Putaran Keempat (The Fourth Turning).
Oleh: Wirendra Tjakrawardaja
Ada sebuah teori dari dua sejarawan Amerika Serikat bernama William Strauss dan Neil Howe yang mengatakan bahwa sejarah bergerak dalam siklus. Setiap 80 tahun atau lebih, masyarakat mengalami krisis besar. Momen di mana tatanan lama runtuh dan sesuatu yang baru harus dibangun dari awal. Mereka menyebutnya "Putaran Keempat (The Fourth Turning)." Bayangkan Revolusi Amerika, Depresi Besar, Perang Dunia II. Momen-momen besar, menyakitkan, dan menentukan yang mengubah segalanya tentang bagaimana suatu masyarakat beroperasi. Menurut framework mereka, kita sedang menjalani salah satu momen tersebut saat ini.
Strauss dan Howe berfokus pada sejarah Anglo-Amerika. Tetapi ketika kita memetakannya ke garis waktu bangsa kita dimulai dari kemerdekaan pada tahun 1945, polanya sangat akurat. Indonesia pernah mengalami era revolusi bangsa oleh Soekarno, tahap pembangunan ekonomi di bawah Soeharto, dan periode Reformasi yang kacau namun penuh harapan setelah tahun 1998. Sebuah periode yang terasa seperti janji demokrasi perlahan-lahan terkikis dari dalam, sementara sebagian besar orang sudah terlalu mumet, terlalu sibuk, atau terlalu sinis untuk berbuat banyak.
Dan sikap sinis itulah yang sebenarnya paling berbahaya saat ini. Bukan para politisi, bukan para oligarki, bahkan bukan politik dinasti yang entah bagaimana menjadi hal yang biasa di depan mata kita. Hal yang paling berbahaya adalah sikap pasrah yang diam-diam yang telah menjadi respons standar di masyarakat, terutama kaum muda. Sikap pasrah itulah yang menjadi makanan bagi sistem yang rusak. Ketika orang berhenti percaya bahwa perubahan itu mungkin, mereka berhenti bersuara, dan orang-orang yang berkuasa pun tidak perlu berusaha.
Inilah realita yang ada, negeri ini mungkin berada di tengah-tengah perubahan “Putaran Keempat”. Pemicunya sudah terjadi, perombakan KPK, manuver Mahkamah Konstitusi, Omnibus Law, dan pemilu 2024 yang terasa lebih seperti upacara penutupan era Reformasi. Konfrontasi yang menentukan kemungkinan memang belum ada dan itu berarti masih ada waktu. Bukan waktu yang tak terbatas, tetapi waktu nyata untuk mempersiapkan, membangun, dan memposisikan diri.
Jadi apa yang sebenarnya harus dilakukan oleh kita rakyat biasa? Bukan menunggu pemerintah menyelamatkan mereka, bukan berharap muncul politisi pahlawan, tetapi sebagai orang yang mencoba hidup dengan integritas di saat yang rumit.
Hal paling ampuh yang dapat dilakukan siapapun saat ini adalah membangun kepercayaan nyata dengan orang-orang di sekitar mereka. Komunitas yang bertahan di masa krisis adalah komunitas yang sudah saling percaya sebelum semuanya menjadi sulit. Mulailah dari sana. Lingkungan kita, lingkaran profesional kita, jaringan sekolah dan kampus kita, investasikan pada jaringan itu sekarang, dengan jujur dan tanpa agenda.
Yang tak kalah penting adalah menolak membiarkan suara-suara independen mati begitu saja. Indonesia masih memiliki jurnalis, peneliti, pembuat film, dan penulis yang melakukan pekerjaan yang benar-benar berani. Mereka beroperasi dengan anggaran kecil, menghadapi tekanan konstan, dan sepenuhnya bergantung pada apakah publik benar-benar cukup peduli untuk memperhatikan. Berlangganan media independen, berbagi laporan yang jujur, mendukung secara finansial media yang menolak untuk dibeli. Ini adalah perbedaan antara masyarakat yang dapat melihat dengan jelas dan masyarakat yang tidak dapat melihat.
Terutama bagi generasi muda, menjadi benar-benar mahir dalam sesuatu yang penting. Seperti hukum, ekonomi, kebijakan publik, jurnalisme investigatif, teknologi, dan pendidikan. Generasi Reformasi memiliki keberanian tetapi terkadang kurang memiliki kedalaman teknis untuk menjaga institusi tetap utuh. Pembangunan kembali berikutnya akan membutuhkan keduanya. Semangat tanpa kompetensi akan dikalahkan. Bangun keterampilan nyata sekarang, karena saatnya akan tiba ketika keterampilan tersebut dibutuhkan di tempat-tempat yang penting.
Pemerintahan lokal, jurnalisme lokal, pengorganisasian lokal adalah tempat di mana perubahan Putaran Keempat akan benar-benar menentukan bangsa ini. Politik nasional saat ini terasa terperangkap dan jauh dari akar rumput. Tetapi pemilihan bupati, kursi dewan kota, klinik bantuan hukum komunitas, koperasi di kota kecil adalah blok bangunan tatanan baru yang akan datang setelah krisis. Orang-orang yang melakukan pekerjaan lokal yang tidak glamor hari ini sedang meletakkan fondasi untuk seperti apa negeri ini di tahun 2035.
Terakhir adalah menceritakan kisah yang lebih baik. Rakyat kita memiliki jiwa yang luar biasa, rumit, dan indah yang terkubur di bawah kebisingan politik dan kemarahan media sosial. Seniman, musisi, pendongeng, pembuat konten yang menggali jiwanya dengan jujur. Mereka yang berbicara tentang keberanian dan tentang apa artinya hidup sesuai Pancasila. Mereka melakukan lebih banyak untuk masa depan nasional daripada yang disadari kebanyakan orang. Budaya lebih membentuk politik daripada sebaliknya.
Tidak ada yang menjanjikan bahwa menjalani perubahan Putaran Keempat akan nyaman. Generasi yang melakukan kerja keras membangun kembali jarang dapat menikmati apa yang mereka bangun. Tetapi itu bukan alasan untuk putus asa. Itu sebenarnya adalah undangan untuk hidup dengan lebih bermakna daripada yang didapatkan kebanyakan generasi. Babak bangsa kita selanjutnya tidak ditulis di parlemen atau di istana presiden. Tetapi sedang ditulis sekarang, oleh orang-orang biasa yang memutuskan apakah akan maju bergerak atau mundur.
Cilacap, April 2026
Penulis: Wirendra Tjakrawerdaja (Petani Regeneratif dan Praktisi Permakultur)
Editor: Dr. Aam Bastaman (Akademisi Universitas Trilogi, Jakarta).