Gelas Metafora yang Jujur Tentang Batas

Oleh: Dedi Priadi

(Editor: Aam Bastaman)

Gelas itu adalah metafora yang jujur tentang batas. Di dalamnya, ada yang tenggelam dalam riuh rendah kata-kata manusia, dan ada yang mengapung dalam heningnya percakapan dengan Tuhan.

Nabi Ya’qub '𝘢𝘭𝘢𝘪𝘩𝘪𝘴 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮 memahami ini dengan pengalaman perih yang mendalam. Baginya, kehilangan Yusuf '𝘢𝘭𝘢𝘪𝘩𝘪𝘴 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮 bukan sekadar perkara hilangnya seorang anak, melainkan sebuah ujian tentang ke mana arah kiblat sebuah aduan.

Ketika kita menumpahkan duka ke telinga sesama, kita sebenarnya sedang membangun penjara dari gema suara kita sendiri. Kata-kata itu, sekali terlepas, tak lagi menjadi milik kita sepenuhnya.

Ada risiko besar di sana: kita menjadi tawanan dari mereka yang pernah mendengar rapuhnya kita. Rahasia yang berpindah tangan seringkali berubah menjadi beban yang menindih martabat pelan-pelan.

Manusia, betapapun baiknya, memiliki batas pada empati. Aduan yang berulang seringkali hanya menjadi kebisingan yang menjemukan, atau lebih pahit lagi, menjadi bahan tontonan di sebuah etalase percakapan.

Ya’qub '𝘢𝘭𝘢𝘪𝘩𝘪𝘴 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮 memilih jalan yang sunyi namun kokoh. "𝘋𝘪𝘢 (𝘠𝘢’𝘲𝘶𝘣) 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣: '𝘚𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘥𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘴𝘶𝘴𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘥𝘪𝘩𝘢𝘯𝘬𝘶, 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘵𝘢𝘩𝘶𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘦𝘵𝘢𝘩𝘶𝘪'." (QS. Yusuf: 86).

Mengadu kepada manusia ibarat menulis di atas air yang bergolak. Pesannya lekas hilang, namun basahnya menyisakan perih panas yang menusuk tulang, meninggalkan kita dalam ketidakpastian yang tidak berujung.

Membawa luka ke atas sajadah adalah tindakan paling radikal dalam mencintai diri sendiri. Di sana, rahasia tidak bocor; ia justru diolah oleh waktu menjadi kekuatan yang tidak kasat mata.

Luka yang dibawa ke hadapan Tuhan adalah jangkar di tengah badai. Ia tidak membuatmu tenggelam, melainkan menahan jiwamu agar tetap tegak saat ombak dunia mencoba menyeretmu ke dasar.

Seringkali kita lupa bahwa Tuhan adalah satu-satunya pendengar yang tidak mengenal kata bosan. Di hadapan-Nya, pengaduan duka bukan sebuah kelemahan, melainkan proses penyucian hati dari kerak nafsu.

Lihatlah akhir sejarah Ya’qub '𝘢𝘭𝘢𝘪𝘩𝘪𝘴 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮; kesunyian pengaduannya berbuah pertemuan yang mustahil dengan Yusuf '𝘢𝘭𝘢𝘪𝘩𝘪𝘴 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮. Keajaiban tidak lahir dari banyaknya telinga yang mendengar, tapi dari ketulusan satu pengaduan ke langit.

Ingatlah, luka yang kau pamerkan kepada manusia hanya akan menjadi tontonan, tapi luka yang kau bawa ke atas sajadah akan menjadi tuntunan.

Maka, biarlah dunia melihat ketenangan pada wajahmu, seolah tak ada badai yang menerjang. Jadilah merdeka dengan hanya bersimpuh pada-Nya, karena hanya di sanalah duka menemukan jalan pulangnya.

www.priaditest.com

Photo: The Positive Habits

Editor: Dr. Aam Bastaman (Ketua Senat Universitas Trilogi)

Aam BastamanComment