Siklus dan Komponen Demografi
Drs Abd Munir, S.Sos.,M.Sc.,M.M, Sekretaris JuKen Provinsi Kalimantan Selatan
GEMARI.ID-BANJARMASIN. Kita mengenal tiga hal penting dalam transisi demografis, yakni komponen fertilitas, mortalitas dan migrasi. Ketiga bagian kehidupan itu saling berkaitan tak terpisahkan. Dalam siklus demografi kehidupan manusia dimulai dengan fertilitas tinggi dan mortalitas pun tinggi. Hal ini disebabkan oleh belum ditemukannya metode, cara naupun obat mencegah kehamilan. Ketiadaan birth control tersebut di atas mutlak berdampak terhadap menjamurnya kelahiran terjadi di mana mana di muka bumi. Namun, sementara obat-obatan, ilmu kedokteran dan kesadaran manusia semuanya belum memadai pada waktu itu, sehingga angka mortalitas pun juga tinggi jadi fertiliras dan mortalitas impas alias sama lalu apa yang terjadi? AGR (Annual Growth Rate) atau pertumbuhan penduduk amat lamban.
Setelah berabad-abad berlalu, fase berikutnya obat-obatan ditemukan ilmu kedokteran semakin maju dan pola hidup membaik sehingga berdampak positif pada kesehatan dan mortalitas pun berangsur turun. Namun pada awalnya fertilitas tetap tinggi. Akan tetapi, setelah cara dan metode KB dierima dan dipraktikkan masyarakat luas otomatis pertumbuhan dan pertambahan penduduk melambat, yang terjafi adalah AGR rendah. Untuk daerah tertentu yang kaya SDA Sumatera dan Kalimantan dan terdapat banyak pabrik seperti Jakarta dan sekitarnya walaupun fertilitasnya rendah tetap dipadati penduduk yang mengadu nasib kesana.
Fenomena "di mana ada gula di situ ada semut" sungguh berlaku di dunia ini. Ingat kita dengan penemuan benua Australia yang pada awalnya didiami segelintir suku Aborigin kini dipenuhi ratusan juta penduduk dari pelbagai bangsa di dunia khususnya Eropah, Cina dsn India, karena di sana kaya sumber daya alam. Tak berbeda dengan "Nusantara kita memiliki kolam susu bahkan tongkat dan kayu jadi tanaman". Orang Minang, Bugis- Makassar, Madura, Jawa dan Banjar merantau melangka buana hingga Malaysia dan Arab Saudi demi mencari kehidupan yang lebih mewah. Mobilitas penduduk dan migrasi seumur hidup berdampak negatif terhadsp SDM asal mereka karena mereka tak lagi membangun daerah asalnya dan ketika itu SDM lokal merosot (brain drain). Dengan kata lain SDM di daerah tujuan meningkat kuantitas dan kualitanya (brain grain).
Masih ingatkah kita tragedi Sampit di awal dasawarsa 2000-an, mengklaim ratusan korban jiwa. Puluhan ribu orang Madura terpaksa harus balik ke kampung halaman mereka meningalkan aset dan bisnis yang sudah dibangun puluhan tahun lebih. Pertumbuhan penduduk yang cepat yang tak diimbangi dengan pertambahan makanan penduduk akan berebut makanan yang memicu pertumpahan darah, begitu teori Thomas Robert Malthus abad ke-18 (Population grows geometrically and subsistence grows arithmatically).