Lengkung Gula Global: Lompatan Konsumsi, Paradoks Produksi, dan Jalan Leapfrog untuk Indonesia

Serial Tropikanisasi-Kooperatisasi (25)

Oleh: Agus Pakpahan

Abstrak

Artikel ini menelusuri transformasi konsumsi gula global selama 125 tahun dan menempatkan Indonesia sebagai negara dengan lompatan konsumsi paling ekstrem di dunia. Dengan memetakan empat fase sejarah—era kolonial, awal demokratisasi pasca perang, ledakan industri pangan modern, dan plateau konsumsi global pada 2025—artikel ini menunjukkan bagaimana konsumsi gula Indonesia meningkat lebih dari dua belas kali lipat, dari kurang dari 2 kg/kapita pada 1900 menjadi 23–24 kg/kapita pada 2025. Lompatan ini terjadi bersamaan dengan perubahan struktural global: negara-negara maju mulai menurunkan konsumsi karena krisis kesehatan, sementara negara berkembang mengalami kenaikan yang melambat. Di tengah dinamika tersebut, Indonesia justru memasuki paradoks strategis: konsumsi domestik meledak dan melampaui batas aman WHO, tetapi sistem produksi nasional gagal melakukan lompatan teknologi dan kelembagaan sehingga Indonesia tetap menjadi importir gula terbesar dunia.

Artikel ini mengidentifikasi dua lompatan besar yang terlewat: (1) lompatan konsumsi yang tidak sehat akibat dominasi gula tersembunyi dalam produk industri, dan (2) lompatan sistem produksi global yang gagal diikuti Indonesia, ketika negara-negara produsen utama telah beralih ke biorefinery, etanol, dan gula spesial bernilai tinggi. Ketertinggalan ini menciptakan dilema kebijakan antara sektor pertanian yang mengejar swasembada gula kristal dan sektor kesehatan yang harus menurunkan konsumsi gula nasional. Tanpa integrasi, kedua agenda ini saling meniadakan.

Sebagai jalan keluar, artikel ini menawarkan strategi leapfrog generasi ketiga yang menempatkan Indonesia langsung pada sistem pergulaan modern yang terintegrasi. Strategi ini mencakup redefinisi swasembada menjadi kemandirian pemanis berkelanjutan, diversifikasi tebu menuju bioenergi dan pemanis alternatif bernilai tinggi, transformasi pabrik gula menjadi biorefinery, desain pajak minuman berpemanis sebagai instrumen transformasi struktural, serta penguatan kelembagaan petani sebagai fondasi sistem. Artikel ini menegaskan bahwa masa depan pergulaan Indonesia bukanlah soal mengejar tonase gula kristal, melainkan membangun sistem yang secara simultan menyejahterakan petani, mengurangi ketergantungan impor, dan melindungi kesehatan publik.

***

Pendahuluan: Dari Kemewahan Kolonial ke Beban Kesehatan Global

Gula telah menempuh perjalanan transformatif yang ekstrem dalam 125 tahun terakhir. Dari komoditas mewah yang menjadi simbol status di dunia Barat pada 1900, gula kini telah berubah menjadi bahan pangan massal global yang justru membawa beban kesehatan yang mahal. Artikel ini tidak hanya melacak evolusi numerik konsumsi gula dunia, tetapi juga menganalisis implikasi strategisnya bagi Indonesia, yang terjebak dalam paradoks: di satu sisi terdorong untuk meningkatkan produksi demi swasembada, di sisi lain diharuskan mengendalikan konsumsi demi kesehatan nasional. Melalui analisis data konsumsi per kapita dari 1900 hingga proyeksi 2025, kita akan melihat bagaimana Indonesia mengalami lompatan konsumsi paling spektakuler di dunia, justru di saat arah pasar global sedang berubah drastis.

Peta Lompatan Konsumsi Global: Sebuah Narasi dari 1900 hingga 2025

Evolusi konsumsi gula dunia dapat dibaca sebagai sebuah drama geopolitik dan ekonomi yang terbagi dalam empat Bagian penting, dengan Indonesia sebagai pemeran yang mengalami transformasi paling dramatis.

Bagian I: Era Kolonial (1900) – 

Ketimpangan yang Menyolok

Pada awal abad ke-20, dunia terbelah tajam. Rata-rata konsumsi global hanya sekitar 5 kilogram per kapita per tahun, namun angka ini hanyalah topeng. Di jantung negara-negara industri seperti Inggris dan Amerika Serikat, masyarakat telah mengonsumsi 15 hingga 20 kilogram per kapita per tahun—gula telah menjadi bagian dari gaya hidup modern. 

