In Memoriam Michael Bambang Hartono
Oleh: Aam Bastaman
Malam ini Kamis, 19 Maret 2026 saya menerima kabar dari sahabat saya, Heru B Irawan di Semarang, Pak Michael Bambang Hartono (biasa dipanggil Om Hwie Siang) meninggal dunia di Singapura.
Michael Bambang Hartono merupakan salah seorang pengusaha terkemuka di Tanah Air. Bersama adiknya Robert Budi Hartono merupakan keluarga pemilik PT Djarum, pemilik mayoritas Bank BCA dan banyak usaha lainnya baik berskala nasional maupun internasional. Bersama keluarganya pernah dinobatkan sebagai orang terkaya di Tanah Air.
Tapi ingatan orang mengenai sosok Bambang Hartono bukan hanya karena keberhasilannya di dunia usaha. Ciri khas yang melekat pada sosoknya ini justru karena sikap dan gaya hidup sederhananya. Ia tidak segan-segan makan makanan kesukaannya di kaki lima. Disamping itu ia memiliki pergaulan yang luas, bukan hanya di kalangan pengusaha dan pejabat, tapi juga dengan orang-orang biasa. Pertemanan memiliki arti penting tersendiri baginya. Ia juga memiliki hobi olah raga bridge, disamping pegiat Tai Chi yang tekun.
Saya sempat mengenal alm. dengan baik. Kami dipertemukan oleh sahabat saya Heru Irawan, master Tai Chi yang seperguruan dengan Bambang Hartono, bahkan saat Bambang Hartono menjadi Ketua Asosiasi Tai Chi Nasional Indonesia (ATNI), Heru Irawan menjadi Sekretaris jenderalnya.
“Heru itu penguasaan Tai Chi nya hebat. Ia lebih Cina dari orang Cina sendiri” itu ucapan Bambang Hartono saat ketemu di Singapura.
Saya kebetulan juga pegiat Tai Chi, untuk alasan demi menjaga kesehatan. Jadi kami memiliki kepentingan yang sama dalam olah raga Tai Chi, meskipun beda perguruan. Bisa dibilang, Tai Chi telah mempertemukan kami.
Heru Irawan juga sempat mengatur acara wawancara 30 menit dengan Bambang Hartono dalam kanal Youtube saya yang sampai saat ini sudah ditonton ratusan ribu orang. Ia kebetulan sedang tinggal di Singapura (saat itu sedang covid) berbicara via zoom tentang PT Djarum, masa kecilnya, masa sekolah, ayahnya, pendidikannya di Undip, hoby-nya, makanan favoritnya, kebiasaannya termasuk kesehatannya. Dari situlah saya sering berkomunikasi, terutama mengenai Tai Chi dan dunia kesehatan, ataupun hanya sekedar komunikasi WA menanyakan kabar. Tidak pernah sekalipun kami bicara bisnis.
Pasca Covid (belum sepenuhnya pulih), sekitar Juli 2022 pak Heru dan saya sowan ke apartemennya di Singapura. Kata sahabat saya itu tidak semua orang bisa ia terima di apartemennya di Singapura, apalagi Covid belum sepenuhnya berlalu. Jadi surprise juga kami bisa diterima dengan baik, selama dua hari.
Saya masih ingat selama perjalanan ke Singapura, Pak Bambang Hartono selalu menanyakan kabar, bahkan bertelpon. Sayang karena jaringan, pesan WA nya baru dibaca di hotel. Banyak misscall dari pak Bambang Hartono. Sebegitu besar perhatiannya.
