CARA MENGHINDARI RASA KESAL
Oleh: Imam B. Prasodjo
(Editor: Aam Bastaman)
Saya sudah coba menahan diri untuk tidak terlalu banyak melihat TV, membuka Instagram, Tiktok, Youtube, Koran, dan media sosial lainnya. Tapi ternyata "tidak bisa". Saya juga mencoba untuk tidak telalu terlibat dalam percakapan dengan teman teman untuk membahas beragam masalah, baik terjadi di tingkat dunia maupun tingkat nasional Indonesia. Juga "tak bisa". Nampaknya, rasa was-was yang terus menyelimuti hati, terutama saat melihat tingkah polah para tokoh politik, baik di tingkat dunia maupun Indonesia, menjadikan hati dipenuhi rasa penasaran dan "kepo" ingin ngintip berita yang bersliweran di berbagai kanal.
Namun di tengah kegundahan ini, hiburan untuk meredakan kekesalan hati memang harus terus dicari. Rasa was was dan kesal harus ditransformasikan ke berita berita positif, dan diiringi membuat kegiatan nyata yang membahagiakan. Itu teorinya. Namun, ini pun ternyata juga tak mudah. Tapi terus harus dicoba.
Pagi ini, Minggu 22 Februari 2026, saya tak menyalakan televisi karena takut secara tak sengaja mendengar pidato pejabat pejabat tertentu yang membuat kesal hati. Pagi ini saya juga tak mendengarkan berita dunia karena takut ada "breaking news" terjadi perang besar besaran di Selat Hormuz, urat nadi jalur energi dunia yang berada di antara Teluk Oman dan Teluk Persia sana. Saya selalu berdoa agar dalam hidup ini tak menyaksikan perang dunia ke-3. Kalau itu terjadi, sangat berpotensi membuat trauma karena melihat derita jauh lebih dahsyat dari korban perang perang sebelumnya.
Untuk mencari berita membahagiakan, saya pun membuka handpohone, melihat lihat kiriman kabar di Whatsapp sebagai ganti TV. Alhamdulillah menemukan berita baik. Ada kiriman video dari teman relawan yang merekam kegiatan warga desa yang sedang sibuk mengisi planter bags (semacam kantong plastik tebal) dengan media tanam pupuk organik. Tampak jelas dalam video itu warga bersemangat mendapatkan planter bags untuk memulai berkebun di pekarangan rumah mereka masing masing. Hebat juga ya, padahal mereka pasti sedang berpuasa.
Saya pun membayangkan gerakan berkebun di pekarangan rumah seperti ini bergerak meluas (baik didukung pemerintah ataupun tidak) dan menjadikan lingkungan pemukiman di seluruh Indonesia terasa segar, hijau dan menyehatkan. Bayangkan, setiap pekarangan rumah ada tanaman sayur sayur dan buah. Akankah ini menjadi jalan bagi tumbuhnya kemandirian pangan keluarga karena pasokan kebutuhan dapur menguat? Membayangkan kejadian seperti ini saja sudah membuat hati senang. Apalagi kalau sungguh sungguh terjadi.
Namun, baru saja hati sejenak merasa senang, tiba tiba jadi berubah kesal. Gara garanya, saya tergoda menggerakkan jari, melakukan pencarian informasi (searching) pada HP saya, googling informasi dengan menulis kalimat "apakah Indonesia mengimpor sayur mayur?" Ternyata, jawabnya begini.
"Sebagai negara agraris, Indonesia dikenal kaya akan hasil pertanian, termasuk sayur mayur. Meski begitu, hingga saat ini, Indonesia masih rutin mengimpor sayuran dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan lokal. Menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mengimpor 935,8 juta kg sayur sepanjang 2024, turun 6,46% dibanding tahun 2023 yang impornya mencapai 1 miliar kg. Meski volumenya turun, nilai impor sayuran Indonesia justru naik 8,16% secara tahunan mencapai US$1,1 miliar pada 2024."
Waduh..waduh! Waduh..waduh!
Saya pun terpana membaca informasi selanjutnya. Negara negara pemasok sayur mayur utama pada 2024-2025 rupanya
China yang menempati urutan pertama (654,52 ribu ton). Kemudian disusul Myanmar, India, Australia, dan Selandia Baru. Tak hanya impor sayur mayur, tetapi juga buah. Impor Buah (2024) mencapai 780,576 juta kg, naik signifikan dari 2023. Lagi lagi China menjadi pemasok utama dengan nilai US$1,1 miliar. Tren Terbaru (Maret 2025): Impor barang konsumsi, termasuk bawang putih dan apel, melonjak 18,73%. Komoditas Sayur Tertinggi: Bawang putih (di atas 500 ribu ton per tahun) mendominasi, diikuti bawang merah dan jenis sayuran lain.
Waduh..waduh! Waduh..waduh!
Tuh khan jadi kesal lagi. Secara spontan saya bersuara keras, "waduh..waduh" berkali kali. Saya takut istri saya terganggu tidurnya yang nampak lelap sejak shalat subuh. Bulan puasa ini, para lansia seperti kami, merasa berhak tidur malas malasan di pagi hari, terutama di bulan puasa.
Saya kembali teringat pada kata kata bijak. Jangan terperosok saat membaca berita dan informasi mengesalkan. Harus ubah mindset ke arah positif. Maka, saya pun kembali membayangkan video ibu ibu dan warga desa yang tengah bersemangat mengisi planter bags untuk memulai membangun kebun sayur mayur di pekarangan rumahnya. Tentu saja ini gerakan kecil, namun menjanjikan dan menggembirakan. Apalagi kalau dapat meluas.
Saya tak lagi memikirkankan berita terkait besarnya impor sayur mayur dan buah negeri kita yang konon makmur ini. Saya pun tak ingin membayangkan bahwa negeri seperti Myanmar saja jadi negeri pengekspor sayur mayur ke negeri kita.
Di pagi hari bulan puasa ini, alhamdulillah, saya terhindar dari kata kata umpatan seperti kata "sialaan", "brengsek", "bodoh" dll. Mari fokus saja membantu warga bercocok tanam, menanam sayur mayur dan buah di tanah yang masih tersedia, walaupun luasnya seadanya. Merdeka!
#imam b prasodjo
***