Sebaliknya, di wilayah-wilayah tropis penghasil gula, termasuk Hindia Belanda (Indonesia), konsumsi lokal terpinggirkan, seringkali di bawah 2 kilogram per kapita per tahun. Di era ini, gula adalah simbol paradoks kolonial: diproduksi besar-besaran di selatan global, namun dinikmati terutama oleh konsumen di utara global.

Bagian II: Awal Demokratisasi (1950) – Bara yang Mulai Membara

Pasca Perang Dunia II, lanskap mulai berubah. Konsumsi global rata-rata telah melonjak tiga kali lipat menjadi sekitar 15 kilogram. Negara-negara maju semakin kecanduan rasa manis, mendekati angka lebih dari 30 kilogram per kapita. Di Indonesia, meski mulai bangkit dari tingkat yang sangat rendah, konsumsi hanya sekitar 3 kilogram. Revolusi teknologi mulai menurunkan harga, namun pola kolonial masih meninggalkan bayangannya; pertumbuhan konsumsi di negara produsen masih tertatih-tatih.

Bagian III: Ledakan dan Pergeseran (2000) – Revolusi Tersembunyi

Akhir abad ke-20 menjadi momen transformasi radikal. Konsumsi global mencapai 23 kilogram, didorong oleh revolusi industri makanan yang menyelundupkan gula sebagai "bahan baku tersembunyi" dalam ribuan produk olahan. Di negara maju, konsumsi mencapai puncaknya di kisaran 35-40 kilogram per kapita per tahun, sementara di negara berkembang seperti Meksiko dan Brasil terjadi ledakan luar biasa, dengan peningkatan 5 hingga 10 kali lipat sejak 1950. Indonesia pun terseret gelombang ini. Konsumsi meledak lima kali lipat dalam 50 tahun menjadi 15 kilogram per kapita. Namun, di balik ledakan konsumsi ini, terjadi pergeseran status yang kritis: Indonesia beralih dari calon swasembada menjadi importir neto gula yang permanen. Kita menjadi konsumen besar, namun kehilangan kedaulatan sebagai produsen.

Bagian IV: Plateau dan Paradoks (2025) – Persimpangan Jalan Global

Memasuki kuartal pertama abad ke-21, tren global membelah dua arah. Rata-rata konsumsi dunia mandek di plateau 23-24 kilogram. Negara-negara maju, disadarkan oleh krisis kesehatan, mulai mengurangi konsumsi hingga 25-30 kilogram. Sebaliknya, konsumsi gula di banyak negara berkembang masih terus menanjak, meski lajunya melambat. Di tengah persimpangan global ini, Indonesia tiba di titik kritis yang paradoksal. Konsumsi kita diperkirakan mencapai 23-24 kilogram per kapita per tahun, setara dengan rata-rata dunia—sebuah peningkatan lebih dari 12 kali lipat sejak era kolonial. Namun, pencapaian ini adalah “kemenangan pahit”. Angka ini telah melampaui 2.5 kali lipat batas aman kesehatan WHO (9 kg/tahun), dan 60%-nya kini berasal dari gula "tersembunyi" dalam produk industri. Kita berhasil “mendemokratisasikan” rasa manis, tetapi sekaligus mengimpor krisis kesehatan dan ketergantungan impor.

Analisis Integratif: Dua Lompatan Besar dan Paradoks Indonesia yang Pelik

Dinamika yang dinarasikan di atas mengungkap dua lompatan besar (great leaps) yang menciptakan dilema strategis yang mendalam bagi Indonesia.

1. Lompatan Konsumsi Domestik yang Eksplosif dan Tidak Sehat

Indonesia mengalami peningkatan konsumsi paling spektakuler secara global, dari tingkat terendah (<2 kg/kapita per tahun) menjadi setara dengan rata-rata dunia (23-24 kg/kapita per tahun). Ini merupakan peningkatan lebih dari 12 kali lipat dalam 125 tahun, sebuah "keberhasilan" demokratisasi rasa manis yang luar biasa. Namun, keberhasilan ini palsu. Angka ini telah melampaui 2.5 kali lipat batas aman yang direkomendasikan WHO (9 kg/kapita/tahun). Lebih berbahaya lagi, pola konsumsi telah bergeser: 60% kini berasal dari gula tersembunyi dalam produk industri, yang sulit dikendalikan individu. Implikasinya adalah beban ganda: beban ekonomi sebagai importir gula terbesar dunia dan beban kesehatan akibat epidemi diabetes dan obesitas yang biayanya mencapai puluhan triliun rupiah per tahun.

