan asupan gizi apa yang diperlukan ketika “pada saat itu” punya planning untuk mendapatkan bayi yang sehat. Ayah dan calon ayah dianjurkan untuk mengikuti pertemuan atau membaca buku-buku yang berkaitan dengan pembentukan janin yang sehat dalam kandungan seorang ibu atau calon ibu.
2/7 Menjadi Ayah Siaga
Ayah siaga, adalah peran penting suami dalam menjaga, memelihara dan mempersiapkan sesuatu terkait dengan proses kehamilan si istri dalam keluarga. Sebagai laboratorium kemanusiaan, kehamilan harus dijaga dari faktor-faktor penyulit baik secara fisik maupun secara psikis, membahagiakan istri oleh suami ketika hamil memberi effek positif dua kali lipat dibandingkan dengan kebahagiaan yang diberikan di luar kehamilan. Janin akan tumbuh dengan sehat bila asupan gizi yang cukup dan asupan kebahagiaan yang bersamaan waktu dan temponya, dengan demikian peran ayah sebagai suami siaga sangat menentukan kelancaran proses persalinan, terlebih pada saat kehamilan sudah mendekati 40 minggu maka seorang ayah sudah siap dengan waktu, tabungan dan fisik untukmengantarkan sang ibu bersalin di fasiitas kesehatan modern yang sudah ada di mana-mana. Keinginan sang istri untuk se-nyaman dan se- bahagia mungkin dalam proses persalinan menjadi salah satu tugas ayah siaga.
3/7 Menjalankan Kegiatan Konsultasi
Ayah memegang peranan penting dalam peningkatan pengetahuan dan sikap dalam penanggulangan stunting melalui edukasi dan konsultasi. Edukasi dapat berupa pertemuan yang digagas oleh tenaga dan lembaga terkait, konsultasi yang datang dari inisiatif kepala keluarga untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan yang tepat dari tenaga profesional baik bidang kesehatan, psychologist maupun tenaga profesional lainnya. Ayah menjadi inisiator dan pelopor interaksi medis dan non medis dengan praktisi dan profesional, baik melalui online service maupun secara langsung. Pengetahuan tentang stunting dapat dimiliki dari para dokter dan bidan puskesmas, bidan dan dokter praktek mandiri serta dapat diakses pula melalui layanan konsultasi online.
4/7 Prioritaskan Gizi untuk Bumil dan Busui
Pada saat adanya keterbatasan, maka seorang ayah dapat memprioritaskan porsi makanan yang bergisi kepada ibu hamil, ibu menyusui dan anak bayi-balita. Cerita lama tentang porsi ayah lebih besar pembagian dan pelayanan makanan yang bergizi, karena posisi dan suami yang diagungkan, diubah dengan paradigma baru bahwa ibu hamil dan balita menjadi raja dengan prioritas untuk pemberian asupan gizi keluarga. Pemenuhan gizi seimbang yang digambarkan dengan “Isi Piringku”, menjadi pedoman seorang ayah dalam memenuhi kecukupan gizi ibu hamil dan bayi-balita. Peranan dan tugas ayah tidak hanya menyiapkan bahan makanan secara instant (beli dan beli), akan tetapi juga menjadi inisiator dan eksekutor dari program ketahahan pangan dan gizi keluarga dengan memanfaatkan lahan pekarangan untuk penyediaan sumber makanan yang bergizi.
5/7 Melaksanakan Peran Pendamping
Pendampingan utama terhadap ibu hamil, ibu melahirkan dan ibu menyusui dilakukan oleh suami, sebelum orang lain ditunjuk dan mau menjadi pendamping. Pada saat kader pendamping keluarga melaksanakan tugas-tugas pendampingan, keterlibatan suami menjadi penting, karena keseharian ibu dalam priode 1000 Hari Pertama Kehisupan (SHPK) selalu berada di dekat suami.
6/7 Menjauhi Kebiasan Merokok
Prilaku merokok seorang ayah memberi pengaruh langsung terhadap munculnya kasus-kasus stunting dalam keluarga, menjadi perokok pasif dengan menghirup udara tidak sehat melalui asap rokok, menjadi sangat berbahaya bagi ibu hamil dan ibu menyusui. Kemudian, secara tidak langsung, duit yang digunakan untuk membeli rokok dapat dialihkan kepada pembelian makanan bergizi yang dapat bermanfaat bagi kesehatan ibu dan anak. Dengan mengalihkan biaya rokok kepada bahan makanan yang bergizi, gerakan sehat seperti konsumsi ikan, daging dan minum susu bisa tercapai.
