MENTALITAS-DEMOKRASI EKONOMI-KEPUASAN KREASI
Serial Tropikanisasi-Kooperatisasi (15)
BUMA-NKRI: Menjawab Belenggu Path Dependent Masa Lalu dengan Revolusi Mentalitas, Demokrasi Ekonomi, dan Kepuasan Kreasi untuk Indonesia.
Oleh: Agus Pakpahan
ABSTRAK
Indonesia terjebak dalam warisan mentalitas kolonial selama 80 tahun pasca-kemerdekaan: ekonomi ekstraktif berorientasi ekspor bahan mentah, hierarki ekonomi feodal, dan budaya konsumtif impor. Ketiga patologi ini menjelaskan mengapa Indonesia gagal melakukan transformasi struktural meski memiliki sumberdaya alam melimpah. Esai ini menganalisis pembelajaran dari heroisme Tata Tea India, kapabilitas R&D Malaysia, salipan industri Vietnam, kebangkitan American Crystal Sugar Company, dan kejayaan P3GI Pasuruan pada masa lalu, kemudian mengusulkan BUMA-NKRI (Badan Usaha Milik Anggota-Negara Koperasi Republik Indonesia) sebagai solusi transformasional. Dengan 199 juta anggota dan modal awal Rp 199 triliun, BUMA-NKRI dirancang untuk memutus mentalitas kolonial sekaligus membangun kedalaman kapabilitas industri berbasis kepuasan kreasi.
BAGIAN 1: DIAGNOSIS TIGA PATOLOGI KRONIS EKONOMI INDONESIA
Warisan Mentalitas Kolonial yang Tak Kunjung Usai
Pada 2025, Indonesia masih berkutat dengan masalah yang sama seperti 1945. Laporan Bappenas 2024 menunjukkan 73% ekspor masih berbentuk bahan mentah atau setengah jadi. Pola warisan kolonial Belanda—bangun infrastruktur untuk mengalirkan komoditas secepatnya ke pelabuhan—telah menjadi "path dependency" yang sulit diputus.
Hausmann dalam analisis Huayou Cobalt menyebutnya "kegagalan fokus"—kita mencoba membangun terlalu banyak sektor sekaligus tanpa pernah mendalami satu pun hingga mencapai dominasi global. Hasilnya adalah "sindrom seribu proyek setengah jadi" yang menghabiskan energi tanpa menghasilkan transformasi struktural.
BPK 2023 mengidentifikasi 37 proyek strategis beroperasi di bawah 40% kapasitas. Pabrik gula rafinasi terbesar Asia Tenggara beroperasi 60 % kapasitas, fasilitas komponen kereta api 78% komponennya masih impor. Pola ini berulang: investasi fisik tanpa program sistematis membangun kapabilitas pendukung.
Tiga Patologi Utama:
1. Mentalitas Ekstraktif: SDA dilihat sebagai komoditas, bukan modal intelektual.
2. Hirarki Ekonomi Feodal: 1% populasi mengontrol hampir 50% kekayaan nasional.
3. Budaya Konsumtif Impor: Defisit neraca teknologi US$ 15 miliar/tahun.
BAGIAN 2: GURU-GURU INTERNASIONAL DAN PELAJARAN YANG TAK TERDENGAR
Heroisme Tata Tea dan Kemerdekaan Ekonomi Sejati.
Ketika Ratan Tata mengakuisisi Tetley of Britain pada 2000 setelah perjuangan 25 tahun (1975-2000), itu adalah puncak perjuangan kemerdekaan ekonomi. Filosofinya: India belum merdeka selama perusahaan Inggris mengontrol distribusi teh di India sendiri. Tata Tea menghabiskan seperempat abad membangun "kata terpanjang" dalam industri teh—dari perkebunan hingga distribusi global.
Kontras dengan Indonesia: kita memiliki perkebunan teh, tetapi tidak ada merek teh Indonesia yang menjadi pemain global. Mentalitas "cepat ke pelabuhan" masih terlalu kuat.
Kapabilitas Malaysia yang Diam-Diam Mengagumkan
Ketika harga komoditas pertanian jatuh 1980-an, Malaysia berinvestasi dalam R&D pertanian. Data Hendrick menunjukkan pada 1995, Malaysia melampaui AS dalam pengeluaran R&D pertanian per kapita. Hasilnya: Malaysia menguasai 34% pasar oleokimia global, sementara Indonesia—produsen sawit terbesar—hanya 15%.
