Mata untuk Melihat Kebenaran

Oleh: Dedi Priadi

(Editor: Aam Bastaman)

Setiap manusia lahir membawa sepasang mata, namun tidak semua orang dibekali dengan kesiapan untuk melihat kebenaran yang sama di balik hamparan realitas materi sehari-hari.

Mata

Melihat kebenaran

Dunia batiniah kita adalah sang arsitek utama yang sesungguhnya bertugas menyusun, membentuk, sekaligus mewarnai setiap jengkal realitas fisik yang ditangkap oleh indra penglihatan lahiriah.

Cara kita memandang duniaโ€”atau ๐˜ธ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ฅ๐˜ท๐˜ช๐˜ฆ๐˜ธโ€”bukanlah sekadar fungsi mekanis dari lensa mata, melainkan sebuah refleksi terdalam dari tingkat kesadaran dan kebeningan cermin kalbu manusia.

Ketika ๐˜ธ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ฅ๐˜ท๐˜ช๐˜ฆ๐˜ธ seseorang masih dikuasai oleh kabut nafsu yang tebal, realitas yang indah sekalipun akan tampak seperti sebuah ancaman yang mencemaskan bagi ketenangan jiwanya.

Sebaliknya, saat mata batin atau ๐˜ข๐˜ญ-๐˜ฃ๐˜ข๐˜ด๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ telah mulai terbuka, rintik hujan yang paling dingin pun mampu bertransformasi menjadi simfoni berkah yang menghangatkan ruang kalbu.

Perubahan cara pandang inilah yang secara radikal akan langsung mengubah seluruh spektrum rasa di dalam dada, mengubah ketakutan lama menjadi kedamaian batin yang sesungguhnya.

Dari rasa yang telah berubah itulah, perilaku manusia kemudian mengalir secara alami, layaknya mata air jernih yang membasahi bumi dengan benih-benih kebajikan dan ketulusan.

Seseorang yang memandang sesamanya sebagai ancaman akan selalu bertindak defensif, membangun benteng nafsu yang tinggi, dan terjebak dalam lingkaran permusuhan yang melelahkan jiwa lahiriahnya.

Namun, jiwa yang memandang kehidupan dengan kacamata cinta dan persaudaraan yang luas akan selalu mengulurkan tangan, menebarkan kedamaian, serta merajut harmoni di tengah berbagai perbedaan.

Kita tidak pernah merespons dunia apa adanya, melainkan kita selalu merespons dunia berdasarkan bentuk jalinan makna (๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ด๐˜ต๐˜ณ๐˜ถ๐˜ค๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ) yang kita ciptakan sendiri di dalam labirin pikiran kita.

Oleh karena itu, perubahan perilaku yang sejati dan abadi tidak pernah dimulai dari pemaksaan aturan luar, melainkan dari pembersihan cermin hati dari debu-debu kelalaian dunia.

Mari kita asah ketajaman mata hati agar mampu melihat melampaui yang tampak, menemukan kebijaksanaan hidup, dan melangkah dengan keanggunan budi di atas bumi ini.

www.priaditest.com

Penulis: Dedi Priadi (Penemu dan Pendiri PRiADI Psychological Fingerprints)

Editor: Aam Bastaman (Ketua Senat Universitas Trilogi)

Aam BastamanComment