Mahakarya Warisan Budaya Hancur dalam Sekejap Karena Perang
Oleh: Aam Bastaman
Manusia membangun banyak mahakarya yang indah dan bernilai di berbagai negara, kawasan dan wilayah melalui proses yang panjang dan memakan waktu lama, disertai kreatifitas, inovasi serta ketekunan dan tekad. Hasilnya, beragam mahakarya peradaban umat manusia. Ras kita bersama, homo sapiens.
Sayang, dalam sekejap banyak mahakarya tersebut hancur secara menyedihkan akibat perang.
Perang jelas memiliki dampak menghancurkan yang signifikan terhadap warisan budaya dan sejarah dunia, sering kali merusak situs bersejarah, artefak berharga dan bangunan ikonik yang melambangkan identitas suatu bangsa, atau bahkan peradaban manusia.
Istana Golestan yang bersejarah di Taheran. Rusak parah.
Berikut adalah beberapa contoh bangunan dan situs bersejarah yang rusak akibat perang, berdasarkan data hingga awal 2026:
1. Konflik di Iran (2026)
Laporan terbaru pada Maret 2026 menunjukkan lebih dari 56 situs budaya dan museum di Iran mengalami kerusakan akibat serangan udara, termasuk:
Golestan Palace (Taheran): Situs Warisan Dunia UNESCO ini mengalami kerusakan pada arsitektur, kaca patri, ornamen kayu, dan plafon berukir.
Chehel Sotoun Palace (Isfahan): Istana dari abad ke-17 ini rusak parah, termasuk lukisan sejarah dan panel kayu ukirannya.
Jameh Mosque (Isfahan): Salah satu masjid tertua di Iran yang juga terdaftar sebagai situs UNESCO.
Falak-ol-Aflak Fort (Lorestan): Kompleks benteng kuno yang museumnya hancur.
2. Konflik di Ukraina (2022-2026)
UNESCO mendokumentasikan kerusakan pada puluhan situs budaya akibat invasi Rusia, di antaranya:
Pusat Kota Lviv (Situs warisan dunia UNESCO):Beberapa bangunan bersejarah rusak akibat serangan drone pada Maret 2026, termasuk Biara Bernardine abad ke-17.
Gereja Saint-Sophia dan Biara Kyiv-Pechersk Lavra: Situs keagamaan ikonik yang terancam dan mengalami kerusakan di Kyiv.
Musium dan gereja di Chernihiv dan Kharkiv: Banyak bangunan keagamaan dan museum bersejarah hancur.
3. Timur Tengah (Suriah, Irak, Gaza)
Kota kuno Palmyra (Suriah): Kerusakan parah pada kuil-kuil kuno (seperti Kuil Bel) akibat kelompok ekstremis selama konflik.
Kota tua Aleppo (Suriah): Masjid Agung Aleppo dan benteng bersejarah rusak akibat pertempuran.
Sabil of Sultan Abdul Hamid (Gaza): Bangunan bersejarah di Gaza yang rusak akibat agresi militer.
Musium Nasional Irak (Baghdad): Penjarahan artefak berharga saat invasi 2003.
4. Contoh Lainnya
Buddha Bamiyan (Afghanistan): Penghancuran patung Buddha raksasa yang bersejarah oleh Taliban.
Kota tua Dubrovnik (Kroasia): Kerusakan bangunan bersejarah saat perang Yugoslavia tahun 1990-an.
Jembatan tua Mostar (Bosnia): Hancur saat perang Balkan.
Upaya perlindungan menggunakan simbol "Perisai Biru" (Blue Shield) sering dilakukan, namun seringkali tidak cukup untuk mencegah kerusakan struktural akibat serangan militer modern.
Kerusakan lainnya
Selain yang telah disebutkan sebelumnya, terdapat banyak situs sejarah dan warisan budaya lain di berbagai belahan dunia yang mengalami kerusakan parah akibat konflik bersenjata hingga awal tahun 2026:
1. Sudan (Konflik 2023–2026)
Perang saudara di Sudan telah menyebabkan kerusakan besar pada warisan peradaban Nil kuno:
Musium Nasional Sudan (Khartoum): Dilaporkan mengalami penjarahan skala besar dan kerusakan signifikan. Sekitar 90% koleksi museum, termasuk mumi berusia 3.000 tahun dan koleksi emas arkeologi, dilaporkan hancur atau dicuri oleh kelompok paramiliter.
Situs Naqa dan Musawwarat es-Sufra: Dua Situs Warisan Dunia UNESCO dari era Kerajaan Kush ini menjadi medan pertempuran dan dikelilingi ranjau darat setelah serangan udara pada Januari 2024.
Piramida Meroe: Meskipun tidak hancur total, kurangnya pemeliharaan akibat perang menyebabkan kerusakan struktural pada batu pasir akibat cuaca dan aktivitas manusia yang tidak terkontrol di zona penyangga.
2. Yaman (Konflik Berkelanjutan)
Yaman kehilangan banyak arsitektur bata lumpur yang unik:
Kota Tua Sana'a: Banyak rumah menara bertingkat yang khas rusak akibat serangan udara dan kurangnya perawatan selama konflik.