Salipan Vietnam yang Mengagetkan
Pada 1990, PDB per kapita Vietnam hanya 30% dari Indonesia. Kini rasio telah berbalik. Ekspor manufaktur Vietnam US$ 300 miliar (2024) vs Indonesia US$ 145 miliar. Rahasia Vietnam: memahami prinsip Hausmann—mulai dari "pohon" tepat dengan kapabilitas existing, dan kesabaran strategis 15 tahun membangun fondasi.
Kebangkitan American Crystal Sugar Company
Tahun 1972, American Crystal Sugar Company—perusahaan gula terdaftar di NYSE—bangkrut. Yang membelinya bukan konglomerat, tetapi koperasi petani bit yang dipimpin Aldrich C. Bloomquist--bapak industri gula bit koperasi di Red River Valley, North Dakota, Amerika Serikat. Koperasi ini membeli American Crystal Sugar Company senilai US$ 86 juta pada 1973 setara dengan nilai nominal sekarang: Rp 1,43 triliun atau nilai riil (setelah inflasi): Rp 10–11 triliun pada saat sekarang. (2025). Bukan suatu nilai transaksi kecil.
Pendapatan American Crystal Sugar Coop pada 2024 tercatat: US $931.8 juta atau sekitar Rp 15,51 triliun sekarang. Nilai ini jauh lebih besar daripada pendapatan SugarCo – PT Sinergi Gula Nusantara, subholding PTPN III Holding, tercatat sekitar Rp1,09 triliun pada tahun 2024. Ternyata, pendapatan satu koperasi petani gula bit di AS hampir 10 kali lipat pendapatan BUMN Gula Indonesia.
Transformasi di atas mengajarkan:
· Dari shareholder value ke stakeholder value
· Mentalitas pemilik vs mentalitas karyawan
· Kepuasan kreasi kolektif mengatasi superioritas teori manajemen individual.
Hasilnya: Koperasi American Crystal Sugar kini menguasai 15% pasar gula AS, produktivitas 40% di atas rata-rata nasional.
Kejayaan P3GI Pasuruan dan Mentalitas Kreasi yang Hilang
Tahun 1928, para direktur pabrik gula di Jawa mendirikan Proefstation Oost Java (cikal bakal P3GI) sebagai respon terhadap ancaman gula bit Eropa. Mereka tidak menunggu pemerintah, tetapi mandiri membangun pusat riset terbesar dunia tropis. Ini mencerminkan:
· Kepuasan kreasi sebagai driver inovasi
· Investasi jangka panjang dalam pengetahuan (3% revenue untuk riset)
· Kolaborasi kompetitif
P3GI menghasilkan 300 varietas unggul dan teknologi pemurnian yang membuat gula Jawa menjadi standar kualitas dunia pada zamannya.
Sistem Bagi Hasil: Bukti Keampuhan Model Partisipatif
Pada tahun 1998, dalam LOI (Letter of Intent) IMF-GOI dinyatakan bahwa Pemerintah Indonesia perlu menutup seluruh pabrik gula yang tidak efisien di Jawa. Sebagai respon terhadap LOI tersebut, Direktorat Jenderal Perkebunan mengambil langkah-langkah berikut:
Pertama, melakukan evaluasi seluruh pabrik gula di Jawa. Hasil utamanya adalah bahwa memang benar sebagian besar Pabrik Gula di Jawa berada pada posisi tidak efisien. Namun demikian masih terdapat potensi besar untuk memperbaikinya. Karena itu diusulkan kepada IMF bahwa industri gula akan ditingkatkan efisiensi dan produktivitasnya.
Kedua, disadari bahwa gula itu diproduksi di kebun tebu, bukan di pabrik gula. Pabrik gula hanyalah memeras kandungan gula yang ada di dalam tebu.
Ketiga, karena itu petani tebu menjadi pelaku utama dalam menghasilkan gula. Untuk mengkonsolidasikan energi produksi gula di perkebunan tebu maka untuk pertama kalinya dibentuk Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) pada 1999. APTRI menjadi mitra utama perusahaan gula dan juga Pemerintah. Sistem Pembiayaan produksi tebu oleh petani dilaksanakan dengan menerapkan model Dana Talangan.
Pola bagi hasil yang sudah lama diterapkan tetapi minus APTRI, sejak 1999 menjadi plus APTRI. Dalam 10 tahun data menunjukkan trend produksi yang meningkat yaitu produksi gula melonjak dari 1,49 juta ton (1998) menjadi 2,64 juta ton (2008) —kenaikan 77% dalam satu dekade.
