BUMA-HEROISME EKONOMI
Serial Tropikanisasi-Kooperatisasi (14)
Heroisme Tata Tea, Kapabilitas Malaysia dan Salipan Vietnam sebagai Guru yang Semestinya Membangunkan Indonesia: Jalan Keluar dari Jebakan Kolonialisme Masa Lalu.
Oleh: Agus Pakpahan
Abstrak
Indonesia terjebak dalam pola pikir kolonial yang sama selama 80 tahun sejak kemerdekaan: ekonomi ekstraktif berorientasi ekspor bahan mentah. Tiga guru di sekitar kita—heroisme Tata Tea India, kapabilitas R&D Malaysia, dan salipan industri Vietnam—menunjukkan jalan keluar yang jelas.
Esai ini membedah ketiga model tersebut dan mengusulkan transformasi melalui BUMA-NKRI (Badan Usaha Milik Anggota-Negara Koperasi Republik Indonesia) sebagai institusi yang mampu memutus mentalitas kolonial sekaligus membangun kedalaman kapabilitas industri.
Pembuka: Jebakan 80 Tahun yang Tak Kunjung Usai
Pada 2025, Indonesia masih berkutat dengan masalah yang sama seperti 1945: bagaimana mengubah sumber daya alam menjadi kemakmuran sejati. Laporan Bappenas 2024 menunjukkan 73% ekspor kita masih berbentuk bahan mentah atau setengah jadi. Pola ini adalah warisan kolonial Belanda yang terinstitusionalisasi sempurna: bangun infrastruktur untuk mengalirkan komoditas secepatnya ke pelabuhan, ekspor ke negara maju, dan impor produk jadi.
Yang lebih berbahaya adalah bahwa mentalitas ini telah menjadi "path dependency" yang sulit diputus. Hausmann dalam analisisnya tentang Huayou Cobalt menyebutnya "kegagalan fokus"—kita mencoba membangun terlalu banyak sektor sekaligus tanpa pernah mendalami satu pun hingga mencapai dominasi global. Hasilnya adalah "sindrom seribu proyek setengah jadi" yang menghabiskan energi tanpa menghasilkan transformasi struktural.
Tiga negara tetangga—India dengan heroisme korporasi nasionalnya, Malaysia dengan disiplin R&D-nya, dan Vietnam dengan lompatan industrinya—telah menunjukkan bahwa jalan keluar itu mungkin. Mereka adalah guru yang berteriak keras, tetapi sayangnya, telinga kita masih tertutup oleh gemerincing proyek-proyek instan.
Pelajaran Pertama: Heroisme Tata Tea dan Kemerdekaan Sejati
Ketika Ratan Tata memutuskan untuk mengakuisisi Tetley of Britain pada 2000, sekitar $450 juta, ini bukan sekadar transaksi bisnis. Ini adalah puncak perjuangan 25 tahun (1975-2000) mewujudkan kemerdekaan ekonomi sejati yang direncanakan. Filosofinya sederhana namun mendalam: India belum benar-benar merdeka selama perusahaan Inggris masih mengontrol distribusi teh India di Inggris.
Akuisisi Tetley—perusahaan teh terbesar kedua di Inggris—adalah pernyataan politik: kini perusahaan India mengontrol distribusi teh di Inggris. Ini adalah pembalikan lengkap hubungan kolonial. Yang lebih penting, Tata Tea tidak melakukan diversifikasi prematur. Mereka menghabiskan seperempat abad membangun "kata terpanjang" dalam industri teh: dari perkebunan, processing, blending, branding, hingga distribusi global.
Kontras dengan Indonesia: kita memiliki ratusan perkebunan teh, tetapi tidak ada satu pun merek teh Indonesia yang menjadi pemain global. Kita masih berkutat pada ekspor teh bulk ke perusahaan multinasional yang kemudian menjualnya kembali ke kita dengan harga premium. Mentalitas "cepat ke pelabuhan" masih terlalu kuat.
Pelajaran Kedua: Kapabilitas Malaysia yang Diam-Diam Mengagumkan
Ketika harga riil komoditas pertanian dunia jatuh pada 1980-an, Malaysia tidak panik dan mencoba diversifikasi ke 10 sektor baru sekaligus. Sebaliknya, mereka melakukan investasi strategis yang tampaknya membosankan: R&D pertanian.
Data Hendrick menunjukkan bahwa pada 1995, Malaysia telah melampaui Amerika Serikat dalam pengeluaran R&D pertanian per kapita. Mereka tidak hanya meneliti bagaimana meningkatkan yield kelapa sawit, tetapi bagaimana menciptakan seluruh spektrum produk turunan—dari oleokimia hingga farmasi.
Hasilnya? Hari ini Malaysia menguasai 34% pasar oleokimia global, sementara Indonesia—produsen sawit terbesar dunia—hanya menguasai 15%. Malaysia membangun kedalaman kapabilitas, sementara kita membangun luas tanpa kedalaman. Mereka menghabiskan 20 tahun membangun "kata terpanjang" dalam oleokimia, sementara kita sibuk melompat dari satu proyek ke proyek lain.
