PUASA SEBAGAI PROSES DETOKSIFIKASI (PENGHILANG RACUN ) TUBUH
Oleh: Nur Richana
Secara fisik puasa dapat menurunkan glukosa darah, kolesterol, trigliserida, mengurangi berat badan dan mencegah penyakit hipertenis, diabetes, bahkan cancer. Badan jadi sehat terhindar dari penyakit. Tidak semua orang yang berpuasa mencapai seperti hal tersebut, dan Allah telah memberikan petunjuk bagaimana berpuasa yang benar melalui ajaran Rasulullah S.A.W. yaitu jenis makanan dan cara makan seperti tauladan Rasulullah S.A.W.
Selama puasa senyawa yang terhidrolisis di sepuluh hari pertama adalah dari sumber karbohidrat yang relatif mudah terhidrolisis (diantaranya timbunan glikogen di hati). Kemudian dimulai hari ke 10 sampai hari akhir puasa yang terhidrolisis atau terurai dalam proses metabolism adalah timbunan protein dan lemak yang dalam hal ini sebagai kolesterol. Dengan terurainya protein dan lemak dimualai hari ke 10, akan menghasilkan energi untuk aktivitas kita se hari-hari, dan sisanya ammonia dan sulfur, senyawa ini keluar melalui mulut kita, sehingga mulut kita mengeluarkan bau. Dan semakin hari (lama puasa ) semakin bau. Walupun dinyatakan bau mulut orang berpuasa nantinya bagaikan bau kasturi (maka tidak perlu khawatir tentang bau mulut). Semakin bau semakin banyak racun (glikogen, kolesterol, trigliserida) di tubuh kita semakin banyak berkurang. Diharapkan diakhir puasa timbunan yang menyebabkan racun di tubuh sebagian besar sudah hilang, sehingga puasa dapat sebagai proses detoksifikasi.
Dari hasil analisis pola perubahan glukosa darah dan kolesterol selama bulan puasa di siang hari, maka ternyata bahwa semakin banyak orang menggunakan energi disiang hari maka lebih banyak timbunan senyawa yang tidak dikehendaki terhidrolisis menjadi energi. Dengan kata lain detoksifikasi menjadi lebih optimum. Oleh karena itu saat puasa di siang hari lebih aktif lebih baik dibanding tidur.
Hal tersebut tidak sesuai dengan hadist yang berbunyi:
“Dari Abdullah bin Abu Aufa RA, bahwasanya Rasulullah S.A.W bersabda: “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. Diamnya adalah tasbih, doanya adalah doa yang mustajab. Pahala amalannya pun akan dilipat gandakan”. (HR. Baihaqi).
Ternyata hadist tersebut adalah hadist yang dhoif. Syaikh Al Albani dalam silsilah Adh Dhoifah no 4696 mengatakan bahwa hadist ini adalah hadist yang dhoif (lemah). Jadi sebaiknya di bulan puasa ramadhan di siang hari jangan mengurangi beraktivitas bahkan sebaiknya lebih aktif, dalam arti tetap keluar rumah mencari nafkah, perbanyak beribadah solat wajib dan solat sunah, membaca al-Quran, tetap berdhikir dan sedekah. Bagaimana dapat atau mampu bersedekah kalau tidak mencari nafkah. Berdasarkan hal tersebut maka puasa tidak merubah aktivitas sehari-hari dalam mencari manfaat dunia akherat. Hanya kelebihan dalam puasa Allah memberikan pahala yang berlipat ganda. Dan semakin dijaga makannya sesuai sunah Rasulullah, dan juga semakin banyak aktivitas yang dilakukan di siang hari, apalagi dengan rutinitas beribadah yang meningkat, maka semakin tinggi energi yang keluar dan semakin tinggi senyawa yang terakumulasi di dalam tubuh dapat terhidrolisis dengan kata lain semakin banyak aktivitas, semakin tinggi tingkat detoksifikasinya selama Ramadhan.
Tulisan ini sepenggal dari disertasi S3, di Pendidikan Agama Islam, UIKA 2022. Nur Richana
Prof. Dr. Nur Richana, Prof. Riset dari Balai Besar Tanaman Industri.
Editor: Dr. Aam Bastaman