Dari Agnotologi ke Aksiologi

Serial Tropikanisasi-Kooperatisasi (10)

Dari Agnotologi ke Aksiologi: Rekonstruksi Filsafat Koperasi Indonesia

Oleh: Agus Pakpahan

Pengantar: Dari Dekonstruksi ke Rekonstruksi

Jika edisi sebelumnya mengungkap bagaimana citra koperasi diruntuhkan melalui agnotologi terstruktur—produksi ketidaktahuan yang sistematis—maka edisi ini adalah respons filosofisnya. Kita telah menyaksikan sebuah paradoks: korporasi raksasa dengan kerugian triliunan dapat mempertahankan legitimasinya, sementara koperasi dengan kerugian miliaran langsung dicap sebagai "penjahat ekonomi".

Kini, kita harus menelusuri jejak agnotologi ini lebih dalam, melintasi tiga ranah filsafat: epistemologi (bagaimana kita mengetahui koperasi), ontologi (apa hakikat koperasi), dan yang terpenting, aksiologi (nilai-nilai apa yang kita bangun). Perjalanan ini akan membuktikan bahwa krisis koperasi bukan sekadar krisis manajemen, melainkan krisis cara mengetahui, krisis cara berada, dan pada akhirnya, krisis nilai.

1. Epistemologi: Agnotologi sebagai Perang Epistemik dan Perlawanan melalui Ilmu Koperasi

Cara kita mengetahui koperasi telah dikorupsi. Banyak kasus agnotologi bekerja dengan:

· Produksi Kebingungan Epistemik: Masyarakat dicegah untuk membedakan antara koperasi sebagai badan usaha sah dengan tindak pidana yang mengatasnamakannya.

· Pemiskinan Referensi: Kesuksesan koperasi nyata, dari Koperasi Kredit Keling Kumang di Hulu Kapuas hingga Arla Foods di Skandinavia, sengaja tidak dijadikan rujukan publik.

Di sinilah rumpun ilmu koperasi yang mandiri berperan sebagai penangkal. Kita memerlukan epistemologi otonom yang mampu membangun metodologi penelitian khas, indikator keberhasilan sosial-partisipatif, dan teori yang lahir dari rahim praktik koperasi sendiri.

Sebagaimana diingatkan Ki Hadjar Dewantara: “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.” Prinsip ini menegaskan bahwa pengetahuan harus memerdekakan. Epistemologi koperasi harus menjadi pendidikan yang memerdekakan anggota dari kebingungan epistemik, menjadikan mereka subjek yang berdaulat penuh.

2. Ontologi: Krisis Hakikat dan Rekonstruksi melalui Ilmu Koperasi

Dampak epistemologi yang rusak merambat ke ranah ontologis—hakikat koperasi itu sendiri. Pertanyaan mendasarnya: apa sebenarnya jati diri koperasi Indonesia modern?

· Dualisme Identitas: Koperasi diidealkan sebagai “soko guru perekonomian,” tetapi dalam praktik sering direduksi menjadi kedok investasi bodong.

· Rekonstruksi Ontologis: Ilmu koperasi harus merumuskan ontologi hybrid yang memadukan jiwa sosial koperasi tradisional dengan kompetensi bisnis modern.

Sebagaimana ditegaskan Bung Hatta: “Koperasi adalah usaha bersama untuk memperbaiki nasib penghidupan ekonomi berdasarkan tolong-menolong.” Kutipan ini menegaskan bahwa koperasi bukan sekadar organisasi bisnis, melainkan perwujudan demokrasi ekonomi yang menolak dominasi modal atas manusia. Rekonstruksi ontologis koperasi Indonesia harus kembali pada cita-cita ini: koperasi sebagai soko guru yang berakar pada solidaritas, sekaligus tangguh dalam berkompetisi.

3. Aksiologi: Rumpun Ilmu Koperasi sebagai Penjaga Nilai

Pertanyaan paling krusial: nilai-nilai apa yang harus kita bangun untuk merekonstruksi koperasi?

