Martabat Manusia di Era AI:
Dapatkah Vatikan Mempengaruhi Silicon Valley?
Nota: Ronny Adhikarya (Diterbitkan: 31 Mei 2026)
berdasarkan konsultasi bersama RAISA (Ronny AI Supersmart Assistant, ChatGPT)
Tulisan berikut disusun berdasarkan berbagai laporan, pidato, dan komentar untuk publik hingga 31 Mei 2026.
Editor: Aam Bastaman
--------------------
1. Mitra Dialog Vatikan: Preaching to the Converted?
Melalui Pontifical Academy for Life, Vatikan menyelenggarakan Simposium Tingkat Tinggi tentang
Kecerdasan Buatan (AI) dan Martabat Manusia pada 25 Mei 2026, yang dikaitkan dengan ensiklik
pertama Paus Leo XIV, Magnifica Humanitas.
Sekilas, orang dapat bertanya apakah Simposium Vatikan tersebut pada dasarnya merupakan
upaya “ngajarin yang udah pinter” (preaching to the converted). Sebagian besar peserta terkemuka
berasal dari kalangan yang memang sejak awal bersimpati terhadap isu-isu martabat manusia, etika,
keadilan sosial, filsafat, teologi, dan teknologi yang bertanggung jawab. Dengan kata lain, banyak
peserta yang hadir sebenarnya telah sepakat bahwa AI harus melayani manusia, bukan mendominasi
manusia.
Tantangannya adalah bahwa pihak-pihak yang pada akhirnya akan menentukan arah masa depan AI
bukanlah para teolog, ahli etika, ataupun filsuf. Mereka adalah para eksekutif perusahaan teknologi,
insinyur, investor, wirausahawan, dan pembuat kebijakan yang memutuskan sistem AI mana yang akan
didanai, dibangun, diluncurkan, dan diperluas penggunaannya hingga miliaran orang.
Dilihat dari perspektif tersebut, tidak hadirnya banyak pemimpin tingkat tertinggi dari perusahaanperusahaan AI utama dunia menimbulkan pertanyaan yang cukup mendasar: Bisakah kita
mempengaruhi masa depan AI tanpa menghadirkan para arsitek utama AI ke dalam ruangan diskusi?
Namun demikian, akan kurang adil jika Simposium tersebut dianggap sekadar forum yang hanya
memperkuat keyakinan mereka yang sejak awal sudah sependapat. Sepanjang sejarah, banyak
transformasi sosial besar justru tidak dimulai oleh para pemimpin korporasi, melainkan oleh para
pemikir yang membentuk nilai-nilai publik dan kerangka moral masyarakat.
Tujuan Vatikan tampaknya bukan untuk merundingkan spesifikasi teknis model AI generasi berikutnya.
Sebaliknya, Vatikan berusaha mempengaruhi lingkungan etis yang lebih luas, birokrasi pemerintah,
perusahaan, universitas, dan warga masyarakat pada akhirnya akan mengambil keputusan terkait AI.
Mungkin deskripsi yang lebih tepat adalah bahwa Simposium tersebut merupakan upaya
untuk “mengubah masa depan sebelum masa depan itu tiba.” Vatikan berupaya membangun pagar
pengaman moral (moral guardrails) sebelum AI menjadi begitu tertanam dalam kehidupan manusia
sehingga sulit diatur secara efektif.
Apakah pagar pengaman moral tersebut pada akhirnya akan mempengaruhi Silicon Valley masih
merupakan pertanyaan terbuka. Namun sejarah menunjukkan bahwa gagasan sering kali dapat
berjalan lebih jauh dibandingkan teknologi itu sendiri.
2. Anthropic: Jembatan Tak Terduga antara Silicon Valley dan Vatikan
Pertanyaan yang lebih menarik adalah mengapa Vatikan tampaknya memberikan perhatian khusus
kepada Christopher Olah, Co-Founder Anthropic, ketimbang mengundang delegasi yang lebih besar dari
perusahaan-perusahaan AI global utama seperti OpenAI, Google, Meta, Nvidia, Microsoft, atau
perusahaan-perusahaan AI raksasa Tiongkok seperti Baidu, Alibaba, Tencent, dan DeepSeek, yang tidak
tampak hadir secara menonjol dalam forum tersebut.Martabat Manusia di Era AI 2
Salah satu kemungkinan penjelasannya adalah bahwa Anthropic secara sengaja memposisikan dirinya
sebagai perusahaan yang paling erat dikaitkan dengan konsep AI Safety, Responsible AI, dan
Constitutional AI.
