"Tubuh yang Mengetahui" Belajar dari Fenomenologi di Era Mesin Meniru Segalanya.
Diskusi Serial Esoterika ke-69
Narasumber:
- F. Budi Hardiman
- Budhy Munawar-Rachman
Host: Khoirotun Nisak
*Sinopsis Diskusi*
Oleh: Budhy Munawar-Rachman
Tubuh yang Mengetahui: Belajar dari Fenomenologi di Era Mesin Meniru Segalanya adalah sebuah refleksi filosofis yang mengajak kita kembali pada sesuatu yang paling dekat sekaligus paling sering dilupakan: tubuh manusia. Di tengah dunia yang semakin didominasi oleh kecerdasan buatan, algoritma, dan logika komputasi, buku ini mempertanyakan asumsi dasar bahwa manusia dapat dipahami semata sebagai makhluk berpikir. Dengan mengacu pada fenomenologi, terutama pemikiran Maurice Merleau-Ponty, buku ini menunjukkan bahwa manusia tidak hanya “memiliki” tubuh, tetapi hidup sebagai tubuh yang merasakan, bergerak, dan berinteraksi dengan dunia.
Buku karya Prof. Dr. F. Budi Hardiman ini mengembangkan gagasan bahwa pengetahuan manusia tidak hanya lahir dari pikiran rasional, tetapi juga dari pengalaman tubuh yang hidup. Tubuh mengetahui sebelum pikiran merumuskan. Dari keterampilan sehari-hari hingga pengalaman estetis dan religius, manusia memahami dunia melalui keterlibatan langsung dengan lingkungan. Dengan demikian, pengetahuan bersifat embodied—tertanam dalam gerakan, kebiasaan, dan relasi konkret dengan dunia—bukan sekadar hasil pemrosesan informasi seperti yang sering diasumsikan dalam paradigma teknologi modern.
Dalam konteks perkembangan kecerdasan buatan, buku ini menawarkan kritik mendalam terhadap pandangan bahwa kecerdasan manusia dapat sepenuhnya direduksi menjadi algoritma. Mesin mungkin mampu meniru bahasa, pola, bahkan kreativitas tertentu, tetapi ia tidak memiliki tubuh yang hidup dan merasakan dunia. Di sinilah perbedaan mendasar antara manusia dan mesin muncul: manusia mengalami dunia secara eksistensial, sementara mesin hanya memproses representasi dunia. Buku ini mengajak pembaca untuk mempertimbangkan kembali batas-batas kecerdasan dan makna menjadi manusia di era digital.
Pada akhirnya, Tubuh yang Mengetahui bukan sekadar kritik terhadap teknologi, tetapi juga ajakan untuk hidup dengan kesadaran yang lebih utuh. Melalui pembahasan tentang tubuh, pengetahuan, erotisme, kota, hingga kemungkinan melampaui tubuh, buku ini menunjukkan bahwa masa depan manusia tidak terletak pada penghapusan tubuh, melainkan pada pemahaman yang lebih dalam tentang tubuh sebagai pusat pengalaman. Di tengah dunia yang semakin abstrak dan terotomatisasi, buku ini mengingatkan bahwa makna kehidupan tetap berakar pada sesuatu yang sangat konkret: tubuh yang hidup dan mengetahui.
Editor: Aam Bastaman (Universitas Trilogi)