Dihapus dari Catatan Manusia, Ditulis di Lauh Mahfudz
Dr Susetya Herawati, ST, MSi
GEMARI.ID-JAKARTA. Ada fase dalam hidup yang rasanya seperti dihapus. Nama yang dulu ada di atas kertas, kini kosong. Pintu yang dulu terbuka lebar, kini rapat. Undangan yang dulu datang tiap bulan, kini senyap. Awalnya perih. Rasanya seperti kehilangan jati diri. Padahal yang hilang bukan diri. Yang hilang hanya label luarnya: jabatan, titel, akses. Dulu dikira kemuliaan ada di situ. Di tanda tangan, di kop surat, di barisan kursi paling depan. Ternyata tidak.
Baru paham setelah duduk lama merenungi kisah tiga perempuan hebat 14 abad lalu. Siti Khadijah, pernah kehilangan segalanya. Hartanya habis untuk membela dakwah. Statusnya sebagai "wanita terkaya Mekkah" luruh. Tapi Allah tidak pernah menghapus namanya. Justru sampai hari ini, setiap Muslimah belajar darinya tentang arti mandiri dan setia. Khadijah mengajari: kemuliaan wanita bukan dari apa yang dia miliki, tapi dari apa yang dia berikan.
Siti Fatimah, pernah diusir dari rumahnya sendiri. Haknya diambil, pintunya didobrak. Di mata manusia, dia "kalah". Tapi sampai akhir hayatnya, beliau tetap memegang prinsip dan doanya tidak pernah berhenti menghadap Allah. Fatimah mengajari: boleh terluka karena prinsip, tapi jangan pernah berhenti beradab. Dan pembelaan tertinggi bukan datang dari manusia, tapi dari langit.
Siti Aisyah, pernah difitnah sebulan lamanya. Namanya dicemari, harga dirinya diinjak. Tapi Allah turunkan ayat langsung dari langit untuk membersihkan namanya. Aisyah mengajari: kalau berjalan di jalan ilmu dan kebenaran, maka biarlah Allah yang jadi pengacara. Tugas hanya terus menuntut ilmu dan bersuara dengan adab. Dari mereka lahir satu kalimat yang menyembuhkan: Yang dicabut manusia, hanya label. Yang dicatat Allah, adalah jiwa.
Ada masa sunyi. Tidak ada panggung, tidak ada sorotan. Tapi justru di sunyi itulah ditemukan kemerdekaan yang sesungguhnya. Merdeka dari pengakuan. Merdeka dari validasi. Merdeka karena akhirnya bekerja bukan untuk nama, tapi untuk makna. Jadi untuk siapa pun yang hari ini sedang dihapus namanya, dicopot jabatannya, ditinggal orang yang dulu paling percaya... bertahanlah. Mungkin Allah sedang mencemburui hati itu. Dia ambil semua yang bukan Dia, supaya hati kembali utuh hanya untuk-Nya.
Label boleh hilang dari catatan manusia. Tapi selama berjalan di jalan Khadijah, Fatimah, dan Aisyah... InsyaAllah nama tetap aman di Lauh Mahfudz. Karena pada akhirnya, yang diingat dunia bisa hilang. Yang diingat Allah, tidak akan pernah terhapus.