Berbeda dengan banyak perusahaan teknologi yang menekankan kecepatan inovasi, pangsa pasar, dan
peluncuran produk, Anthropic membangun reputasi publiknya di sekitar upaya mengurangi risiko AI
serta memastikan bahwa sistem AI yang semakin canggih tetap selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Dalam pengertian tersebut, kehadiran Anthropic mungkin bukan sekadar mewakili Silicon Valley
sebagaimana adanya saat ini, melainkan mewakili visi tentang seperti apa Silicon Valley dapat
berkembang di masa depan.
Ironisnya, posisi Anthropic sendiri bermasalah dan cukup kompleks. Perusahaan ini menghadapi
tekanan persaingan yang sangat ketat dari OpenAI, Google, Meta, xAI, DeepSeek, dan berbagai pemain
lain dalam kompetisi AI yang semakin memanas.
Selain itu, Anthropic juga harus menghadapi meningkatnya pengawasan regulator di Washington dan
Eropa terkait keselamatan AI, hak cipta, transparansi, dan konsentrasi kekuatan pasar.
Akibatnya, Anthropic memainkan peran ganda yang unik: sebagian sebagai wirausahawan, sebagian
sebagai inovator, sebagian sebagai advokat keselamatan AI, dan kadang-kadang juga sebagai kritikus
terhadap industri tempat ia sendiri berkompetisi.
Hal tersebut menjadikan Anthropic peserta yang sangat menarik bagi forum Vatikan. Dalam banyak hal,
perusahaan ini berfungsi sebagai “Devil’s Advocate” dari Silicon Valley.
Bukan karena menentang martabat manusia, tetapi karena membawa pengalaman praktis dari garis
depan pengembangan AI. Ketika para filsuf membahas apa yang seharusnya dilakukan AI, perusahaan
seperti Anthropic setiap hari bergulat dengan kenyataan mengenai apa yang sesungguhnya
dapat dilakukan AI, serta risiko-risiko baru yang muncul ketika miliaran orang mulai menggunakannya.
Namun kehadiran Anthropic juga menyoroti pertanyaan lain yang sama pentingnya:
Siapa yang tidak berada di dalam ruangan tersebut?
3. Gajah yang Tidak Ada di Dalam Ruangan
Sama menariknya adalah tidak tampaknya partisipasi publik yang signifikan dari perusahaan-perusahaan
AI besar Tiongkok seperti DeepSeek, Baidu, Alibaba, dan Tencent, seperti juga korporasi AI raksasa USA.
Mengingat bahwa Tiongkok saat ini secara luas dipandang sebagai salah satu dari dua negara adidaya AI
dunia, bersama Amerika Serikat, ketidakhadiran mereka sulit untuk diabaikan.
Hal ini memunculkan pertanyaan yang cukup provokatif:
Bisakah diskusi global mengenai etika AI dan martabat manusia benar-benar berlangsung secara rinci
tanpa melibatkan salah satu ekosistem AI terbesar di dunia?
Ketika persaingan antara Washington dan Beijing semakin membentuk masa depan AI, tantangan yang
dihadapi Vatikan mungkin bukan sekadar menjembatani hubungan antara etika dan inovasi, tetapi juga
membantu menjembatani kesenjangan yang semakin melebar antara berbagai visi teknologi dan
geopolitik dunia.
Secara realistis, dialog AI yang paling menentukan dalam satu dekade mendatang mungkin bukan hanya
antara Vatikan dan Silicon Valley, melainkan antara Roma, Silicon Valley, dan Beijing.Martabat Manusia di Era AI 3
4. Paus Leo XIV dan Silicon Valley: Konflik, Konvergensi, atau Keduanya?
Sekilas, pandangan dunia yang tercermin dalam Magnifica Humanitas tampak sangat berbeda dari
budaya Silicon Valley. Paus Leo XIV menekankan martabat manusia, tanggung jawab sosial,
akuntabilitas etis, kesejahteraan masyarakat, dan perlindungan kelompok rentan. Sebaliknya, Silicon
Valley selama puluhan tahun dikenal sebagai pusat budaya yang mendukung disrupsi, inovasi,
kewirausahaan efisien, eksperimen cepat, dan percepatan teknologi.
