Belajar di Meja Makan Kampus Perdatam

Pengakuan Maestro Handoko yang Sangat Terkenal

maestro.png

                Saya mulai mengenal Oom Haryono Suyono di tahun 1985. Kebetulan anak ketiga Oom Haryono, Fajar Wiryono, adalah teman satu angkatan di Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Oom Haryono dan keluarga yang terlihat demikian terbuka menerima kehadiran teman-teman anaknya menjadikan saya tidak takut untuk sering berkunjung ke Perdatam, rumah beliau.

                Sepanjang yang saya rasakan selama 28 tahun saya merasa dianggap sebagai ‘anak’. Belakangan yang saya sadari betul adalah Oom Haryono sering kali menggunakan kata ‘ananda’ tanpa menyebut nama saya kala beliau mengirimkan SMS/BBM. Oom Haryono juga suka membanggakan saya di hadapan teman-teman beliau sesama mantan pejabat ataupun masih pejabat tinggi negara. Ini tentu saja membuat saya sangat bangga karenanya.

Belajar Komunikasi

Yang tidak pernah terlupakan adalah masa-masa awal dimana saya, juga beberapa teman lain, sering diajak makan malam di Perdatam. Sepanjang makan selain kami membahas soal makanan juga membahas masalah-masalah social politik yang sedang terjadi di negeri ini beserta ide-ide untuk pemecahannya. Terus terang pada awalnya saya seringkali tidak paham akan konsep-konsep besar sehingga lebih banyak mengangguk-angguk saja. Belakangan saya merasa ketagihan dengan Kuliah Kampus Perdatam di Kelas Meja Makan itu.

                Salah satu yang kami tidak lupa saat Oom menjelaskan bagaimana caranya meyakinkan orang menggunakan kondom. Di meja makan Oom menjelaskan kalau sebuah kondom diselongsongkan di Ibu jari dan disentuh akan berasa, apalagi kalau itu diselongsongkan di alat kelamin yang lebih sensitive dibanding jempol tangan. Ini untuk mengcounter pendapat sebagian orang dimana menggunakan kondom mengurangi kenikmatan dalam berhubungan.

                Kuliah di meja makan tidak hanya sebatas bidang yang Oom geluti dalam pekerjaan sehari-hari beliau. Oom Haryono seringkali mengajarkan hal-hal yang berhubungan dengan ilmu komunikasi, jurusan yang kami ambil saat itu. Bahkan dengan sangat meyakinkan beliau memberi contoh-contoh praktek di lapangan. Kesan yang timbul di hati saya adalah Oom yang satu ini adalah memang Oom yang serba tahu.

Belajar menghargai

                Menjadi ‘anak’ tentu saja tidak lepas dari kena tegur. Salah satu yang saya ingat betul suatu hari saya mendapat SMS politik yang miring tentang salah satu Presiden RI dan saya forwardkan ke beliau. Niat saya sekedar membuat joke, ternyata saya mendapat balasan yang diawali dengan kata ‘anak muda’ yang di dalamnya berisi teguran untuk tetap menghormati pemimpin bagaimanapun situasinya. Setelah kejadian itu saya tidak mengirim Oom dengan SMS miring lagi.

Cerita lain sebagai ‘anak’ adalah suatu malam saya makan bersama Oom. Begitu selesai saya  langsung berpamitan mau pulang karena besok paginya saya harus ke Solo untuk sebuah acara dengan Ibu Nina Akbar Tandjung. Waktu saya salami beliau Oom Haryono berkata ‘Bebek goreng Pak Slamet itu sambelnya pedes cuma tidak panas’. Rina, anak bungsu Oom yang kebetulan berdiri di sebelah saya mencolek tangan saya seakan mengingatkan. Sebagai ‘anak’ saya mengerti maksud kalimat itu. Pulang dari Solo saya bawakan satu dos bebek goreng tiga perempat matang untuk ‘bapak’.

Belajar Teknologi

                Sepanjang yang saya tahu Oom Haryono adalah pecinta komputer sejati. Sebagai pejabat tinggi beliau bukan sekedar menyuruh orang menggunakan computer tetapi juga menguasai bagaimana menggunakannya, selain itu juga mengikuti perkembangannya. Beliau tidak segan-segan berbagi tentang apa yang diketahuinya.

                Yang saya tidak sangka ternyata beliau juga turun ke jalan sendiri untuk mencari computer. Anggapan saya bahwa ada staff yang menjadi buyer kebutuhan komputer beliau sirna ketika suatu hari saya bertemu beliau sedang asik berputar-putar di pameran komputer di kawasan Senayan. Seingat saya tidak cuma sekali saya bertemu dengan beliau di pameran.

                Yang lebih berkesan adalah menjelang akhir tahun 2004 ketika saya yang tengah menyelesaikan pekerjaan saya di Singapore tidak sengaja bertemu dengan beliau yang baru saja kembali dari China dan transit di Singapore. Saya mampir di hotel beliau & beliau meminta saya menemani ke Mal. Ada satu hari penuh kami berjalan-jalan sepanjang lorong-lorong Funan Mall untuk mencari dan mengeksplorasi sejumlah gadget-gadget baru.

Belajar Berbagi

                Ketika saya akan mensyukuri ulang tahun saya yang ke 40 saya membuat buku kenangan. Di buku tersebut antara lain saya meminta kesediaan 40 tokoh untuk menulis tentang saya. Saya sempat bertanya-tanya apakah beliau bersedia. Ternyata waktu saya menghadap beliau bukan saja bersedia bahkan berjanji akan menulis sendiri artikel yang dimaksud. Waktu saya membaca pertama kali saya sangat terharu. Besar perhatian Oom kepada saya tercermin dalam kata demi kata yang ditulisnya. Tulisan Oom Haryono termasuk yang paling panjang tetapi sangat padat dengan isi dan arti. Yang membuat saya terharu adalah ketika Oom Haryono suatu hari berkata bahwa dia bangga bisa menjadi salah satu contributor buku ulang tahun saya.

Sebagai ‘anak’ saya nyaris jarang absen untuk hadir di ulang tahun Oom. Uniknya saya terkaget-kaget waktu ultah yang ke 70 tahun. Terkait dengan ulang tahunnya Oom tidak suka dipestakan. Beliau menginginkan sesuatu yang bermanfaat untuk negeri ini. Saya merasa sangat bangga ketika Oom ternyata meminta saya sebagai salah satu pembicara dalam rangkaian acara di hari ulang tahun beliau.

Haryono SuyonoComment