Benteng Kairo (Cairo Citadel): Situs bersejarah ini sempat digunakan sebagai barak militer, menjadikannya sasaran serangan yang merusak struktur aslinya.
Pusat Warisan Musik Yaman: Institusi yang menyimpan rekaman musik tertua di Yaman ini dijarah dan dihancurkan.
3. Tambahan di Kawasan Timur Tengah & Sekitarnya (Laporan 2026)
Berdasarkan pemantauan UNESCO (2026), serangan militer di awal tahun 2026 juga berdampak pada:
Kota Putih Tel Aviv (Israel): Mengalami kerusakan akibat dampak serangan udara dalam eskalasi konflik regional Maret 2026.
Situs Kuno Tirus (Lebanon): Kota pelabuhan bersejarah ini juga tercatat mengalami kerusakan struktural dalam periode konflik yang sama.
Situs Prasejarah Lembah Khorramabad (Iran): Bangunan-bangunan di sekitar situs kuno ini terkena dampak ledakan serangan udara pada Maret 2026.
4. Contoh Bersejarah Lainnya (Pasca-Perang)
Situs Nimrud dan Hatra (Irak): Penghancuran sengaja menggunakan bahan peledak dan buldoser oleh kelompok ekstremis pada tahun 2015.
Musium Nasional Afghanistan (Kabul): Sempat hancur dan kehilangan sebagian besar koleksinya selama perang saudara tahun 1990-an sebelum upaya restorasi dimulai.
Upaya untuk memulihkan dan melindungi situs bersejarah yang rusak akibat perang melibatkan kerja sama internasional yang sangat kompleks, mulai dari pendanaan darurat hingga penggunaan teknologi canggih.
Hingga Mei 2026, berikut adalah rincian bantuan dan metode restorasi yang sedang berjalan:
1. Bantuan Keuangan dan Dukungan Internasional
Dana Darurat UNESCO & Swedia: Pada April 2026, pemerintah Swedia mengucurkan dana sebesar 12 juta SEK (sekitar 18 miliar Rupiah) melalui UNESCO khusus untuk pelestarian warisan budaya di Ukraina hingga 2027. Secara keseluruhan, biaya pemulihan sektor budaya Ukraina diperkirakan mencapai hampir USD 9 miliar untuk sepuluh tahun ke depan.
Aliansi ALIPH: UNESCO dan International Alliance for the Protection of Heritage in Conflict Areas (ALIPH) memperbarui kerja sama mereka (2026–2029) untuk mendistribusikan bantuan teknis dan pendanaan langsung di zona konflik aktif seperti Sudan, Gaza, dan Iran.
Dukungan Jepang & Italia di Odesa: Jepang dan Italia membiayai perbaikan darurat untuk monumen ikonik seperti Katedral Transfigurasi dan Museum Seni Rupa Odesa.
2. Teknologi dan Metode Restorasi Modern
Karena kondisi yang tidak aman, para ahli seringkali tidak bisa datang langsung ke lokasi. Oleh karena itu, metode berikut digunakan:
Pemantauan Satelit & Drone: UNESCO bekerja sama dengan UNOSAT untuk melakukan penilaian kerusakan secara remote menggunakan citra satelit resolusi tinggi untuk memetakan situs yang tidak terjangkau, seperti di Gaza dan Iran.
Digitalisasi 3D Laser Scanning: Sebelum restorasi fisik dimulai, situs-situs yang terancam didokumentasikan menggunakan pemindaian laser 3D untuk membuat model digital yang presisi, sehingga bangunan tersebut bisa dibangun kembali dengan akurasi 100% jika hancur total.
"First Aid" Warisan Budaya: Melibatkan pelatihan bagi komunitas lokal untuk melakukan stabilisasi struktur darurat agar kerusakan tidak semakin parah akibat cuaca atau penjarahan sebelum restorasi permanen dilakukan.
3. Perlindungan Hukum dan Diplomasi
Berbagi Koordinat Situs: UNESCO telah membagikan koordinat geografis situs-situs Warisan Dunia (seperti Istana Golestan di Iran) kepada semua pihak yang bertikai untuk mencegah serangan udara yang tidak disengaja.
Kampanye Anti-Penjarahan: Internasional melalui ICOM mengaktifkan "Daftar Merah" untuk mencegah penjualan artefak yang dijarah dari museum di Sudan dan Irak di pasar gelap internasional.
4. Fokus pada "Warisan Takbenda"
Selain bangunan, mulai 2026 UNESCO meluncurkan inisiatif baru untuk digitalisasi tradisi lisan, musik, dan tarian dari komunitas yang terpaksa mengungsi akibat perang, agar identitas budaya mereka tidak hilang meskipun bangunan fisik mereka hancur.
Terlepas dari upaya upaya restorasi tersebut di atas, kondisi beragam situs tersebut sangat menyedihkan, korban perang. Itulah sebabnya, perang merupakan suatu keputusan konyol yang sering dilakukan manusia, namun akan terus ada sepanjang manusia mendiami bumi. Betul kata sebagian orang, bumi akan lebih indah dan lebih baik tanpa kehadiran manusia.
Penulis: Dr. Aam Bastaman (Ketua Senat Universitas Trilogi)
Sumber data: UNESCO (2026) dan Open access
Photo: Istimewa