Namun di balik perbedaan tersebut terdapat sejumlah titik temu yang cukup mengejutkan. Banyak
peneliti AI terkemuka sungguh-sungguh percaya bahwa AI dapat membantu meningkatkan pendidikan,
layanan kesehatan, penemuan ilmiah, perlindungan lingkungan, dan produktivitas ekonomi.
Salah satu bidang yang berpotensi menjadi titik temu antara Vatikan dan para inovator AI
adalah ketahanan pangan. Dalam simposium tersebut, Direktur Jenderal FAO Perserikatan BangsaBangsa, Dr. Qu Dongyu, menyoroti potensi luar biasa AI untuk meningkatkan produktivitas pertanian,
pengelolaan air, ketahanan terhadap perubahan iklim, serta sistem distribusi pangan.
Namun ia juga memperingatkan munculnya apa yang dapat disebut sebagai “Kesenjangan Ketahanan
Pangan” (Food Security Divide). Dunia dapat terbelah menjadi dua kelompok:
• Kelompok yang mampu memanfaatkan AI untuk menghasilkan lebih banyak pangan dengan sumber
daya yang lebih sedikit.
• Kelompok yang semakin tertinggal dalam ekonomi pertanian yang semakin didorong oleh teknologi.
Bahaya yang muncul bukan lagi sekadar “Digital Divide” dalam pengertian tradisional. Kini muncul
ancaman yang lebih dalam, yaitu “Food Security Divide” antara mereka yang memiliki kemampuan
memanfaatkan AI (Digital Literates) dan mereka yang tidak memiliki akses maupun kemampuan
tersebut (Digital Have-Nots).
Di banyak negara berkembang, perlombaan AI bukan terutama mengenai siapa yang mampu
menciptakan chatbot paling pintar. Pertanyaannya lebih mendasar:
Apakah petani kecil dapat menghasilkan lebih banyak pangan, memperoleh pendapatan yang lebih
baik, dan bertahan menghadapi guncangan iklim?
Bagi miliaran petani pedesaan di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, tantangan masa depan mungkin bukan
apakah AI menjadi terlalu kuat, tetapi apakah mereka memperoleh akses yang berarti terhadap manfaat
AI. Pertanyaan besarnya adalah:
“Siapa yang akan makan lebih baik karena AI, dan siapa yang mungkin tidak?”
Jadi tantangan terbesar bagi banyak negara berkembang mungkin bukan Artificial Intelligence,
melainkan Artificial Exclusion.
Dengan kata lain, baik Paus maupun banyak inovator AI pada akhirnya memiliki tujuan yang sama,
yaitu kemajuan dan kesejahteraan manusia. Perbedaannya sering kali bukan terletak pada tujuan,
melainkan pada metode, prioritas, dan tingkat risiko yang dapat diterima.
Vatikan cenderung bertanya: “Haruskah kita melakukannya?”
Silicon Valley lebih sering bertanya: “Bisakah kita melakukannya?”
Masa depan AI mungkin akan sangat bergantung pada kemampuan manusia untuk menggabungkan
kedua pertanyaan tersebut:
Teknologi tanpa etika dapat menjadi berbahaya. Etika tanpa inovasi dapat menjadi tidak relevan.Martabat Manusia di Era AI 4
5. Ketika Paus Berbicara tentang AI, Apakah Silicon Valley Mendengarkan?
Berdasarkan berbagai komentar publik dan diskusi industri, reaksi Silicon Valley terhadap Magnifica
Humanitas tampaknya hormat, tetapi beragam.
Sebagian besar pemimpin AI sepakat bahwa Paus mengangkat isu-isu penting mengenai martabat
manusia, etika, akuntabilitas, misinformasi, pergeseran lapangan kerja, dan konsentrasi kekuasaan AI
di tangan segelintir perusahaan raksasa.
