Saat Dunia Mulai Retak
Oleh: Wirendra Tjakrawerdaja
Selama berdekade-dekade, masyarakat dibuai oleh narasi besar bahwa kemajuan adalah garis lurus yang akan terus menanjak menuju kemakmuran abadi. Kita diajarkan percaya bahwa setiap hari esok akan selalu lebih canggih dan lebih kaya daripada hari ini. Tapi saya harus menyampaikan kenyataan yang pahit; mitos kemajuan itu telah berakhir. Data global melalui Human Development Index (HDI) dan Quality of Life Index menunjukkan bahwa kesejahteraan manusia sebenarnya telah mencapai puncaknya pada tahun 2016 dan terus menurun sejak saat itu. Penting untuk dicatat bahwa tren penurunan ini terjadi jauh sebelum pandemi COVID menghantam, membuktikan bahwa kerusakan sistem kita bersifat struktural, bukan aksidental.
Kita tidak sedang menghadapi krisis sementara, melainkan sebuah proses keruntuhan masyarakat atau societal collapse yang sedang berlangsung. Keruntuhan ini bukanlah sebuah peristiwa tunggal yang dramatis layaknya film kiamat Hollywood, melainkan runtuh perlahan pada fondasi kehidupan modern yang selama ini kita anggap stabil. Pengakuan terhadap realitas ini bukanlah tanda menyerah, melainkan prasyarat strategis untuk mulai membangun model baru di atas sistem ekonomi yang kini mulai tidak menentu.
Untuk memahami mengapa tatanan ini mulai retak, kita harus membedah "kode sumber" dari krisis ini, yaitu sistem moneter kita yang ekspansionis. Hampir seluruh uang yang beredar saat ini diciptakan melalui hutang oleh bank swasta. Karena sistem ini membebankan bunga pada hutang yang sejak awal uangnya tidak pernah diciptakan ke dalam sistem, maka secara matematis ekonomi dipaksa untuk terus tumbuh secara eksponensial hanya agar tidak kolaps. Inilah jantung dari "Imperial Modernitas".
Tuntutan pertumbuhan ini bukanlah pilihan kebijakan, melainkan keharusan mekanis yang memaksa manusia untuk terus mengeksploitasi alam demi membayar bunga hutang yang terus menumpuk. Di Indonesia, mekanisme ini terlihat nyata saat hutan-hutan kita dikonversi menjadi komoditas ekspor demi mengejar angka Produk Domestik Bruto.
Ketika institusi keuangan global mencoba menyelamatkan sistem ini dengan membeli obligasi korporasi secara masif, mereka sebenarnya hanya memicu inflasi global yang menggerogoti daya beli rakyat kecil. Kita sedang terjebak dalam sistem yang mencoba melawan batas fisik planet ini dengan manipulasi finansial, sebuah pertarungan yang mustahil dimenangkan karena ekonomi tidak bisa lagi berkompromi dengan batas daya dukung bumi.
Realitas fisik menunjukkan bahwa kita telah berada dalam kondisi ecological overshoot sejak tahun 1970-an. Artinya, manusia telah mengkonsumsi sumber daya lebih cepat daripada kemampuan bumi untuk memulihkannya. Saat ini biosfer kita sedang menunjukkan tanda-tanda "Critical Slowing Down" dan "Flickering", sebuah kondisi di mana alam kehilangan kemampuannya untuk pulih dari guncangan sebelum akhirnya mengalami transisi mendadak menuju kehancuran.
Narasi mengenai "teknologi hijau" atau decoupling yang menjanjikan pertumbuhan tanpa merusak alam terbukti merupakan ilusi yang berbahaya, karena efisiensi teknologi justru seringkali memicu konsumsi yang lebih tinggi. Lebih dari itu, kontaminasi bahan kimia permanen (forever chemicals) dan mikroplastik telah meresap ke dalam setiap jaring makanan, mengancam kesehatan jangka panjang manusia secara sistemik. Bagi negeri kita, peringatan ekologis ini bukan sekadar teori jauh di sana, melainkan ancaman langsung terhadap stabilitas sosial dan kedaulatan nasional yang mulai terasa di garis depan kerusakan hutan dan pesisir kita.
Studi kasus peradaban Maya mengajarkan bahwa deforestasi masif adalah penyebab bagi runtuhnya sebuah peradaban, terutama melalui munculnya wabah penyakit. Di negeri ini penghancuran hutan tropis demi melayani global supply chain telah meningkatkan stres pada satwa liar, yang kemudian memicu pelepasan patogen atau pathogen shedding. Kita secara tidak sadar sedang mengundang pandemi berikutnya yang akan melumpuhkan ekonomi yang justru ingin kita bangun melalui pembukaan lahan tersebut. Ini adalah lingkaran setan yang menghancurkan stabilitas nasional.
Bangsa kita sebagai bagian dari Global South memiliki urgensi strategis untuk melakukan "Great Reclamation" atau Reklamasi Besar. Ini bukan sekadar gerakan lingkungan, melainkan upaya berani untuk melepaskan diri atau decoupling dari tatanan imperial yang sedang sekarat. Kita harus mengambil kembali kendali atas sumber daya alam untuk kepentingan domestik dan kedaulatan pangan, daripada terus membiarkan kekayaan alam kita dikuras demi menopang gaya hidup masyarakat industri di negara-negara utara yang juga sedang menuju keruntuhan.
Menghadapi kenyataan bahwa dunia mulai retak memang memerlukan keberanian intelektual yang luar biasa. Dalam buku "Breaking Together" atau Runtuh Bersama, yang ditulis oleh Profesor Jem Bendell mengajak kita untuk melepaskan identitas sebagai konsumen yang rakus dan mulai membangun kembali koneksi yang lebih dalam dengan sesama manusia beserta alam. Ini adalah yang namanya ekolibertarianisme, sebuah kebebasan radikal untuk saling peduli tanpa harus dipaksa oleh sistem kekuasaan uang.
Di tengah tantangan zaman ini, nilai-nilai kemanusiaan universal, kasih sayang, empati, kebahagiaan kolektif, dan keseimbangan batin menjadi fondasi baru bagi cara hidup yang lebih bijaksana. Mengakui keruntuhan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah aksi reklamasi kekuatan diri dari sistem yang selama ini memanipulasi kita melalui rasa takut. Meskipun tatanan modern mungkin runtuh, kreativitas dan solidaritas kita tetap bisa tumbuh lebih kuat, memungkinkan kita untuk menavigasi masa depan dengan lebih tenang dan terhubung di tengah dunia yang sedang berubah.
Jakarta Selatan, April 2026
Penulis: Wirendra Tjakrawerdaja (Petani Regeneratif dan Praktisi Permakultur)
Editor: Aam Bastaman (Akademisi Universitas Trilogi)