2. Lompatan Sistem Produksi Global yang Terlewatkan

Sementara konsumsi melesat, Indonesia justru gagal melakukan lompatan di sisi produksi. Kita tetap terpaku pada tujuan lama: swasembada gula kristal putih (SHS) standar. Sementara itu, arena kompetisi global telah bergeser. Negara produsen utama telah melakukan lompatan generasi:

· Thailand & Brasil: Tidak hanya efisien, tetapi telah berinvestasi besar dalam biorefinery dan diversifikasi ke etanol.

· India: Mengembangkan program etanol nasional yang ambisius.

· Global: Nilai tambah bergeser ke gula spesial (organik, berkelanjutan, rendah GI).

Implikasi: Strategi Indonesia yang hanya "kejar volume murah" menjadi sangat berisiko dan ber-margin tipis di pasar global yang jenuh dan penuh dengan pemain yang sudah lebih maju.

Paradoks Kebijakan Inti:

Indonesia terjepit di antara dua tujuan yang tampak bertentangan:

· Sektor Pertanian: Mendesak peningkatan produksi untuk swasembada, menyerap tenaga kerja, dan hemat devisa.

· Sektor Kesehatan: Memiliki mandat untuk menurunkan konsumsi guna mengendalikan krisis penyakit tidak menular.

Tanpa integrasi, kedua kebijakan ini akan saling menggagalkan. Peningkatan produksi tanpa diversifikasi hanya akan membanjiri pasar domestik yang seharusnya dibatasi. Sebaliknya, kampanye pengurangan konsumsi tanpa jalan keluar bagi petani tebu akan menimbulkan gejolak sosial.

Jalan Keluar: Strategi Leapfrog Integratif untuk Indonesia

Menghadapi realitas ini, Indonesia tidak perlu mengulangi seluruh tahapan keliru negara lain. Kita harus melakukan lompatan generasi ketiga (leapfrog) langsung menuju sistem yang integratif dan berkelanjutan.

1. Redefinisi "Swasembada": Dari Gula Konsumsi ke Kemandirian 

Pemanis Berkelanjutan

Swasembada harus didefinisikan ulang sebagai "kemampuan memenuhi kebutuhan pemanis dan bio-energi nasional dengan sumber daya domestik yang berkelanjutan dan sehat". Ini mencakup:

· Diversifikasi Produk Tebu ke Etanol: Mengalihkan sebagian besar produksi tebu ke program bahan bakar nabati (BBN), menciptakan pasar alternatif yang besar dan mengurangi ketergantungan pada pasar gula pangan.

· Pengembangan Pemanis Alternatif Premium: Membangun industri gula aren dan kelapa yang terorganisir, bernilai ekspor tinggi, dan lebih sehat (indeks glikemik rendah).

· Transformasi Pabrik Gula Menuju Biorefinery: Memberi insentif agar Pabrik Gula (PG) menghasilkan tiga produk: gula, etanol, dan listrik, sehingga pendapatan petani tidak bergantung pada satu komoditas saja.

2. Kebijakan Fiskal yang Cerdas dan Transformasional

Daripada menghindari, Indonesia harus merancang Pajak Minuman Berpemanis (SSB Tax) sebagai alat transformasi sistemik.

· Struktur: Dikenakan progresif berdasarkan kadar gula, mendorong industri melakukan reformulasi produk.

· Alokasi Pendapatan: Di-earmark khusus untuk:

  1. Dana Diversifikasi Petani Tebu (DDPT): Membiayai transisi ke tebu energi, pemanis alternatif, dan teknologi biorefinery.

  2. Dana Pencegahan dan Penanggulangan Diabetes (DPPD): Untuk program edukasi dan kesehatan komunitas.

· Hasil: Tercipta siklus vertuous dimana konsumsi tidak sehat dikendalikan, dana untuk transformasi sektor hulu tersedia, dan beban fiskal kesehatan jangka panjang diredam.

3. Penguatan Kelembagaan Petani sebagai Fondasi

Semua strategi akan gagal tanpa kelembagaan petani yang kuat. Model koperasi petani tebu yang profesional (seperti di Maharashtra, India) adalah prasyarat mutlak. Koperasi yang kuat memberi petani:

· Kekuatan tawar menghadapi pabrik dan pasar.