Sayang sekali evolusi selanjutnya pola pengelolaan di atas diubah menjadi pola "beli-putus". Data menunjukkan bahwa setelah tahun 2008 produksi gula merosot kembali. Inovasi yang tidak berlanjut.
Padahal, Negeri Gajah Putih, Thailand, membuktikan 100% tebu diproduksi petani, artinya tidak ada perusahaan pabrik gula menggarap kebun tebu (menguasai lahan), dengan menerapkan bagi hasil gula 70% untuk petani dan 30% untuk perusahaan gula swasta, dengan kelanggengan model ini Thailand menjadi eksportir gula terbesar kedua dunia hingga sekarang. Penguasaan lahan seperti HGU oleh perusahaan selain menyebabkan sistem produksi tidak efisien juga menciptakan “free rider” yaitu perusahaan memanfaatkan HGU tersebut untuk kolateral saat meminjam uang ke bank padahal lahan tersebut milik negara.
BAGIAN 3: BUMA-NKRI SEBAGAI TEROBOSAN INSTITUSIONAL
Arsitektur Revolusioner BUMA-NKRI
BUMA-NKRI dirancang sebagai koperasi nasional dengan 199 juta anggota dan simpanan pokok @Rp 1 juta (total Rp 199 triliun). Ini bukan sekadar konsep finansial, melainkan jawaban institusional untuk memutus ketiga patologi kronis sebagaimana telah diuraikan.
Struktur Kepemilikan & Governance:
199 Juta Anggota → 514 Dewan Kabupaten/Kota → 38 Dewan Provinsi → Dewan Nasional
Setiap level memiliki otonomi operasional dengan koordinasi strategis. Sistem hybrid menggabungkan musyawarah deliberatif, voting digital, dan validasi teknokrat.
Transformasi Tiga Dimensi:
1. Dari Mentalitas Ekstraktif Menjadi Kreatif
BUMA-NKRI mengubah logika nilai melalui:
· Prinsip Kepemilikan Kolektif: Orientasi dari "berapa banyak keruk" menjadi "berapa nilai cipta"
· Mekanisme Reinvestasi Berjenjang: 70% keuntungan untuk R&D dan pengembangan kapabilitas
· Kultur Pembelajaran Kolaboratif: Knowledge sharing dan innovation sandbox
2. Dari Hierarki Menjadi Demokrasi Ekonomi
BUMA-NKRI membangun arsitektur demokrasi ekonomi dengan:
· Struktur Kepemilikan Berbasis Akar Rumput
· Sistem Pengambilan Keputusan Hybrid
· Mekanisme Akuntabilitas Berlapis: Transparansi real-time, audit partisipatif, recall mechanism
3. Dari Konsumsi Menjadi Produksi
BUMA-NKRI membangun ekosistem produksi sirkular:
· Model Industrialisasi Partisipatif: Co-production dan micro-factory network
· Mekanisme Substitusi Impor Berjenjang (3 tahap 20 tahun)
· Sistem Inovasi Terbuka: Problem-solution marketplace, innovation bounty, technology commons
BAGIAN 4: KEPUASAN KREASI SEBAGAI JIWA TRANSFORMASI
Revolusi Mental: Industrialisasi dengan Jiwa
Industrialisasi bukan sekadar pendirian pabrik, tetapi pembangunan budaya industri. Bappenas 1990-an merumuskan tujuh pilar budaya industri yang hilang:
1. Pengetahuan sebagai landasan keputusan
2. Kemajuan teknologi sebagai instrumen utama
3. Mekanisme pasar sebagai media transaksi
4. Efisiensi dan produktivitas sebagai dasar alokasi
5. Mutu dan keunggulan sebagai orientasi
6. Profesionalisme sebagai karakter
7. Perekayasaan sebagai inti nilai tambah
Ketujuh pilar hanya bisa berdiri dengan kepuasan kreasi—kenikmatan intrinsik dalam mencipta, memperbaiki, dan menyempurnakan.