7/7 Tabungan Keluarga
Tabungan keluarga untuk persiapan kehamilan, pemeliharaan kehamilan yang sehat, persalinan dan kebutuhan gizi pada saat priode menyusui dan memelihara tumbuh kembang balita, sangat diperlukan. Untuk itu konsep suami siaga juga sekaligus mempersiapkan kemampuan keuangan keluarga dalam memastikan kehamilan dan persalinan sehat, dengan maksud tertentu tabungan keluarga dapat membahagiakan istri yang ingin melahirkan di fasilitas kesehatan yang dia inginkan.
Harapan seorang istri kepada suami dalam masa 1000 Hari Pertama Kehidupan (SHPK) sangat sederhana, hanya sekitar: buahi indung telur sang istri (hamili dia) dengan cairan sperma yang berkualitas; penuhi gizi sang istri selama kehamilan; siapkan persalinan sang istri di fasilitas kesehatan modern; beri semangat dan kasih sayang sang istri ketika melahirkan; berikan kesempatan sang istri untuk menyusui anak secara penuh dua tahun; dampingin dan beri dukungan sang istri dalam program pengasuhan tumbuh kembang balita. Tidak mahal.
Jakarta, 25 Agustus 2021
Read MoreUpaya mempersiapkan suatu Agro Wisata tidak bisa disulap dengan mudah karena setiap tanaman yang dirancang tidak bisa tumbuh secara instan. Lebih dari itu arah dedaunan biarpun bisa direka yasa tidak semudah membuat suatu industri manufakturing yang segala sesuatu diatur dengan mudah kartena bisa direkayasa secara fisik dan hasilnya bisa dilihat dengan mudah. Pengembangan Agro wisata dari Kebun Astuty yang dipenuhi tanaman langka tidak mudah, tetapi gagasan untuk menyediakan Warung Kopi, lain dari pada yang lain dengan mudah bisa disulap dari Gedung Utama berupa “Rumah Betawi” yang dulu dimaksud sebagai tempat istirahat dan kumpulan kenangan indah selama bertugas mengabdi untuk bangsa segera ditata menjadi Warung Kopi yang sangat menarik.
Read MoreBerkeliling Kebun Astuty yang luas dapat mulai dari belakang Warung Kopi kearah belakang seakan ada pintu gerbang para pelancong bisa masuk melihat di kanan ada persiapan PAUD Alam yang sedang menunggu ijin untuk anak-anak agar sejak dini mengenal dan jatuh cinta pada lingkungan alam yang segar. Persiapan ini makin seru karena kebanyakan PAUD dewasa ini dilakukan melalui sistem daring sehingga orang tua anak-anak balita ingin sesuatu yang baru untuk mempersiapkan anak mereka sejak dini agar makin ceria menghadapi alam yang diharap makin ramah dan dinamis.
Read MoreMahasiswa kami, Dr. M. Hariyadi pada Program PSDM Universitas Airlangga di Surabaya tahun 2001, pada waktu kami, Prof. Dr. Haryono Suyono, pensiunan Menko Kesra Taskin, ditugasi Rektor Universitas Airlangga sebagai Ketua Program Studi PSDM bersama Prof. Dr. Kuncoro, Dr. dr. Suanaryo MSc, Dr. dr. Hariyadi MSc dan lainya, dan sekarang sudah menjabat Rektor Universitas Lumajang di Jawa Timur. Salah satu karyanya bersama beberapa tokoh lain di Lumajang adalah membangun Desa dan Masyarakat Desa di Karamba bersama masyarakatnya seperti halnya kita membangun kesertaan KB di masa lalu.
Read MoreHari ini anak-anak Ria, Fajar dan Rina bersama suaminya, tidak seperti gambar di samping lagi, kita ajak berkunjung Kebun Astuty di Cinangka dan pulangnya makan siang bersama di Restoran Sate kegemaran kami. Kebersamaan dengan seakan mengembalikan kebahagiaan yang rindu mengingat bahwa bulan Agustus adalah bulan yang membawa kenangan sangat indah. Pada akhir bulan, tepatnya tanggal 30-31 Agustus 1963 kami menikah. Acara pernikahan dilakukan dalam “adat Betawi”, sehingga Acara itu “diiringi pesta” tiga hari dan tiga malam tanpa henti di tempat kediaman pengantin perempuan di Kampung Melayu. Dalam Acara itu biasanya pengantin laki-laki boleh pulang ke rumahnya, tetapi kami bandel ikut dalam silaturahmi antar sahabat pengantin. Sewaktu-waktu nimbrung menemani tamu sambil memperkenalkan diri. Malam harinya, biarpun terpaksa menggelar kasur di lantai kamar pengantin untuk tidur bersama menikmati “malam pertama”. Tempat tidur pengantin harus tetap terpajang indah dengan aneka hiasan karena setiap tamu ingin melihat indahnya hiasan kamar dan tempat tidur pengantin.
