Ngobyek Demi Gajian Pegawai

Oleh: Supriadi (Esel-ESL)

Ngobyek yang dimaksud di sini adalah mencari penghasilan tambahan yang biasa dilakukan oleh para guru, dosen atau pegawai negeri juga ada yang pada umumnya  dilakukan karena gaji resmi yang tidak cukup  untuk memenuhi kebutuhan hidup minimal. Terapi praktek ngobyek  ini bergeser menuju  spektrum yang sangat lebar dari sekedar cari tambahan untuk biaya sekolah anak sampai ke tujuan untuk memenuhi  nafsu serakah yang tidak terbatas. 

Pengalaman ngobjek yang paling fundamental dan sistemik juga terpaksa dilakukan Esel  ketika dia dipercaya membentuk dan memimpin unit operasi baru sektor Bukittinggi yang belum diberi anggaran dan fasilitas. Esel  hanya  dibantu oleh  4 pegawai harian lulusan SLTA dan sementara berkantor di bangunan ex proyek yang belum dilengkapi  peralatan. Padahal unit yang baru itu harus sudah beraktifitas tanpa jeda karena  operasi PLTA Maninjau, PLTA Batang Agam, PLTD Padang Luar serta dua gardu induk dan transmisi yang menjadi tanggung jawaabnya tidak boleh berhenti sedetikpun, dan untuk mendapatkan barang-barang termasuk tambahan pegawai terganjal  birokrasi PLN yang di tahun 80 an itu masih ribet, anekdotnya untuk beli mesin tik saja harus menunggu anggaran investasi yang baru bisa diusulkan di tahun depannya.

Penyakit  birokrasi yang kaku dalam kepatuhan mengikuti prosedur yang mengatur bahwa setiap permintaan harus diajukan setahun sebelumnya, menyebabkan unit operasi sektor Bukittinggi yang baru berdiri terancam tidak bisa beraktifitas walaupun para pejabat di kantor Wilayah mahfum bahwa PLTA Maninjau beserta saluran transmisinya yang baru saja diresmikan oleh Presiden Soeharto di bulan Desember 83 itu  tidak boleh berhenti sedetik juga. Namun Esel yang dipercaya menjadi  kepala sector termuda  saat itu tidak mau merengek minta bantuan ke kantor wilayah walaupun sebagai unit baru cukup wajar melakukan hal itu.   Kebetulan pengalaman ngobjek waktu kuliah, menjadikan naluri Esel melihat adanya peluang untuk  memenuhi kebutuhan dasar dalam kewenangan kepala sektor yaitu dengan memanfaatkan anggaran jasa borongan operasi rutin yang secara tradisi hanya digunakan untuk keperluan mesin. Setelah Esel berkonsultasi dengan kawannya yang mengerti anggaran, ternyata tidak ada larangan untuk menggunakan anggaran tersebut untuk keperluan menyewa kebutuhan penunjang operasi termasuk menyewa peralatan kantor dan juga tenaga kerja. 

 Sebagai modal awal Esel nekad. menjual mobil Toyota hardtop kesayangannya  untuk membeli mobil murah, Colt L 300 bekas   dari  pasar Babatan Bandung, seperangkat PC 256 KB termasuk program Lotus 123 dan wordstar  serta printer dot matrix FX 100. Tak lupa Esel juga merekrut  seorang sekretaris yang dilatihnya sendiri untuk memainkan komputer personal (PC) yang kala itu belum ada seorangpun di Bukittinggi yang mengenal PC.  

Proses sewa  menyewa mobil dan semua peralatan termasuk satpam, cleaning service sampai  sekretaris tersebut dilakukan dengan kontrak melalui koperasi karyawan sehingga setiap bulan koperasi bisa menyisihkan keuntungan untuk membantu kebutuhan darurat .Untuk menambah penghasilan koperasi, Esel  juga berjualan sepatu dari Cibaduyut dan jeans dari Cihampelas  yang di masa itu sedang ngetrend. Esel juga diizinkan oleh bossnya di proyek dulu untuk memanfaatkan peralatan dan barang ex proyek yang ternyata lumayan bisa menemukan mesin tik IBM dan meja gambar yang bisa direparasi.  Bengkel  proyek yang nganggur juga dihidupkan lagi untuk melayani servis,  cuci mobil sampai ketok duko dan ternyata berhasil mengoperasikan kembali  truk dan bus ex proyek yang teronggok mogok  karena proyek PLTA Maninjau sudah selesai. 