Bersama Michael Bambang Hartono di apartemennya di Singapura
Hari pertama ketemu di apartemennya, tidak jauh dari kawasan Orchad. Kemudian diajak makan malam ke rumah makan Cina di Orchad road, ngobrol banyak tentang Tai Chi, kesehatan, hobinya, Singapura, sekolahnya, ayahnya, pandangannya tentang perpolitikan nasional, sampai ke hal-hal ringan mengenai makanan kesukaan. Saya juga melihat kedekatan hubungan pak Heru dengan Pak Bambang Hartono. Usai makan pak Bambang menawarkan mengantar kami ke hotel. “Saya antar ke hotel ya...” ujarnya. “Wah, Om jangan repot-repot. Biar kami naik MRT saja”
“Ga apa-apa, ayo” ujarnya.
Tapi, sopir pak Bambang mengingatkan, “Uncle ini sudah larut. Biar saya saja yang mengantar...” ujarnya.
Ajaib, Pak Bambang mengiyakan. “Iya antar pak Heru dan Pak Aam ya…”
Kami mengantar dulu pak Bambang balik ke apartemennya. Tidak terlalu mewah untuk ukuran orang terkaya di Tanah Air.
Hari kedua, pagi hari (kebetulan Pak Bambang sedang tidak ke kantornya di Singapura) kami latihan Tai Chi dan stretching Naigong Tuna di apartemennya, termasuk olah nafas. Ini seru sekali. Pertemuan diakhiri makan siang bersama di salah satu restoran Jepang favoritnya. Makanan tidak berlebih, sesuai kebutuhan. Kadang-kadang pak Bambang mengambilkan ikan atau udang khas Jepang ke piring saya.
Bersama Michael Bambang Hartono dan Heru Irawan di Singapura
“Nanti kalau ke Singapura lagi, coba makan di restoran ini lagi, ini tempat makan favorit saya…” ujarnya.
Kembali ke Jakarta, setelah pertemuan di Singapura, pernah pak Heru berkomunikasi telpon dengan pak Bambang Hartono.
Kemudian pak Bambang titip salam untuk saya.
Pak Heru bilang, “Pak Aam ada dengan saya”, akhirnya pak heru memberikan HP nya pada saya.
Setelah ngobrol singkat tentang Tai Chi, saya masih ingat pesan Pak Bambang. “Heru itu orang luar biasa, penguasaan ilmu Tai Chi nya di atas rata-rata orang keturunan Cina sekalipun. Pesan saya, belajarnya Tai Chi pada pak Heru.” kemudian menutup telponnya. Itu saran atau permintaan, mungkin dua-duanya.
Pertemuan terakhir dengan Pak Bambang Hartono di rumahnya di kawasan Tanah Abang Jakarta Pusat, sekitar April tahun 2024.
Satpam bertanya, “teman di bridge?” Kelihatan ingin tahu sekali.
“Bukan, Tai Chi”. Ujar saya.
Diantar asistennya saya naik lift menuju ruangan kecil. Tak lama kemudian Pak Bambang Hartono muncul, dengan kursi roda, dan menggunakan alat bantu nafas.
”Pak Aam silahkan..”
Ya Allah, lagi sakit masih mau menerima saya hanya untuk silaturahmi ngobrol-ngobrol ringan. Saya tahu Pak Bambang Hartono pernah sakit, tapi tidak tahu kalau masih di kursi roda dan memakai alat bantu nafas.
Nanya kabar, ngobrol sampai topik budaya nyekar ke makam leluhurnya. Ia suka nyekar, penghormatan pada orang tua. “Apakah pak Aam suka nyekar juga…?”
Bakti orang tua. Ia pertahankan sampai orang tua di kuburan.
Salah satu hal yang saya catat mengenai alasan kebiasaannya yang tidak menonjolkan diri.
“Salah satu penyakit bangsa kita, orang gampang iri. Jadi saya tidak mau tampil berlebihan…” Ungkapnya.
Usai ketemu saya nulis WA, ‘Om Hwie Siang trm ksh atas kesempatan ngobrol dan silaturahmi.. it’s a precious time. Salam,’
Saya tahu saat ketemu kondisi kesehatannya belum membaik.
Selamat jalan Om Hwie Siang.
(Aam Bastaman, pegiat Tai Chi. Ketua Senat Universitas Trilogi).