Bagaimana Menyalakan Api dan Semangat Menulis di Tahun Baru 2026 ini?

Dr H Lalu Burhan, MSc

GEMARI.ID-MATARAM. Tahun baru selalu datang membawa dua hal sekaligus: harapan dan keraguan. Harapan akan perubahan, dan keraguan apakah kita mampu mewujudkannya. Di antara resolusi yang sering dituliskan hidup lebih sehat, lebih hemat, lebih produktif menulis sering kali hanya menjadi niat yang tertunda. Padahal, menulis adalah api kecil yang mampu menerangi pikiran, perasaan, dan bahkan jalan hidup seseorang.

Tahun 2026 seharusnya menjadi momentum untuk kembali menyalakan api menulis yang mungkin sempat redup. Bukan untuk menjadi penulis terkenal, bukan pula untuk mengejar viral, tetapi untuk jujur pada diri sendiri: bahwa kita memiliki cerita, gagasan, dan pengalaman yang layak dibagikan. Menulis Adalah Api, Bukan Sekadar Aktivitas. Siapa yang mampu menulis dia akan menjadi orang merdeka. Bukan seperti anak kecil yang sedang tertidur pulas dan bermimpi indah.

Api tidak menyala dengan sendirinya. Ia butuh percikan, bahan bakar, dan keberanian untuk menyalakannya. Begitu pula menulis. Banyak orang gagal menulis bukan karena tidak mampu, tetapi karena terlalu lama menunggu "waktu yang tepat". Padahal, menulis justru menciptakan waktu itu sendiri. Menulis adalah api yang menghangatkan pikiran. Ia membantu kita memahami apa yang sebenarnya kita rasakan. Dalam dunia yang bising oleh media sosial, menulis memberi ruang sunyi untuk berpikir jernih. Satu paragraf yang ditulis dengan jujur sering kali lebih bermakna daripada seribu kata yang ditulis karena terpaksa.

Tahun Baru, Pikiran Baru

Tahun 2026 membuka lembar kosong. Seperti kertas putih, ia menunggu untuk diisi. Menulis di awal tahun adalah cara terbaik untuk menata ulang pikiran, menimbang ulang tujuan, dan menyusun ulang mimpi. Tidak harus panjang, tidak harus indah. Yang penting, jujur dan konsisten. Bagi seorang Dosen menulis adalah bentuk refleksi dan tanggung jawab intelektual. Bagi mahasiswa, menulis adalah latihan berpikir kritis. Bagi siapa pun, menulis adalah cara merawat kewarasan. Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan, tulisan manusia tetap memiliki ruh yang tak tergantikan rasa.

Kita perlu menulis dengan Hati di Era Digital, karena di era AI, banyak orang takut tulisannya kalah cepat, kalah rapi, kalah sempurna. Padahal, yang tidak bisa ditiru mesin adalah pengalaman hidup, luka, harapan, dan kejujuran. Menulis dengan hati akan selalu menemukan pembacanya sendiri. Hati akan bertemu dengan hati dan biarkanlah tulisanmu menemui takdirnya. Semoga bermanfaat. Penulis adalah Blogger persahabatan pengurus DMI dan BPD AKU NTB

Mulyono D PrawiroComment