· Dari Amatir ke Profesionalisme Bernilai: Koperasi harus berani mengadopsi profesionalisme korporat tanpa mengorbankan jati diri.

· Etika Bisnis Koperasi: Berbeda dengan etika bisnis korporat yang berorientasi pada pemegang saham, etika koperasi berorientasi pada anggota dan komunitas, berasaskan kekeluargaan, kebersamaan, dan demokrasi ekonomi.

Seperti dikatakan Allan Schmid: “Institutions are the rules of the game, and organizations are the players.” Pandangan ini menegaskan bahwa nilai dan norma adalah jantung dari sistem ekonomi. Aksiologi koperasi berarti menyeimbangkan "nilai komunitas" dan "efisiensi kelembagaan," sehingga koperasi tetap berakar pada solidaritas sosial sambil mampu bersaing secara profesional.

4. Sintesis Filosofis: Trilogi Ilmu–Praktik–Nilai

Dari uraian di atas, kita sampai pada sintesis yang komprehensif:

· Epistemologi Mandiri: Cara mengetahui koperasi yang khas, bebas dari paradigma korporat.

· Ontologi Kontekstual: Hakikat koperasi Indonesia yang relevan dengan zaman.

· Aksiologi Transformatif: Nilai-nilai yang mentransformasi koperasi menjadi kekuatan ekonomi-sosial-budaya.

Ketiganya membentuk trilogi yang tak terpisahkan.

Penutup: Filsafat sebagai Praksis – Integralisme Ilmu dan Aksi

Perjalanan dari agnotologi menuju aksiologi ini menuntut satu prasyarat mutlak: kehadiran rumpun keilmuan koperasi yang mandiri. Tanpa fondasi keilmuan yang kuat, koperasi akan terus terjebak dalam praktikisme buta tanpa arah.

Semangat bahwa berpikir harus berimbas pada tindakan pemerdekaan bergema dalam berbagai tradisi:

· Paulo Freire: Praksis adalah siklus refleksi dan aksi.

· John Dewey: Kebenaran diuji oleh konsekuensi praktisnya.

· Aristoteles: Phronesis atau 

kebijaksanaan praktis adalah kunci.

Resonansi ini semakin kuat ketika disatukan dengan kebijaksanaan para pemikir kita:

· Ki Hadjar Dewantara dengan “Tut wuri handayani” mengajak epistemologi koperasi menjadi pendidikan pemerdekaan.

· Bung Hatta dengan definisi koperasinya menegaskan ontologi koperasi sebagai demokrasi ekonomi.

· Allan Schmid dengan teorinya mengingatkan bahwa aksiologi koperasi adalah tentang membangun institusi nilai yang hidup.

Oleh karena itu, tugas kita kini adalah membangun trilogi integral: ilmu koperasi yang mandiri, praktik koperasi yang inovatif, dan nilai koperasi yang transformatif. Kita harus:

· Membangun Institusi Keilmuan: Menciptakan pusat-pusat studi koperasi yang otonom dan kritis.

· Mengembangkan Kurikulum Holistik: Pendidikan koperasi yang mencakup filsafat, teori, dan praktik.

· Menjembatani Teori dan Praktik: Menciptakan mekanisme yang menghubungkan temuan akademik dengan kebutuhan riil di lapangan.

Koperasi masa depan yang kita idamkan haruslah koperasi yang secara epistemologis jelas, ontologis kuat, dan aksiologis inspiratif. Tantangan terbesar kita adalah mengubah koperasi dari sekadar objek kajian menjadi subjek pengetahuan yang aktif melahirkan masa depan ekonomi Indonesia: sebuah masa depan yang berdaulat, adil, dan berkelanjutan.

Penulis: Prof. Agus Pakpahan, Ph.D (Rektor Universitas Koperasi Indonesia - Ikopin University).

Editor: Dr. Aam Bastaman (Ketua Senat Universitas Trilogi).

Aam BastamanComment