Read MoreSetelah Ketua Pembina Yayasan Karya Bhakti RIA Pembangunan (YKBRP), Prof. Dr. Haryono Suyono, menetapkan, mengesahkan dan memberikan pengarahan pada acara serah terima direktur Badan Penyelenggara (BP) STIKes Mitra RIA Husada, otomatis kepada seluruh Pengurus baru Yayasan di Jakarta pada hari Kamis yang lalu, maka Pengurus baru segera bekerja.
Read MoreDalam suasana Memperingati Hari Kemerdekaan RI, kami kelililing Desa mlalui berbagai Media Sosial mengadakan inventarisasi kegiatan yang diperkirakan bisa menjadi kegiatan Nasional dengan tetap tinggal dan bekerja dari rumah. Sungguh sangat menggembiarakan di Tanggerang di Jawa Barat dan di Kabupaten Lumjang ada Gerakan masyharakat yang mempunyai tanda tanda bisa dikembangkan atau dicointoh untuk daerah lainnya. Pada edisi gemari.id kemarin dimuat cerita dari Tanggerang. Hari ini kita lihat kegiatan Membangun Lumajang Berkah yang terkenal sebagai Gerakan MELUBER.
Read MorePada Acara Webinar dengan Dokter Mulyohadi Sungkono SpOG dari Malang kami berkenalan dengan Ir. Bambang Irianto yang memiliki program pengembangan Kebun Bergizi Keluarga yang berhasil. Ternyata usaha beliau itu tidak saja di Malang, tetapi telah lebih luas, ada juga di daerah Tanggerang. Pada waktu beliau ada di Tanggerang, beliau merasa berterima kasih kepada seorang Pak Guru yang lelah mengorbankan sesuatu dan berjanji tidak akan menyiakan-siakan untuk terus membangun Indonesia dari lorong-lorong kampung.
Read MoreMenjelang akhir bulan Agustus seperti sekarang ini, ingatan kami akan hari-hari indah bersama istri tercinta Almarhumah Astuty Haryono meningkat tajam. Pada akhir bulan Agustus 1971, setelah selama musim Summer tahun itu kami mendapat kerja sambilan sebagai Asisten Riset dan Asisten Pengajar untuk kegiatan Summer Workshop yang diikuti sekitar 50 negara, keadaan rumah tangga kami di Chicago bertambah baik. Bea siswa kami yang biasanya hanya sekitar US$ 300.00 dengan tambahan sebagai Asisten Riset, pada bulan Juli sampai akhir Agustus bertambah lagi dengan jabatan baru sebagai Asisten Pengajar untuk kegiatan Workshop KB Internasional yang lumayan. Kami berunding dengan istri untuk mengadakan “Peringatan Ulang Tahun Perkawinan” dengan pergi ke “bagian kota” Chicago berkunjung ke salah satu restoran dan makan steak yang biasanya hanya sebagai impian saja. Tadinya kami akan ajak Bapak Sofyan Awal satu-satunya keluarga Indonesia yang tinggal sekitar satu jam dari tempat tinggal kami di Kampus Universitas. Tapi kami batalkan takut kami nanti tidak nyaman karena biasanya kami selalu dibayari kalau makan bersama.
Read MoreDalam suasana Memperingati Hari Kemerdekaan RI, “Haryono Show” yang kedua belas hari ini, diselenggarakan oleh Yayasan Anugerah bersama “Maestro Consulting Handoko”, masing-masing dipimpin oleh Drs Wajar Wiryono dan Handoko Wignyowargo membawa kita bertemu dengan para intelektual yang berjuang dari tiga daerah, di Lampung, Gorontalo dan Semarang. Tamu-tamu istimewa tersebut adalah dr. Wahab Sirajudin Sp.OG(K) Walikota Metro Lampung, Dr.dr Muhammad Isman Yusuf Sp.S Ketua IDI dari Kota Gorontalo dan Dr. Muhdi SH MHum, Rektor Universitas PGRI di Semarang. Seperti biasa Prof. Dr. Haryono Suyono dan Dr. Mulyono Dani Prawiro bertindak sebagai pengantar acara.
Read More