Perempuan itu Cinderella di dalam Sunyi

Oleh : Dr Susetya Herawati, ST, MSi

GEMARI.ID-JAKARTA. Aku kesiangan lagi pagi ini. Matahari sudah naik terlalu tinggi untuk dimaafkan. Tapi tubuhku masih berat, seperti diseret malam yang menolak pergi. Dahulu aku mengira Cinderella hanya dongeng pengantar tidur. Gaun kristal, kereta labu, dan kutukan jam dua belas. Kini aku mengerti... aku juga Cinderella.

Siang hari aku mengenakan gaun "kuat". Jahitannya rapi, senyumku disetrika.  "Bagaimana kabarmu?" tanya dunia.  "Baik, Alhamdulillah," jawabku.  Padahal di balik gaun itu, benangnya mulai lepas. Aku lusuh. Aku lelah. Tangan ini bekerja tanpa henti agar rumah tetap berdenyut, agar nama tetap terjaga, agar luka tidak terlihat. Orang menyebutku hebat.  Mereka tidak tahu, hebat itu baju besi yang kupakai agar tidak ada yang bertanya: "Kau baik-baik saja?"

Jam dua belas malamku datang setiap hari. Bukan kereta yang lenyap menjadi labu. Tapi tenagaku yang dicabut perlahan. Semua peran kutanggalkan. Tinggal aku, kasur, dan sunyi yang jujur.  Di sanalah aku boleh runtuh. Boleh menangis tanpa suara.  Karena lemah itu sendiri adalah keindahan. Keindahan yang tidak perlu diumumkan. Keindahan yang hanya Tuhan dan bantal yang tahu.

Rocky pernah berkata kepada anaknya:  "Dunia ini bukan tempat yang penuh pelangi. Dunia itu kejam. Ia akan memukulmu sampai ke lutut, dan menahanmu di sana selamanya jika kau mengizinkannya. Kemenangan bukan tentang seberapa keras kau memukul. Tapi tentang seberapa keras kau dapat dipukul hidup... lalu tetap melangkah maju. Itulah cara menang."

Aku tidak pernah dipukul dengan tangan.  Aku dipukul dengan sepi. Dengan janji yang patah. Dengan doa yang jawabnya ditunda.  Sakitnya tidak berdarah. Tapi membiru di dalam. Barangkali cinta memang sejumput sunyi yang tersimpan di langit. Rahasia. Tidak dapat diburu, tidak dapat dipaksa seketika.  Aku pernah berteriak: "Aku mencintaimu hingga waktu runtuh menjadi puing di bawah jam dinding!" 

Langit diam. Ombak hanya menderu. Lama-kelamaan aku mengerti: cinta bukan dia yang singgah dalam mimpiku. Cinta adalah aku. Jiwa yang terus menjadi, walau berkali-kali terhempas ke lumpur kecewa dan dosa. Maka untukmu, perempuan yang membaca ini di sela malam...  Untukmu yang gaunnya lusuh karena dipakai bekerja, bukan berpesta... Untukmu yang jam dua belas malamnya lebih panjang dari siang bahagianya... Untukmu yang sudah lupa rasanya dipeluk tanpa diminta kuat dulu...

Ketahuilah: tidak ada peri pembantu yang akan mengetuk pintumu. Tetapi ada Janji yang lebih tua dari semua dongeng. Allah berfirman:  "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." QS. Al-Insyirah: 5-6. Dan Dia juga berfirman:  "Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." QS. Az-Zumar: 10. Ayat pertama mengingatkan: gelapmu tidak akan selamanya. 

Ayat kedua memelukmu: sabarmu tidak akan sia-sia. Setiap air mata, setiap "aku baik-baik saja" yang kau paksa, dicatat. Tanpa batas. Keajaiban itu tidak selalu datang sebagai kereta emas.  Kadang ia datang sebagai kamu yang masih memilih sujud walau lutut perih.  Kadang ia datang sebagai kamu yang masih memberi walau dompet dan hatimu kosong. Sepatu kaca boleh retak. Gaun boleh robek diterpa duri.  Tetapi kaki yang telah menempuh jalan sejauh ini... itu milikmu. Itu saksi bisu perjuanganmu. Tidak seorang pun dapat mengambilnya. Istirahatlah. Besok kita kenakan lagi baju "kuat" itu.  Malam ini, izinkan dirimu menjadi perempuan biasa yang lelah.  Karena perempuan biasa yang lelah... tetaplah mukjizat. Penulis adalah Perempuan dan Ibu dari para putranya