Antara Ikigai dan Merdeka: Jati Diri Perempuan Nusantara

Oleh : Dr Susetya Herawati, ST, MSi

GEMARI.ID-JAKARTA. Merujuk pada: Ikigai: Rahasia Hidup Bahagia dan Panjang Umur Orang Jepang karya Héctor García & Francesc Miralles | Berani Tidak Disukai: Fenomena dari Jepang untuk Membebaskan Diri, Mengubah Hidup, dan Meraih Kebahagiaan Sejati karya Ichiro Kishimi & Fumitake Koga. Budaya Nusantara sejak lama mengajarkan perempuan untuk menjadi penyangga.  Ada sebutan "konco wingking", ada falsafah "tangan di atas lebih baik", ada kebiasaan gotong royong sejak subuh. 

Tanpa disadari, itulah bentuk paling awal dari apa yang orang Jepang sebut Ikigai. Ikigai berarti "alasan untuk hidup" atau "alasan untuk bangun pagi". Gabungan dari iki yang berarti hidup, dan gai yang berarti nilai atau manfaat. Héctor García & Francesc Miralles dalam buku Ikigai_ menjelaskan: panjang usia penduduk Okinawa karena setiap pagi mereka memiliki alasan untuk bangun. 

Perempuan Nusantara sesungguhnya telah lebih dulu mempraktikkan esensi yang sama, jauh sebelum kata ikigai dikenal.  Memasak untuk keluarga, merawat tanaman, mengajarkan mengaji, menjajakan dagangan, menjaga silaturahmi.  Hal-hal rutin, dikerjakan dengan sepenuh hati. Itulah wujud ikigai dalam laku hidup kita. Kemudian Ichiro Kishimi & Fumitake Koga dalam buku Berani Tidak Disukai  menegaskan: kebebasan sejati dimulai ketika kita berhenti hidup untuk memenuhi harapan orang lain. 

Mereka menyebutnya "pemisahan tugas". Tugas saya adalah hidup sesuai prinsip saya. Tugas orang lain adalah menilai. Budaya kita penuh adab, penuh tenggang rasa. Itu indah.  Namun adab tidak sama dengan tunduk. Lembut tidak sama dengan kehilangan prinsip.  Perempuan Nusantara dari dulu telah membuktikannya:  R.A. Kartini, berani bersuara tentang pentingnya pendidikan bagi perempuan, tentang hak untuk menentukan jalan hidup, tentang menentang tradisi yang mengungkung. 

Nyi Ageng Serang, panglima perang dari Jawa Tengah, berani memimpin pasukan dan mengatur strategi demi membela tanah air.  Nyimas Gamparan, pahlawan perempuan dari Bekasi, berani mengangkat senjata menjaga tanah kelahirannya dari penjajah.  Dan banyak ibu-ibu abad 21 bekerja menafkahi keluarga dengan hal-hal rutin yang telah menjadi profesinya. "Berani tidak disukai"-nya berbeda: berani tetap berkarya walau dicibir "ngapain kerja", berani ambil keputusan walau dibilang "kebangetan", berani jadi diri sendiri walau standarnya beda. 

Itulah "berani tidak disukai" versi kita. Berani merdeka, namun tetap beradab. Maka demikianlah jati diri perempuan Nusantara: Ikigai sudah kita praktikkan sejak dulu. Merdeka sudah kita buktikan sejak dulu.  Karena perempuan yang sadar ikigai dan merdeka, adalah fondasi paling kokoh dalam membangun keluarga dan peradaban.  Yang perlu sekarang hanyalah tiga hal: menyadari, memberi nama, dan menjaganya dengan kesadaran penuh.

Menyadari berarti melihat bahwa hal rutin yang kita lakukan itu memiliki nilai.  Memberi nama berarti menyebutnya sebagai ikigai dan merdeka, agar ia tidak lagi dianggap sepele, melainkan identitas.  Menjaga berarti melakukannya dengan sengaja, bukan sekadar karena terbiasa.

Peran boleh bergeser seiring waktu.  Namun ikigai dan kemerdekaan batin tidak akan bergeser oleh siapa pun.  Selama tangan masih menolong, lisan masih mendoakan, hati masih bersyukur...  Maka perempuan itu tidak pernah kehilangan arah. Ia hanya sedang menegaskan kembali posisinya di antara ikigai dan merdeka. Karena sesungguhnya,  Apa yang ditulis dua buku Jepang itu... telah lebih dulu ditulis oleh laku hidup perempuan Nusantara.  Hanya saja, selama ini belum kita sebut sebagai jati diri. Penulis : Penggiat Ranah Tata Nilai, Aliansi Kebangsaan.