Pelajaran Ketiga: Salipan Vietnam yang Memalukan
Pada 1990, PDB per kapita Vietnam hanya 30% dari Indonesia. Hari ini, rasio tersebut telah berbalik. Vietnam bukan hanya mengejar, tetapi telah melampaui kita dalam banyak hal:
· Ekspor manufaktur Vietnam: US$ 300 miliar (2024)
· Ekspor manufaktur Indonesia: US$ 145 miliar (2024)
Rahasia Vietnam? Mereka memahami prinsip Hausmann dengan sempurna: mulailah dari "pohon" yang tepat dengan kapabilitas existing. Vietnam tidak mencoba langsung membuat iPhone; mereka mulai dengan komponen elektronik sederhana, kemudian secara bertahap naik kelas hingga menjadi hub manufaktur elektronik global.
Yang lebih penting, Vietnam memiliki kesabaran strategis. Mereka menghabiskan 15 tahun (1995-2010) membangun fondasi—infrastruktur, pendidikan vokasi, reformasi birokrasi—sebelum melesat dalam dekade berikutnya. Mereka menolak godaan untuk mengejar pertumbuhan cepat dengan mengorbankan kedalaman kapabilitas.
Diagnosis Indonesia: Penyakit Kolonial yang Kronis
Ketiga guru tersebut mencerminkan tiga defisit Indonesia:
1. Defisit Heroisme Nasional: Kita tidak memiliki visi kemerdekaan ekonomi sejati seperti Tata Tea. Mentalitas "yang penting ekspor" masih terlalu dominan.
2. Defisit Kedalaman Kapabilitas: Seperti Malaysia, kita kaya sumber daya, tetapi tidak mau investasi serius dalam R&D dan pembangunan kapabilitas jangka panjang.
3. Defisit Kesabaran Strategis: Seperti Vietnam, kita perlu visi 20-30 tahun, tetapi terjebak dalam siklus politik 5-tahunan.
BPK melaporkan 37 proyek strategis mangkrak atau beroperasi di bawah 40% kapasitas karena integrasi hulu-hilir tidak pernah dibangun. Ini adalah gejala klasik mentalitas kolonial: bangun fisiknya dulu, pikirkan kapabilitasnya nanti.
Jalan Keluar: BUMA-NKRI sebagai Terobosan Institusional
BUMA-NKRI (Badan Usaha Milik Anggota-Negara Koperasi Republik Indonesia) yang diusulkan—dengan 199 juta anggota dan simpanan pokok @Rp 1 juta—bukan sekadar konsep finansial. Ia adalah jawaban institusional untuk memutus ketiga defisit tersebut.
Pertama, BUMA-NKRI menciptakan "heroisme kolektif" ala Tata Tea. Dengan 199 juta pemilik, setiap keputusan bisnis dievaluasi berdasarkan: "Apakah ini membangun kemerdekaan ekonomi rakyat atau melanjutkan ketergantungan?"
Kedua, BUMA-NKRI memungkinkan investasi R&D massive ala Malaysia. Dengan modal awal Rp 199 triliun, alokasi 5% untuk R&D berarti Rp 10 triliun per tahun—setara dengan budget LIPI, BPPT, dan BRIN digabungkan.
Ketiga, BUMA-NKRI memberikan kerangka waktu 30-tahun yang diperlukan untuk membangun kedalaman kapabilitas ala Vietnam. Sebagai koperasi, ia melampaui siklus politik dan bisa berpikir dalam generasi, bukan dalam periode pemerintahan.
Implementasi: Tiga Rantai Nilai untuk Memulai
BUMA-NKRI harus fokus pada tiga rantai nilai strategis dalam 10 tahun pertama:
1. Baterai EV & Ekosistem Kendaraan Listrik: Dari nikel hingga mobil listrik, mirip strategi Huayou di baterai.
2. Oleokimia & Biofarmasi: Dari sawit hingga produk farmasi bernilai tinggi, mengikuti jejak Malaysia.
3. Ekonomi Digital & Infrastruktur Data: Membangun kedaulatan digital Indonesia.
Setiap rantai nilai akan dikelola dengan prinsip Huayou: dominasi di satu "pohon" sebelum melompat ke pohon lain.
Penutup: Dari Guru ke Aksi
Tata Tea, Malaysia, dan Vietnam telah memberikan pelajaran yang jelas. Sekarang pertanyaannya: apakah kita memiliki keberanian untuk belajar?
BUMA-NKRI bukan solusi instan. Ia membutuhkan revisi mendasar terhadap UU Koperasi, pembangunan sistem governance yang canggih, dan yang terpenting—perubahan mentalitas dari "cepat ke pelabuhan" menjadi "sabar membangun kapabilitas".
Seperti kata Ratan Tata: "Kemerdekaan sejati adalah ketika Anda mengontrol nasib ekonomi Anda sendiri." Atau dalam bahasa Hausmann: "Transformasi memerlukan kedalaman sebelum keluasan."
Indonesia telah terjebak terlalu lama dalam pola kolonial. Saatnya bangun dan belajar dari guru-guru di sekitar kita. BUMA-NKRI bisa menjadi awal dari kemerdekaan ekonomi sejati—jika kita memiliki keberanian untuk memulainya.
Tropikanisasi-Kooperatisasi adalah gerakan intelektual untuk menemukan model ekonomi Indonesia asli yang memadukan kearifan tropis dengan prinsip kooperasi modern.
Penulis: Prof. Agus Pakpahan, Ph.D (Rektor Universitas Koperasi Indonesia - Ikopin University).
Editor: Dr. Aam Bastaman (Ketua Senat Universitas Trilogi).