Traveler Tic Talk: 'Menjadi Suami' Wanita India di Istana Gyeongbok

Seoul musim panas. Jadwal hari itu adalah mengunjungi istana Gyeongbok yang merupakan istana terbesar di Korea Selatan. Istana Gyeongbok terletak di sebelah utara kota Seoul Korea Selatan. Kalau naik Metro bisa turun di stasiun Gyeongbokgung. Istana ini termasuk dari lima istana besar dan merupakan yang terbesar yang dibangun oleh Dinasti Joseon.

Berdasarkan catatan sejarah Korea Selatan, Istana Gyeongbok aslinya didirikan tahun 1394 oleh Jeong do jeon, seorang arsitek. Istana ini hancur pada saat invasi Jepang ke Korea tahun 1592-1598 dan dibangun lagi selama tahun 1860-an dengan 330 buah kompleks bangunan dengan 5.792 kamar. Berdiri di wilayah seluas 410.000 meter persegi, Istana Gyeongbok adalah simbol keagungan kerajaan dan rakyat Korea.

Didalam istana yang sangat luas, setelah mengitari beberapa bangunan bersejarah, saya tertarik dengan bangunan istana ibu suri (istana ibu sang Kaisar), pastinya figur seorang ibu sangat  berpengaruh terhadap Kaisar. Banyak orang berkerumun mengitari istana ini, melihat-lihat, sebagian orang mengambil foto, atau selfie.

Di sebelah saya terlihat seorang bayi dibawah lima tahun, mungkin tiga tahunan  yang cakep luar biasa, digendong oleh ibunya yang masih muda  dan cantik. Saya menebak ibu muda ini kelihatannya berasal dari India.  Orang-orang yang melihat bayi ini pasti berhenti, memperhatikan,  atau sekedar tersenyum memandang kecakepan bayi ajaib ini. Bahkan ada juga yang menghampiri dan mengelus-ngelus rambutnya sambil  berkomentar mengekspresikan kekagumannya atas  kecakepan bayi ini. Warna kulitnya tidak terlalu putih, tapi mulus, memiliki hidung India yang bangir, alis agak tebal, mulutnya lucu, rambut tidak terlalu hitam,  istilah anak-anak muda sekarang mungkin mukanya menggemaskan.

Kemudian  datang dua orang wanita tua, berwajah Korea, kelihatannya sudah berumur 60-an menghampiri bayi itu.  Mereka tahu ibunya bukan orang Korea, salah seorang mengomentari bayi itu, dalam bahasa  Inggris yang terbatas. “Cute. Handsome!” ujarnya sambil melihat muka bayi  itu dan tangannya  mengelus-ngelus rambut bayi itu.  “Thank you’. Kata sang Ibu, senang anaknya dipuji.

Nenek tua itu tersenyum, sambil memandangnya. “Where are you from?” Ia  bertanya.

“India” Jawab wanita muda itu. “I am from  India.” Kedua wanita berumur 60-an  itu mengangguk-ngangguk, sambil senyumannya tidak lepas dari  bibirnya.

Kemudian salah satu wanita tua itu  memandang ke arah saya. Ia  menunjuk kearah saya, dan bertanya pada wanita muda India itu. “Is he your husband?” Tanyanya, sambail tersenyum ke arah saya.

Wanita muda India itu tersenyum geli. ”No. No…”

“Oh, sorry” Ujarnya. Sambil  menahan tawa.

Si nenek tua itu kemudian bertanya kepada saya,”Where are you from?

Saya Jawab dari Indonesia.

“Oh, is it India?” Tanyanya, ragu-ragu.

Wanita muda India itu membantu menjawab. “It’s different, Indonesia is not India. It’s different country.”

Si nenek mengngguk-ngangguk, kemudian tersenyum ke arah saya. Mengucapkan salam perpisahan. “Bye. Enjoy South Korea”.

Saya bilang terima kasih ke  wanita cantik itu, sudah membantu menjawab. Ia tersenyum. Wanita baik, kelihatan.

Hanya saja saya sedih juga, di era  gini masih ada yang belum kenal Indonesia.Tapi kemudian saya maklum, kedua nenek itu  pasti dibesarkan di jaman perang. Tidak sempat belajar mengenal dunia. Saya akhirnya menghibur diri.

Saya agak termangu, sampai ibu muda yang dianggap ‘istri saya itu’ itu  bilang “Bye, have a nive day.”, hampir  tidak kedengaran suaranya..

 Aam Bastaman: Penulis dan traveler. Kumpulan tulisannya  mengenai pelancongan dijadikan buku serial,  berjudul: Traveler Tic Talk.

Foto: Istimewa

Istana Gyeongbok.jpg
Aam BastamanComment