· Skala ekonomi untuk mengakses teknologi, pembiayaan, dan pasar diversifikasi.

· Kepastian untuk perencanaan jangka panjang, lepas dari fluktuasi harga musiman.

Bagian V: Kesimpulan: Masa Depan Bukanlah tentang Tonase, tetapi tentang Sistem

Lengkung sejarah konsumsi gula global mengajarkan satu pelajaran pahit: demokratisasi konsumsi gula murah berujung pada krisis kesehatan yang mahal. Indonesia telah sampai di ujung lengkung konsumsi itu. Kita tidak punya kemewahan waktu untuk menjadi raksasa produsen gula kristal dahulu, lalu baru berurusan dengan epidemi diabetes.

Peluang leapfrog kita terletak pada membangun sistem pergulaan nasional yang terintegrasi secara holistik sejak awal. Sebuah sistem dimana:

· Kesejahteraan petani didorong oleh pasar bioindustri dan pemanis alternatif bernilai tinggi, bukan semata oleh pasar gula konsumsi yang harus dibatasi.

· Kebijakan Kesehatan dan Pertanian saling memperkuat dalam kerangka "Sistem Pangan dan Kesehatan" yang utuh.

· Kemandirian diartikan sebagai kedaulatan dalam mengelola sumber daya untuk menciptakan petani yang sejahtera dan konsumen yang sehat.

Oleh karena itu, masa depan gula Indonesia bukanlah pertanyaan teknis: "Bisakah kita memproduksi 6-7 juta ton gula kristal sendiri?" Masa depan itu adalah pertanyaan strategis: "Dapatkah kita menciptakan sistem yang menghasilkan kemakmuran dari tebu dan pemanis lokal tanpa mengorbankan kesehatan bangsa?" Jawaban atas pertanyaan itulah yang akan menentukan keberhasilan swasembada sejati di abad ke-21.

Penulis: Prof. Agus Pakpahan, Ph.D (Rektor Universitas Koperasi Indonesia - Ikopin University).

Editor: Dr. Aam Bastaman (Ketua Senat Universitas Trilogi).

Daftar Pustaka

1. Food and Agriculture Organization (FAO). (2023). FAOSTAT: Sugar Crops and Sweeteners Data. [Data time-series on production, consumption, and trade]. Rome: FAO.

2. Mintz, S. W. (1985). Sweetness and Power: The Place of Sugar in Modern History. New York: Viking Penguin.

3. Popkin, B. M., & Hawkes, C. (2016). Sweetening of the global diet, particularly beverages: patterns, trends, and policy responses. The Lancet Diabetes & Endocrinology, 4(2), 174-186.

4. World Health Organization (WHO). (2015). Guideline: Sugars intake for adults and children. Geneva: World Health Organization.

5. World Health Organization (WHO). (2022). Global report on diabetes. Geneva: World Health Organization.

6. International Sugar Organization (ISO). (2023). Sugar Yearbook 2023: Market Analysis, Statistics, and Forecasts. London: ISO.

7. Basanta, R., & Kumar, D. (2021). The Brazilian Sugar-Energy Sector: A Model for Sustainable Diversification? In Bioenergy and Biofuel from Biowastes and Biomass. American Society of Civil Engineers.

8. Babu, S., & Karthikeyan, C. (2020). The Indian Sugar Industry: Diversification into Ethanol and its Socio-Economic Impact. Indian Journal of Agricultural Economics, 75(3).

9. Kementerian Pertanian Republik Indonesia. (2023). Outlook Tebu dan Gula 2023. Jakarta: Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian.

10. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2023. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.

11. Global Burden of Disease Collaborative Network. (2023). Global Burden of Disease Study 2021: Results. Seattle, United States: Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME).

12. Thow, A. M., Downs, S. M., & Mayes, C. (2018). Fiscal policy to improve diets and prevent noncommunicable diseases: from recommendations to action. Bulletin of the World Health Organization, 96(3), 201-210.

13. Brazilian Sugarcane Industry Association (UNICA). (2023). Annual Sustainability Report 2023. São Paulo: UNICA.

14. Office of the Cane and Sugar Board, Thailand. (2023). Thailand Sugar Annual Report 2023. Bangkok: Ministry of Industry.

15. Indian Sugar Mills Association (ISMA). (2023). Ethanol Blending Programme: Progress and Roadmap. New Delhi: ISMA.

Aam BastamanComment