Namun banyak pengusaha dan investor teknologi juga khawatir bahwa regulasi yang terlalu ketat dapat
memperlambat inovasi dan melemahkan daya saing, terutama dalam persaingan dengan Tiongkok.
Salah satu sentimen yang cukup umum di Silicon Valley dapat dirangkum sebagai berikut:
“Paus mengajukan pertanyaan yang tepat, tetapi mungkin meremehkan seberapa cepat inovasi harus
bergerak.”
Banyak pemimpin AI mendukung konsep Ethical AI, tetapi lebih memilih standar yang dipimpin industri,
pengamanan teknologi, dan praktik sukarela dibandingkan pengawasan pemerintah yang terlalu luas.
Di sisi lain terdapat kelompok AI optimists dan technology accelerationists yang melihat AI sebagai
salah satu alat paling kuat yang pernah diciptakan manusia untuk mendorong kemajuan peradaban.
Pandangan mereka sering diringkas dalam pernyataan yang sama provokatifnya:
Umat manusia tidak seharusnya takut kepada AI;
Umat manusia seharusnya takut gagal memanfaatkan AI.
Namun terlepas dari berbagai perbedaan tersebut, Vatikan dan Silicon Valley mungkin memiliki lebih
banyak kesamaan daripada yang sering disadari banyak orang. Keduanya pada dasarnya sepakat
bahwa AI harus memberikan manfaat bagi manusia dan meningkatkan kualitas hidup manusia.
Perdebatan yang sebenarnya bukan mengenai apakah AI harus melayani manusia, melainkan:
Siapa yang berhak mendefinisikan arti ‘melayani manusia’ tersebut, dan
siapa yang memiliki kewenangan untuk menegakkannya?
Pada akhirnya, Paus Leo XIV mungkin telah mencapai sesuatu yang cukup penting. Ia membantu
menggeser percakapan global dari pertanyaan mengenai apa yang dapat dilakukan AI menuju
pertanyaan yang jauh lebih penting: Apa yang seharusnya dilakukan AI?
6. Arah Masa Depan: Dapatkah Idealisme dan Pragmatisme Bertemu?
Pertanyaan terpenting yang muncul dari Simposium Vatikan adalah
apakah Idealisme dan Pragmatisme dapat dipertemukan dalam era AI.
Vatikan menawarkan kompas moral. Silicon Valley menyediakan mesin inovasi. Tidak satu pun cukup
bila berdiri sendiri.
Kompas tanpa mesin tidak akan membawa masyarakat bergerak maju.
Mesin tanpa kompas dapat membawa masyarakat melaju cepat ke arah yang salah.
Masa depan AI mungkin akan bergantung pada kemitraan antara mereka yang memahami teknologi
dan mereka yang memahami konsekuensi kemanusiaan dari teknologi tersebut.
Risiko terbesar bukanlah AI menjadi terlalu cerdas. Risiko yang lebih besar mungkin justru ketika
masyarakat menjadi terlalu bergantung pada kecerdasan tanpa kebijaksanaan.Martabat Manusia di Era AI 5
AI dapat menghasilkan informasi. Namun AI tidak secara otomatis menghasilkan penilaian bijaksana.
AI dapat mengoptimalkan efisiensi. Namun AI tidak dapat mendefinisikan makna kehidupan.
AI dapat memprediksi perilaku manusia. Namun AI tidak dapat menentukan tujuan hidup manusia.
Pada akhirnya, perdebatan sesungguhnya bukanlah apakah mesin akan menjadi semakin manusiawi.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah manusia akan tetap cukup manusiawi ketika membangun mesin yang semakin kuat?
Jika Vatikan menyumbangkan pertanyaannya, dan Silicon Valley menyumbangkan jawabannya,
maka masa depan AI mungkin akan sangat bergantung pada apakah kedua pihak bersedia untuk saling
mendengarkan.
KESIMPULAN
Masa depan AI tidak ditentukan hanya oleh mereka yang mampu membangun mesin paling cerdas.
Masa depan AI akan dibentuk oleh mereka yang terus mengingatkan kita mengapa manusia tetap
penting sejak awal.
Penulis: Ronny Adhikarya (Global Story Teller - Mantan pejabat PBB/FAO dan Bank Dunia).
Editor: Aam Bastaman (Ketua Senat Universitas Trilogi, Jakarta).