Menembus Hutan Menuju Desa Pucangsewu Kecintaan Keluarga
Perjalanan dengan kereta api dari Jakarta Yogyakarta memasuki stasiun Tugu tidak meleset dari rencana jam 16.00 tepat. Pelahan dan meyakinkan kereta massuk stasiun tidak seperti dulu petugas berebut masuk gerbong, tetapi petugas porter secara teratur dengan tanda di dadanya masuk gerbong menunggu pesanan untuk angkat koper. Tidak ada kesan rebutan seperti masa lalu. Konon ini semua adalah hasil olahan krew pak Jonan yang pernah menjabat Dirut KA yang ramah dan maju.
Setelah semua koper rombongan tertata rapi oleh para porter yang nampak bertanggung jawab, kita turun diiringi hujan deras menyambut kedatangan rombongan. Hujan tersebut seakan seperti langganan masa lalu yang selalu mengiringi kunjungan kerja ke desa-desa menggelar pertemuan dengan pasangan usia subur. Termasuk yang mengejutkan terjadi di lapangan Pontianak yang konon sudah tiga bulan tidak ada hujan, mendadak pada saat kunjungan kami hujan deras hanya di tengah lapangan saja. Atau di lapangan upacara Lampung, hujan angin yang mampu menerbangkan atap trmpat upacara yang kemudian berhenti saat kami mulai dengan pidato motivasi yang disambut gegap gempita p;ej [eserta yang sempat bertduh dan segera Kembali ketengah lapangan.
Begitu kita menempati mobil yang disediakan pak Sutarto Alimuso, mantan Kepala Bulog dan pak Suroyo Alimuso, mantan Dirjen Perhubungan Darat, kita langsung dibawa ke restoran tradisional Jawa dengan masakan serba Jawa yang lengkap. Begitu duduk nyaman, masing-masing memesan menurut selera. Kami ragu-ragu jangan-jangan pesanan baru selesai tengah malam karena ke lima belas anggota pesanannya berbeda-beda.
Di luar dugaan, rupanya, di seling sholat, orang Jawa dari Yogya sudah bisa mengimbangi kecepatan makanan cepat saji ala Padang. Dalam waktu sangat singkat semua pesanan sudah diantar ke meja pemesan siap santap. Masakan Jawa dengan manajemen Padang perlu dicatat untuk kunjungan yang akan datang karena ternyata rasanya sama enaknya dengan masakan yang diolah pelan-pelan ala orang Yogya asli sebelum kena pengaruh positif model cepat kilatnya orang Minang.
Untuk sementara suasana hening tenang karena masing-masing tidak menyangka sangat menikmati pesanan masing-masing yang segar dan nikmat. Ada ayam goreng, ayam bakar dan pecel, gudeg, sayur lodeh dan segala macam masakan Jawa yang sangat populer dan jarang dijumpai sehari-hari di Jakarta. Apalagi di lingkungan rumah kita masing-masing.
Menjelang Magrib kita selesai makan dan mulai berangkat menyusur hutan Wonosari menuju Pacitan. Suasana hujan sudah mereda tetapi lingkungan makin tidak bersahabat karena gelap malam. Tidak seperti biasa dibandingkan jalan di siang hari, kita generasi tua tidak banyak bisa pamer pada generasi muda jalan yang berlekuk dan kadang seakan hilang karena menanjak dan jalan lanjutannya tidak Nampak atau setengah hilang dari pengliharan. Yang masih kelihatan adalah makin pekatnya malam dan lekuk jalan yang meliuk-liuk engetes ketrampilan sopir yang katanya sudah rutin mengantar pak Suroyo yang di masa lalu memjabat sebagai Dirjen Perhubungan Darat. Percaya pada sopir kami trermenung menikmati perjalanan pulang kampung yang indah dengan seluruh keluarga tanpa terikat surat tugas dari negara untuk suatu keperluan tertentu, keduali bhakti sosial sesama anak bangsa.
Dengan renungan sambil membayangkan acara peresmian Gedung Siti Padmirah sebagai pusat pemberdayaan keluarga dan masyarakat sebagai peluasan kegiatan PAUD selama ini, akhirnya iring-iringan mobil memasuki kota Pavitan. Sebelum sampai alun-alun membelok ke Desa Puucang sewu dan tiba dengan selamat di rumah Bapak Alimuso almarhum disambut Sulih, Bagio, ibu-ibu guru PAUD dan kerabat lainnya. Koper dan kita dibagi habis untuk siap tidur dan kami dengan mas Fajar menempati kamar dan tempat tidur Almarhum Bapak Alimuso. Kabarnya angker tetapi dua malam kami tidur bersama terasa tenang dan nyaman karena kecapaian perjalanan yang jauh.
Baru dalam perjalanan pulang dari Pacitan menuju Yogyakarta kami bisa melihat kemajuan desa di gunung-gunung. Kantor Kecamatan dan sekolah saja yang di depannya terpampang tulisan jelas nama gedungnya. Rumah-rumah rakyat yang Sebagian besar sudah tidak lagi beratap rumbai tetapi genting dan bertembok tidak ada papan namanya. Fungsinya juga sudah nulai berubah. Yang berada didekat pusat kantor kecamatan hampir semua rumah berubah menjadi toko serba guna sehingga bisa disimpulkan bahwa pengembangan usaha menengah dan kecil dalam bidang perdagangan jauh lebih cepat dibanding perkembangan industri kecil dan menengah. Industri yang berpotensi produksi atau mengolah bahan baku kauh ketinggalan. Bahkan banyak warung-warung kecil tidak dirunggui pemiliknya sehingga pembelinya terpaksa berteriak memanggil pemililnya yang istirahat di tempat tinggal di belakang warungnya. Suatu model warung yang fisik sudah ada tetapi belum tertata sesuai efisiensi untung rugi atau pemanfaatan yang asal meniru tatangganya saja.
Di tempat lain yang di masa lalu kami sering makan sebelum masuk Pacitan, restorannya bertmabah makin luas dengan sajian yang makin variative. Cara sajian sudah sangat mirip dengan rstoran Padang yang ada dimana-mana. Makanannya tetap seperti biasa, nasi merah, goreng belalang, ikan wader, dan tentunya ayam goreng yang betul-betul ayam kampung. Nikmat dan perlu dicoba oleh turis yang biasa makan ayam kampung yang tidak asli. Suatu wisata kuliner yang luar biasa.
Perjalanan ini berakhir di Yogyakarta disambung dengan acara nostalgia karena kita semua sekolah SMP dan SMA di Yogyakarta.