BUMA-NKRI sebagai Wadah Kepuasan Kreasi Kolektif
BUMA-NKRI menghidupkan kembali semangat P3GI masa lalu dalam skala nasional:
· Research Commons: Membangun P3GI modern dengan 38 node penelitian
· Innovation Pipeline: Mekanisme dari ide hingga komersialisasi melibatkan seluruh anggota
· Creator Culture: Setiap anggota adalah co-creator, bukan sekadar pekerja
Restorasi Sistem Bagi Hasil Berbasis Kreasi
BUMA-NKRI akan menerapkan sistem bagi hasil 70:30 seperti Thailand, tetapi diperkaya dengan:
· Innovation Incentive: Bonus untuk inovasi dari tingkat petani hingga pabrik
· Knowledge Equity: Pengakuan kepemilikan intelektual sebagai kontribusi modal
· Collective Learning: Platform berbagi pengetahuan antar-anggota
BAGIAN 5: ROADMAP IMPLEMENTASI 30 TAHUN
Fase Konsolidasi & Fondasi (Tahun 1-5)
· Pembangunan arsitektur governance dan sistem digital
· Pilot project 3 rantai nilai: baterai EV, oleokimia, bio-farmasi
· Restorasi sistem penelitian nasional ala P3GI sewaktu berjaya.
Fase Akumulasi Kapabilitas (Tahun 6-15)
· Penguasaan teknologi kunci dalam setiap rantai nilai
· Ekspasi ke 5 rantai nilai tambahan
· Pembangunan innovation ecosystem terintegrasi
Fase Dominasi Kreatif (Tahun 16-30)
· Menjadi pemain global top-3 dalam 3 rantai nilai
· Ekspor teknologi dan pengetahuan, bukan sekadar komoditas
· Pembayaran dividen pertama kepada anggota
Studi Kasus: Revolusi Gula Generasi Ketiga
Mengintegrasikan pembelajaran dari American Crystal Sugar, P3GI, dan Thailand:
· Tahun 1-5: Konversi pabrik gula menjadi unit BUMA-NKRI + sistem bagi hasil 70:30
· Tahun 6-15: Pengembangan 10 produk turunan bernilai tinggi
· Tahun 16-30: Menjadi pemain utama pasar gula global dengan "Indonesian Sugar Standard"
BAGIAN 6: TANTANGAN DAN MITIGASI
Political Capture
· Risiko: Elite politik menguasai BUMA-NKRI
· Mitigasi: Desain governance multi-layer dengan checks & balances ketat
Inefisiensi Birokrasi
· Risiko: Struktur besar menyebabkan lambat dalam keputusan
· Mitigasi: Otonomi operasional unit bisnis dengan target kinerja jelas
Kompetensi Manajerial
· Risiko: Tidak cukup talenta kelas dunia
· Mitigasi: Program fellowship global + rekrutmen internasional + insentif berbasis kinerja
Transisi dari Subsidi
· Risiko: Penolakan masyarakat terhadap pengalihan subsidi
· Mitigasi: Komunikasi transparan + pilot project sukses + manfaat tangible
PENUTUP: DARI WARISAN KOLONIAL MENUJU WARISAN KREASI
Kisah American Crystal Sugar membuktikan model kooperatif bisa mengalahkan korporasi kapitalis. Sejarah P3GI menunjukkan industrialis Indonesia pernah memiliki mentalitas kreasi kelas dunia. Pengalaman sistem bagi hasil membuktikan model partisipatif bisa meningkatkan produktivitas dramatis.
BUMA-NKRI adalah sintesis dari semua pelajaran ini—baik dari guru internasional maupun sejarah sendiri. Ia menjawab kegagalan industrialisasi kita yang bukan karena kurang sumber daya, tetapi karena absennya kepuasan kreasi sebagai jiwa pembangunan.
Seperti kata pendiri P3GI dalam laporan 1938: "Kita tidak berbisnis gula, kita membangun peradaban melalui sains dan teknologi." Inilah semangat yang harus kita hidupkan kembali.
Dalam bahasa Hausmann: "Kita sedang menyusun kata terpanjang dalam sejarah ekonomi Indonesia—kata yang akan ditulis oleh 199 juta penulis bersama-sama."
BUMA-NKRI bukan sekadar tentang membangun industri. Ia tentang membangkitkan jiwa kreatif bangsa yang tertidur selama 80 tahun—dari warisan kolonial menuju warisan kreasi.
---
Tropikanisasi-Kooperatisasi adalah gerakan intelektual untuk menemukan model ekonomi Indonesia asli yang memadukan kearifan tropis dengan prinsip kooperasi modern.
Penulis: Prof. Agus Pakpahan, Ph.D (Rektor Universitas Koperasi Indonesia - Ikopin University).
Editor: Dr. Aam Bastaman (Ketua Senat Universitas Trilogi).