HBH Universtas 45 Mataram : Moment Mempererat Tali Silaturahmi dan Saling Bermaafan
Dr H Lalu Burhan, MSc
GEMARI.ID-MATARAM. Halal bihalal kampus adalah tradisi pasca-Ramadan/Idulfitri dgn maksud untuk mempererat silaturahmi, sinergi, dan saling memaafkan antar civitas akademika. Acara di Kampus Upatma ini diisi dengan tausiyah sambutan2 , doa bersama, dan ramah tamah, adapun inti pesan dari ketua dewas Univ 45 Mataram adalah seluruh civitas akademika Upatma dpt berperan dan berfungsi memperkuat kekeluargaan dan kolaborasi di lingkungan kampus
Poin Penting Halal Bihalal Kampus 2026:
Waktu Pelaksanaan: Hari Senin tgl 6 April 1026 dilakukan pada (Syawal 17 syawal 1447 H). Tujuan: Memperkuat sinergi pimpinan, dosen, staf, dan mahasiswa, serta menciptakan suasana kerja/akademik yang kondusif. Makna: Refleksi kembali ke fitrah, meningkatkan ukhuwah, dan semangat baru dalam pengabdian pendidikan. Agenda ini sering kali menjadi momen penting untuk membangun kembali semangat kebersamaan dan integritas dalam pelaksanaan tridarma perguruan.
Adapun point penting sebagai pesan melalui WhatsApp dari Ketua Dewas yayasan Univ 45 Mataram adalah Keikhlasan, Kebermanfaatan, dan Kolaborasi: Resep dari yayasan 45 Mataram melaksanakan tugas ibadah kedepan pasca Ramadan. Mengingatkan bahwa Ramadan mengajarkan tiga hal fundamental dlm kehidupan ini. Jika kita tarik ke dalam konteks yayasan 45 Mataram yg menjadi wadah klg besar perkumpulan Universitas Mataram maka, tiga hal ini adalah kunci kita untuk bertransformasi.
Pertama, keikhlasan. Di era serba terukur, kita terlalu sibuk menghitung uang atau makanan dlm setiap acara atau kegiatan yayasan. Padahal, Ramadan mengajari kita bahwa pengabdian membutuhkan hati yang tulus. "Pengorbanan yang kita lakukan terasa ringan," Benar. Seorang anggota yayasan yang ikhlas tidak akan merasa letih membimbing anggota lainnya yg kurang dlm ilmu ataupun harta yg dicarinya, hingga larut malam. Seorang anggota yg baik yang ikhlas akan menganggap melayani semua masyarakat dimanapun mereka bertugas, Tugas tsb dinyatkannya sebagai ibadah, bukan beban. Jika setiap insan yayasan bergerak dengan keikhlasan, maka transformasi bukan lagi target, melainkan konsekuensi logis dari hati yang bersih.
Kedua, kebermanfaatan. Sepanjang Ramadan kita berlomba-lomba berbuat kebajikan. Lalu, mengapa setelahnya kita sering terjebak dalam setiap aktivitas yang hanya berakhir di mengharapkan pujian hadis nabi mangatakan, "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia." Dalam konteks yayasan berdampak, ini adalah panggilan bahwa inovasi dalam aktivitas dan pengabdian kita harus berujung pada solusi nyata bagi masyarakat luas. Tidak cukup hanya menjadi kampus yang "bersih" atau "terunggul." Kita harus menjadi kampus yang kehadirannya dirasakan oleh masyarakat.
Ketiga, kolaborasi. Ramadan dan Idul Fitri adalah madrasah silaturahmi. Tidak ada ruang untuk ego setiap diri kita "Hanya dengan semangat dan kerja kolaboratif, sinergi semua pihak, Univ 45 Mataram akan bisa terwujud,"
oleh karenannya Idul Fitri mengajarkan kita untuk saling memaafkan, membuka lembaran baru, dan menggenggam tangan erat-erat untuk mewujudkan mimpi besar Universitas yaitu Universitas yg berazaskan akademik dan wirausaha. Apa yg di kandung dgn ajaran baru utk wujudkan mimpi itu? Jawabannya Tiga Pelatihan Jiwa dan Empat Tujuan Ilahi. Jika ketua dewas yayasan berbicara dari perspektif kelembagaan, maka dalam pointnya, Lalu burhan mengajak kita melihat dari sisi ruhani yang lebih personal namun tak kalah strategis.
Ketika dewas yayasan menyebut Ramadan sebagai "pelatihan." Ada tiga bentuk latihan yang kita jalani selama sebulan. 1. Meninggalkan kebiasaan buruk. Ramadan mengajarkan kita untuk berhenti. Bukan hanya berhenti makan dan minum, tapi berhenti dari dosa, dari gosip, dari kebiasaan produktif yang sia-sia. Ini adalah pelatihan restart sistem. Sebuah organisasi yang ingin berdampak harus berani melakukan evaluasi diri secara radikal, meninggalkan aturan yang berbelit, dan memulai kebiasaan baru yang lebih efektif.
2. Sabar. Ramadan disebut sebagai bulan sabar. Sabar dalam taat, sabar menahan diri dari hal buruk, bahkan sabar menahan diri dari hal-hal yang sebenarnya halal. Dalam suatu organisasi sabar adalah modal utama. Organisasi tidak lahir dalam semalam. Kolaborasi tidak terbentuk secara instan. Dampak tidak terasa dalam setahun. Butuh kesabaran ekstra untuk merawat benih-benih perubahan hingga ia berbuah.
3. Bermaaaf-maafan dan kebersamaan. Inilah puncaknya. Setelah sebulan berlatih, kita dipertemukan di hari kemenangan untuk saling melepas beban. Sinergi menuju kebaikan ilahi hanya bisa terbangun jika tidak ada lagi dendam yang mengganjal.
Lebih dalam lagi, Lalu Burhan sebagai ketua dewas memesankan bahwa goal setting puasa melalui empat kata kunci dalam Al-Qur’an: La’allakum tattaqun (agar bertakwa), La’allakum tasykurun (agar bersyukur), La’allakum yarsyudun (agar cerdas), dan penegasan untuk meningkatkan kualitas takwa pasca-Ramadan. Yang menarik adalah penjelasan tentang yarsyudun menjadi manusia cerdas. Lalu burhan menjelaskan bahwa orang berpuasa disebut cerdas karena pintar memilih. "Cerdas menetapkan prioritas memilih yang terbaik dalam semua hal.
Pada akhir penyampaian materinya di hari Iedul fitri ini, Lalu burhan menyampaikan pesan bahwa takwa bukan hanya untuk Ramadan. "Nilai takwa dalam ramadan kita bawa keluar ramadan sehingga terwujud pribadi-pribadi terbaik." Di sinilah letak sambungan yang paling indah antara Ramadan, Idul Fitri, dan yayasan 45 Mataram. Wadah organisasi yayasan 45 adalah tempat kita bersatu, berkolaborasi, dan berjuang mewujudkan cita cita mequjuskan SDM yang tidak hanya memiliki bangunan kantor yayasan megah secara fisik, tetapi diharapkan yayasan ini dpt berdampak luas bagi sisi kemanusiaan. Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. Terima kasih atas atttensi saudara-saudaraku seluruh civitas akademika Universitas 45 Mataram. Penulis adalah Ketua Dewas Universitas 45 Mataram