AI Token vs Carbon Credit: Mirip, Tapi Tidak Sama

Oleh: Ronny Adhikarya

(Analisa RAISA - Ronny AI Supersmart Assistant, ChatGPT staff).

Banyak yang membandingkan AI Token dengan Carbon Credit karena keduanya menggunakan satuan atau “unit” untuk mengukur sesuatu. 

Namun sebenarnya yang diukur sangat berbeda. AI Token adalah “bahan bakar digital” yang digunakan AI seperti ChatGPT untuk memproses pertanyaan, artikel, terjemahan, laporan, dan berbagai tugas lainnya. Semakin banyak dan semakin rumit pekerjaan yang dilakukan AI, semakin banyak Token yang digunakan. 

Sebaliknya, Carbon Credit digunakan untuk mengukur dan mengimbangi dampak emisi karbon terhadap lingkungan.

Persamaannya adalah keduanya dapat dihitung, memiliki nilai ekonomi, dan dapat digunakan untuk mengukur efisiensi. Perusahaan mulai melihat berapa banyak manfaat bisnis yang dihasilkan dari penggunaan AI Token, sama seperti mengukur berapa besar emisi karbon yang dihasilkan dari kegiatan operasional mereka. Dengan kata lain, keduanya merupakan alat ukur yang membantu memahami penggunaan sumber daya dan dampaknya.

*Di masa depan* kedua konsep ini akan semakin terkait. Setiap AI Token memerlukan listrik, server, chip AI, sistem pendingin data center, dan infrastruktur komputasi yang sangat besar. Para analis mulai membicarakan konsep baru yang sering disebut “AI Carbon Footprint” atau jejak karbon AI.

Suatu hari nanti perusahaan tidak hanya melaporkan pendapatan, laba, dan emisi karbon mereka, tetapi juga jumlah AI Token yang digunakan, konsumsi energi AI, serta dampak lingkungannya.

Dengan kata lain, jika Carbon Credit mengukur dampak lingkungan dari aktivitas manusia, maka AI Token dapat menjadi indikator aktivitas digital yang suatu hari nanti juga akan dikaitkan dengan jejak karbon yang dihasilkan oleh penggunaan AI tersebut.

Penulis: Ronny Adhikarya (Global Story Teller - Mantan pejabat PBB/FAO dan Bank Dunia).

Editor: Aam Bastaman (Akademisi Universitas Trilogi, Jakarta).

Aam BastamanComment