Berkat ide ngobyektersebut, akhirnya  dalam waktu 6 bulan, Sektor Bukittinggi  yang baru dibentuk itu sudah memeiliki fasilitas lengkap melebihi unit lain yang sudah beroperasi lama. Mobil Colt Bekas  yang banyak jasanya telah berganti menjadi  Colt L 300 baru. 

Dalam rapat kerja di kantor wilayah yang baru pertama kali diikuti Esel, para pejabat dari wilayah dan unit lain terheran-heran bagaimana mungkin   sektor Bukittinggi sebagai unit anak bawang sudah bisa membuat laporan dengan printer dot matrix, sedangkan  unit lain yang sudah dikirimi  komputer dari pusat setahun lebih , barangnya masih terbungkus rapi, katanya sih menunggu program dan petugas pusat yang akan mengajari mereka. Hasil ngobjek juga pernah menjadi dewa penolong untuk nalangin sebagian gaji pegawai karena dropping kas dari wilayah terlambat. 

Keberhasilan Koperasi karyawan Sektor Bukittinggi  telah menarik perhatian dinas koperasi sehingga setiap tahun selalu langganan mendapatkan predikat koperasi terbaik se kotamadya. Selain itu para karyawan selalu berlebaran dengan suka cita karena asoy jinjingan lebarannya semakin tahun semakin besar. Mungkin manfaat yang tak ternilai bagi para pegawai kontrak koperasi  tersebut adalah ketika mereka akhirnya bisa diangkat sebagai pegawai tetap PLN karena kegigihan mereka untuk selalu belajar dari para seniornya …….

Betapa bahagia dan terharu ketika Esel outing ke Bukittinggi bersama gank itb 74 di awal tahun 2012 yang lalu, di salami oleh anak buahnya  ex satpam yang telah menjadi kepala PLTA Singkarak. Supir Esel dulu  sekarang telah menjadi kepala gardu Induk, dan tak mau kalah  pelatih tenis Esel juga telah menjadi pegawai di unit PLN pengaturan beban.

Keberhasilan  Esel yang  terpaksa ngobyek untuk dapat mengoperasikan unit baru yang belum memiliki fasilitas  serta pegawai, dalam perjalanannya  ditiru oleh unit lain yang sehat yang sayangnya dimanfaatkan untuk suatu keperluan sekunder bahkan sampai ke kebutuhan tertier sesuai selera si pimpinan.

Ada rasa bersalah di hati Esel  karena modus ngbyek lewat koperasi ini lama kelamaan membuka peluang untuk digunakan berlebihan seperti menyewa mobil keren , peralatan canggih, dan juga berbagai  selera yang bukan kebutuhan  hakiki. Klimaksnya, sepuluh tahun kemudian, jumlah pegawai koperasi di seluruh Indonesia menembus angka 50 ribu, melebihi jumlah pegawai pln sendiri sehingga menimbulkan permasalahan ketenaga kerjaan yang berujung dengan larangan direksi  kepada unit-unit untuk mengikat kontrak dengan koperasi.  

Tapi apa susahnya berganti baju ngobyek dari koperasi menjadi  perusahaan ? Ealhasil,  masalah ini terus berkembang menjadi problem melonjaknya jumlah pegawai outsourcing yang eskalasinya semakin memuncak, sampai betbuah  tuntutan para pencatat meter yang direkrut tanpa seleksi yang benar,  untuk diangkat menjadi pegawai tetap PLN.

Ngobyek juga terjadi pada lingkungan pegawai negri yang awalnya dilakukan oleh  golongan rendah untuk sekedar menutupi kebutuhan hidup sehari-hari  tapi akhirnya spektrumnya melebar sampai pejabat tinggi dan intensitasnya berkembang bukan sekedar menutupi kebutuhan hidup tapi  disalahgunakan untuk memperkaya diri melalui jalan pintas misalnya dengan ngobjekin uang Negara melalui honor rapat fiktif, SPPD fiktif yang pada gilirannya akan merangsang mereka untuk masuk kepada perbuatan korupsi dengan mengobjekan proyek dan anggaran.

Fenomena ini membuktikan bahwa suatu  model yang awalnya berasal dari niat baik bisa disalah gunakan untuk memanipulasi perbuatan negatif. 

Wallahu alam bissawab.

Editor: Aam Bastaman

Aam BastamanComment