Kemampuan Mendengar Bukan Hanya Berbicara
Oleh: Dedi Priadi
Secara biologis, porsi mendengar kita seharusnya dua kali lipat dari berbicara. Sialnya, kesombongan punya cara sendiri untuk merusak fungsi itu: membuat mulut bekerja lembur, sementara telinga memilih pensiun dini.
Alfred Brendel:
Listen vs Silent
Kita sering terjebak dalam hasrat besar untuk selalu menang dan mendominasi setiap percakapan. Padahal, kekuatan seorang manusia bukan terletak pada seberapa keras ia membantah, melainkan seberapa mampu ia mengendalikan diri.
Ingatlah bahwa kata 𝘭𝘪𝘴𝘵𝘦𝘯 (mendengarkan) dan 𝘴𝘪𝘭𝘦𝘯𝘵 (diam) memiliki huruf yang sama persis. Ini adalah sebuah tamparan halus bagi ego kita: kita tidak akan pernah bisa benar-benar mendengar selama kita menolak untuk diam.
Saat kita sibuk memotong pembicaraan, otak kita sebenarnya sedang menutup diri dari informasi baru. Kita menjadi keras kepala karena kita lebih mencintai suara pemikiran kita sendiri daripada kebenaran yang dibawa orang lain.
Mendengarkan bukan berarti kita kalah atau menyerah kalah dalam sebuah perdebatan. Mendengarkan adalah tanda kematangan mental, sebuah keputusan sadar untuk menurunkan senjata ego demi memahami realitas yang lebih utuh.
Ketika kita terus mendominasi, orang di sekitar kita akan perlahan menarik diri karena merasa tidak dihargai. Hubungan yang sehat hancur bukan karena perbedaan pendapat, melainkan karena hilangnya ruang aman untuk saling berbicara.
Ibarat sebuah cangkir yang sudah penuh meluap dengan air panas, ia tidak akan bisa lagi menampung teh yang baru. Begitulah pikiran yang dominan; ia terlalu penuh dengan asumsi diri sendiri.
Kita perlu mengosongkan sedikit ruang di dalam kepala kita dari ambisi untuk selalu terlihat benar. Hanya dengan cara itulah, kita bisa mengisi diri dengan kebijaksanaan dan pengetahuan yang baru.
Menjadi pendengar yang baik justru akan membuat karisma dan wibawa kita naik berlipat ganda. Orang akan lebih segan pada pribadi yang tahu kapan harus diam, daripada yang terus-menerus menggurui.
Mendengarkan dengan tulus itu seperti membuka pintu gerbang benteng yang selama ini kita jaga dengan ketat. Kita memberi jalan bagi kedamaian untuk masuk dan meredakan ketegangan di dalam dada.
Cobalah untuk menahan diri, ambil napas dalam-dalam, dan biarkan orang lain menuntaskan kalimatnya sampai selesai. Kendalikan keinginan untuk menyerang balik, karena di situlah letak ujian kedewasaan kita yang sesungguhnya.
Belajarlah untuk menciptakan keheningan (𝘴𝘪𝘭𝘦𝘯𝘵) di dalam pikiranmu yang riuh itu. Sebab, hanya ketika engkau mampu melunakkan ego untuk diam, engkau baru bisa benar-benar mulai mendengarkan (𝘭𝘪𝘴𝘵𝘦𝘯).
Photo: Marshall Goldsmith
Editor: Aam Bastaman (Akademisi/Ketua Senat Universitas Trilogi, Jakarta)