Refleksi: Membaca Investasi Masa Depan

Berbicara mengenail aktifitas membaca, kalau  jaman dulu identik dengan buku. Kini media untuk membaca tidak hanya dengan media buku saja. Kini ada smart phone ataupun media digital lain yang dapat menggantikan peran buku untuk membaca, yang dianggap lebih praktis, efisien dan murah.  Tapi betulkah buku akan tergantikan sepenuhnya oleh smart phone dan media digital lainnya?

Meskipun ‘gempuran’ smart phone kian menghebat, data berikut ini menunjukkan bahwa buku masih berperan besar dalam aktifitas membaca masyarakat di Tanah Air. Data dari Gramedia (jaringan toko buku terbesar di Indonesia) seperti dikutip Kompas, 7 September 2019, menunjukkan terdapat peningkatan penjualan buku dalam tiga tahun terakhir ini. Tahun 2018  Gramedia menjual 34.7 juta buku. Meningkat dari tahun 2017 sebanyak 29.7 juta buku dan tahun 2016 sebanyak 18.6 juta buku.

Masih menurut Kompas di tanggal yang sama, berdasarkan data dari Perpustakaan Nasional, jumlah buku yang diterbitkan selama tiga tahun terakhir ini bersifat fluktuatif, namun terdapat peningkatan pada tahun 2018.  Sebagai contoh, tahun  2016,  diterbitkan sebanyak 57.090 judul buku, namun pada tahun 2017 turun menjadi 47.506 judul buku, tetapi tahun 2018 melonjak menjadi 68.290 judul buku.

Buku-buku di Tanah Air, menurut sumber dari Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), Buku fiksi dan buku anak-anak menjadi andalan. Namun buku-buku non fiksi, termasuk buku-buku akademik mulai digarap secara serius. Hal ini menunjukkan rasa optimisme yang besar mengenai perkembangan kemajuan perbukuan di Tanah Air.

Sayangnya sampai saat ini, kita masih menyisakan personalan buta aksara, terutama pada usia produktif, usia 15-59 tahun yang jumlahnya masih  2.06 pesen dari total penduduk atau 3.4 juta orang. Masih menjadi tantangan nasional untuk menghapus sepenuhnya angka buta aksara. Meskipun banyak kalangan menilai kemajuan yang dicapai selama ini dalam mengurangi angka buta aksara di Indonesia terbilang sukses besar, dibandingkan negara-negara berkembang lain.

 Membaca merupakan investasi untuk masa depan kemajuan bangsa. Perlu ditanamkan sejak dini. Beruntung pada Indonesia International Book Fair (IIBF) tahun 2019, yang diselenggarakan tanggal 4 sd 8 September 2019 di JCC Jakarta, banyak anak-anak TK dari berbagai sekolah Taman Kanak-kanak di Jabodetabek dan anak-anak SD ‘dikerahkan’ untuk melihat pemeran buku, dan diperkenalkan kepada aneka koleksi buku-buku. Satu program edukasi sejak dini yang dapat menumbuhkan minat anak untuk membaca buku. Perkenalan dunia baca memang perlu dilakukan sejak dini, sebagai investasi, karena dengan membaca bisa melihat dunia dan mencerdaskan, meskipun banyak penganti alternatif dari buku, namun peran buku dalam upaya mencerdaskan bangsa masih sangat besar, dan akan tetap besar, meskipun kemajuan dunia digital yang menawarkan media alternatif yang lebih praktis dan instant. Buku akan tetap ada, karena nilai seni, kenyamanan dan keindahannya yang tidak bisa sepenuhnya digantikan melalui buku digital, seperti e_book sekalipun.

Melihat kenyataan Indonesia masih tertinggal dalam literasi baca tulis (laporan dari beberapa badan internasional), menunjukkan negara kita termasuk masyarakat dengan minat membaca yang rendah, maka saatnya pemerintah menggalakkan dan mendorong program kebiasaan membaca sejak dini, sebagai bagian dari pengembangan karakter,  menjadi manusia suka membaca, sebagai jalan menuju karakter pembelajaran seumur hidup. Membaca bukan hanya membaca social media yang bersifat instant, namun membaca secara utuh, melalui buku atau e_book, silahkan. Sekali lagi membaca merupakan investasi masa depan.

 

(Aam Bastaman – Univ. Trilogi. Editor Senior Gemari.id)

Aam Bastaman.png
Aam BastamanComment