“SIKLUS SETAN”

Oleh: Wirendra Tjakrawerdaja

(Editor: Aam Bastaman)

Setiap suap nasi atau potongan roti di meja makan kita sebenarnya sangat bergantung pada tetesan minyak bumi. Kedengarannya aneh karena kita tidak memakan minyak, tetapi realitas dunia modern menunjukkan bahwa tanpa bahan bakar fosil, piring kita akan kosong.

 Baru-baru ini tepatnya pada tanggal 30 Juli 2026, kita merayakan “Earth Overshoot Day”. Sebuah peringatan suram di mana manusia telah menghabiskan seluruh sumber daya ekologi yang mampu diregenerasi bumi dalam setahun. Artinya sisa tahun ini kita hidup dengan "berutang" pada masa depan, sebuah tren yang sebenarnya sudah terjadi sejak tahun 1971 dengan merusak stok ikan, lapisan tanah atas, dan hutan.

Modernitas yang kita nikmati saat ini, dengan 8,3 miliar penduduk dunia, sebenarnya berdiri di atas pondasi yang sangat rentan. Selama ribuan tahun kita telah mengubah wajah planet ini dengan menggusur hutan dan padang rumput demi lahan pertanian, yang mengakibatkan penurunan biomassa mamalia liar hingga 85% dalam 50.000 tahun terakhir.

 Ekspansi lahan pertanian ini sekarang telah mencapai puncaknya dan mulai menurun. Masalahnya bukan sekadar soal luas lahan, melainkan bagaimana kita mengolahnya. Kita bisa memberi makan begitu banyak orang hanya karena teknologi pertanian canggih yang sangat bergantung pada akses tak terbatas terhadap minyak, gas alam, dan perdagangan global.

Jika kita melihat lebih dalam ke dapur industri pangan kita, hampir semuanya digerakkan oleh mesin diesel. Mesin pertanian mulai dari traktor hingga mesin pemanen menggunakan bahan bakar diesel. Bahkan bahan-bahan kunci pupuk seperti fosfat dan potas ditambang dan diangkut menggunakan alat berat yang boros bahan bakar.

 Gas alam bahkan lebih krusial lagi karena diubah menjadi amonia melalui proses Haber-Bosch untuk menghasilkan nitrat yang dibutuhkan tanaman agar bisa tumbuh. Tanpa zat-zat kimia dan plastik pembungkus yang menjaga makanan tetap segar, sebagian besar hasil panen kita akan dimakan hama atau busuk sebelum sampai ke toko. Secara mengejutkan, produksi pangan menyumbang sekitar 15% dari penggunaan bahan bakar fosil dunia.

Situasi ini diperparah oleh berbagai konflik yang sedang berlangsung di pusat-pusat energi dunia. Perang di Timur Tengah dan Ukraina bukan hanya soal politik, tetapi soal gangguan langsung pada perut kita. Ketika kilang minyak diserang dan rute pengiriman di Laut Hitam atau Laut Merah terganggu, pasokan bahan bakar dan pupuk dunia langsung tercekik.

 Militer sendiri adalah konsumen bahan bakar yang sangat rakus. Mesin perang Amerika Serikat saja bisa menghabiskan 270.000 barel bahan bakar per hari bahkan dalam masa damai. Ketika pasokan diesel menipis dan harga asuransi kapal melonjak drastis, biaya input pertanian menjadi tidak terjangkau bagi banyak petani.

Di sisi lain kita juga menghadapi gangguan baru dari dunia digital, yaitu kecerdasan buatan atau AI. Pembangunan pusat data berskala raksasa untuk mendukung perlombaan teknologi ini mengonsumsi listrik dan air dalam jumlah yang sangat besar, seringkali bersaing langsung dengan kebutuhan air untuk irigasi pertanian.

Pembangunan fisik infrastruktur ini juga memerlukan ribuan truk diesel dan alat berat yang semakin menguras stok bahan bakar dan minyak pelumas dunia. Akibat akumulasi dari perubahan iklim, perang, dan gangguan pasokan ini, panen gandum Amerika Serikat tahun ini diprediksi jatuh ke level terendah dalam 150 tahun terakhir.

Kita sedang memasuki fase di mana siklus menguntungkan dari bahan bakar murah yang menghasilkan pangan melimpah mulai berubah menjadi siklus setan. Ketersediaan bahan bakar yang semakin sedikit membuat produksi pangan semakin sulit.

 Kemungkinan besar akan memicu krisis finansial dan depresi ekonomi yang mungkin tidak pernah kita lihat sejak tahun 1930-an. Tahun 2026 dan 2027 diprediksi akan menjadi masa yang sangat sulit dengan risiko kekurangan pangan massal, kerusuhan, hingga kelaparan di beberapa tempat karena kapasitas bumi untuk menopang populasi saat ini sedang menurun drastis.

Bahkan ada pandangan yang lebih ekstrem yang menyatakan bahwa tanpa pupuk sintetis, kapasitas asli bumi untuk menampung manusia mungkin hanya di bawah 1 miliar orang. Jika asumsi teknologi modern dan perdagangan global tidak lagi bisa diandalkan, kita harus mulai menghitung kembali kemampuan lokal kita untuk bertahan hidup.

 Komunitas lokal harus mulai mengambil alih nasib mereka sendiri dengan memperbaiki ekosistem, membersihkan sungai, dan secara damai menentang proyek-proyek besar yang tidak berkelanjutan. Mencoba mempertahankan sistem ekonomi yang didasarkan pada ekstraksi tanpa batas di planet yang terbatas hanya akan mempercepat keruntuhan kita. Saat bahan bakar menipis dan mesin mulai berasap, pilihan terbaik kita adalah mulai melambat dan menepi sebelum semuanya terlambat.

Cilongok, Juli 2026.

Penulis: Wirendra Tjakrawerdaja (Petani Regeneratif dan Praktisi Permakultur).

Editor: Aam Bastaman (Akademisi Universitas Trilogi).

Aam BastamanComment