Buku dan Upaya mencerdaskan Bangsa
Catatan Aam Bastaman
“Pejabat di Indonesia termasuk para politisi, tidak banyak yang memiliki kesadaran pentingnya buku sebagai sumber ilmu pengetahuan, ataupun sebagai sumber informasi. Ini disebabkan banyak pejabat yang terlalu fokus ke urusan perut (kekayaan), bahu (kekuasaan) dan pundak (pangkat), sehingga tidak sampai ke kepala (otak}”, ujar seorang pegiat buku yang mantan penjabat tinggi di Kementerian Pendidikan, berapi-api di sebuah seminar. “Ketidakseriusan kita seperti telah menjadi budaya, kita bahkan belum mampu membuat policy perbukuan nasional yang membumi”, ujarnya lagi.
Buku mencerdaskan Bangsa
Kritik yang membuat saya termenung. Padahal di Negara kita pembangunan sumber daya manusia (SDM) atau kini banyak yang menyebutnya sumber daya insani (human capital) sangat mendesak, karena pada aspek inilah kelemahan kita yang paling mendasar sebagai bangsa. Akibatnya tingkat produktifitas dan daya saing SDM kita dalam kancah persaingan dunia selalu berada pada urutan yang tidak menggembirakan.
Kurangnya perhatian pada buku dan dunia membaca menyebabkan minat baca buku masyarakat tergolong rendah. Produksi buku di Tanah Air pun minim dibandingkan jumlah populasi usia produktif. Data tahun 2018 menunjukkan Indonesia menerbitkan sekitar 30.000 judul buku per tahun. Jauh lebih rendah dibandingkan penerbitan buku di Jepang yang pada tahun 2013 saja mencapai lebih dari 85.000 buku per tahun, atau India pada tahun yang sama (2013) yang mencapai 90.000 judul buku per tahun. Apalagi dibandingkan dengan Cina, tahun 2013 saja sudah mencapai lebih dari 440.000 judul buku per tahun. Jumlah terbitan buku Indonesia hanya menyamai atau sedikit lebih tinggi dari negara-negara yang berpenduduk jauh lebih kecil, seperti Taiwan, Vietnam ataupun Malaysia.
Meskipun kini berkembang akses informasi melalui teknologi digital, seperti hadirnya ebook, namun diyakini peran buku cetak tidak bisa sepenuhnya digantikan teknologi digital. Buku cetak oleh banyak kalangan dianggap lebih menyenangkan, lebih menyehatkan, lebih mudah dipahami, memiliki sensasi dan keindahan saat kita membacanya helai demi helai, yang tidak didapatkan pada teknologi digital.
Tantangan lainnya, buku-buku yang adapun tidak terlalu banyak peminat. Selain karena rendahnya daya beli untuk buku, namun faktor lain yang sangat berpengaruh adalah rendahnya minat baca buku masyarakat. Selain itu ditenggarai Indonesia kekurangan penulis-penulis produktif yang berkualitas. Tidak banyak kaum cerdik cendekia kita yang memiliki kemampuan menulis dengan baik.
Bagaimana kebijakan pemerintah mengenai perbukuan nasinoal? Saat ini memang sudah ada Undang-Undang No. 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan dan Peraturan Pemerintah (PP) No. 75 tentang Peraturan Pelaksana UU No. 3 Tahun 2019 tentang Sistem Perbukuan, namun “gaungnya” masih belum dirasakan oleh masyarakat banyak. Banyak kalangan pegiat buku saat ini berharap Pemerintah untuk membumikan Undang-undang Sistem Perbukuan tersebut melalui kementerian terkait, dengan lahirnya Peraturan Menteri. Sehingga operasionalisasi undang-undang sistem perbukuan bisa dirasakan masyarakat banyak.
Koleksi buku
Rendahnya indeks pembangunan manusia (IPM) bahkan di tingkat ASEAN juga disinyalir karena lemahnya kontribusi variabel pendidikan yang menyebabkan kelemahan kompetensi dan produktifitas, antara lain akibat rendahnya pencapaian jenjang pendidikan yang lebih tinggi, mengakibatkan lemahnya upaya-upaya pengembangan diri, seperti yang bisa dilihat dari rendahnya minat baca buku.
Banyak para pegiat buku menilai kampanye kebiasaan membaca buku perlu dilakukan secara serius, untuk meningkatkan kecerdasan masyarakat, untuk lebih memiliki akses ke ilmu pengetahuan dan informasi. Di sini peran buku sangat strategis. Oleh karena itu perbaikan ekosistem sistem pebukuan nasional perlu perhatian mendesak.
Terdapat banyak pelaku dalam industri perbukuan, selain penulis dan penerbit, juga editor, desainer, peterjemah, pemasar, distributor, jaringan pengecer, dan lain-lain. Industri buku harus menarik baik dari segi idealise, sosial maupun (apalagi) ekonomi, kalau tidak maka akan sulit kita mengharapkan kualitas dan produktifitas penerbitan buku.
Tidak banyak penulis buku di Indonesia yang menggantungkan sumber nafkahnya dari menulis. Banyak bukti di Tanah Air profesi menulis belum bisa diandalkan sebagai tumpuan pendapatan utama. Artinya penulis di Indonesia masih hidup dari pekerjaannya yang lain, seperti dosen, ataupun pegawai profesional. Bisa dibayangkan pelaku perbukuan diluar penulis juga tidak lebih baik dari penulis itu sendiri. Kecuali pelaku penulisan dan penerbitan buku yang dibiayai oleh APBN untuk pndidikan dasar dan menengah, yang tidak merata.
Buku mencerdaskan Bangsa
Perbaikan ekosistem perbukuan diharapkan akan menjadi pemicu peningkatan produktifitas dan kualitas penerbitan di Tanah Air. Sehingga kontribusi buku dalam upaya menderdaskan kehidupan bangsa bisa berperan lebih besar.
Aam Bastaman – Sekjen Afiliasi Penerbit Perguruan Tinggi Indonesia (APPTI). Lektor Kepala di Univ. Trilogi.
Foto-foto: Istimewa (sumber open access).