PB PWRI Bersama OPI-KL Menggelar Perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026
GEMARI.ID-JAKARTA. Bertempat di Aula Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Dalam Negeri di kawasan Kalibata Jakarta Selatan, Pengurus Besar Persatuan Wredatama Republik Indonesia atau PB PWRI bersama Organisasi Pensiunan Indonesia Kementerian/Lembaga (OPI-KL) menyelenggarakan Perayaan Natal Bersama. Kegiatan ini bertujuan mempererat kesatuan, persatuan, dan solidaritas antar pensiunan lintas kementerian dalam suasana kebersamaan dan sukacita. Sabtu (24/01/2026).
Ibadah Natal dipimpin oleh Romo DR Wahyu Kristian Wijaya dan Ibu Pendeta Riseida Nolvia Pasaribu. Disampaikan bahwa, rangkaian kegiatan perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 diawali dengan kunjungan kasih ke Panti Lansia Yayasan Bunga Bakung di Jakara Utara dan Panti Lansia Kasih Sayang di Kota Bekasi. Panitia menyerahkan bantuan sederhana serta berbagi doa dan pujian sebagai bentuk kepedulian dan penghiburan kepada para penghuni panti.
Menurut Ketua Umum PB PWRI Prapto Hadi, perayaan Natal bersama ini tidak sekadar bersifat seremonial, melainkan menjadi ungkapan syukur atas perjalanan panjang kebersamaan para pensiunan. Nilai kasih kepedulian dan solidaritas menjadi fondasi utama dalam membangun kebahagiaan bersama bagi seluruh anggota pensiunan Indonesia, katanya.
Sementara itu, Ketua Panitia Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, Pos M Hutabarat menjelaskan perayaan Natal tahun ini mengusung tema Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga dengan subtema Lansia Ada dan Berguna Membawa Terang Kasih dalam Keluarga serta Sesama, yang diharapkan dapat memperkuat peran lansia sebagai sumber teladan dan kasih di lingkungan keluarga maupun masyarakat, jelas Pos M Hutabarat.
Disisi lain, Staf Ahli Bidang Hukum, Kelembagaan, dan Reformasi Birokrasi Kemendukbangga/BKKBN, Viktor Hasiholan Siburian, menyampaikan bahwa kolaborasi dengan PWRI sejalan dengan program prioritas Kemendukbangga, salah satunya inisiatif sekolah bagi lansia. Program sekolah informal ini bertujuan memberikan edukasi agar para lansia tetap mandiri, aktif, dan bahagia dalam komunitasnya. Sinergi ini penting karena tantangan kependudukan tidak dapat diselesaikan satu pihak melainkan membutuhkan keterlibatan berbagai elemen masyarakat. Ia menambahkan, pendekatan berbasis keluarga menjadi kunci dalam membangun kesejahteraan lansia melalui edukasi dan komunikasi yang berkelanjutan di setiap fase kehidupan, imbuhnya. @mulyono_dp