Penduduk dari Zaman ke Zaman (Extended Family ke Nucleus Family)

Oleh : Drs Abd. Munir, S.Sos.,M.Sc.,M.M.

GEMARI.ID-BANJARMASIN. Piramida penduduk Indonesia bergeser dari penduduk muda ke penduduk tua. Di era Orde Lama penduduk Indonesia tergolong muda karena kohot batita, balita dan anak-anak masih besar sementara remaja dan orang tua  tak terlalu banyak. Sehingga STK masih laku dan SDN dipenuhi anak-anak. Di situlah program KB harus hadir dan diintensifkan.  Bahkan sampai  terasa dipaksakan dan koersif sehingga bisa berbenturan dengan agama dan budaya. Orang tua saya memunyai anak 11, kakek nenek saya memiliki 10 anak, terangga memunyai anak 14, dan paman saya memiliki anak  30 dengan 3 orang istri. Di zaman Orla itu ortu bangga berceita bahwa mereka punya anak banyak. Di masa pemerintahan Orde Lama, presiden pernah mengatakan:  "Jumlah penduduk Indonesia  sampai 500 juta tak apa-apa sebab tanah air Indonesia sangat luas dan kaya akan sumber daya alam". Apalagi sampai 500 juta, sekarang 280 juta saja sudah kewalahan mengurus sembakonya dengan MBG yang bermasalah ini. Namun, di masa Orla dan awal Orba saat saya kecil dengan 10 saudara makan tak bergizi, sering nasi dan ikan kering tanpa sayur.

Melalui Juken salurkan seni dan keterampilan

Hampir tiap provinsi, kabupaten/kota  terbentuk Juken (perkumpulan pensiunan asal BKKBN). Usianya cukup lama sekitar 5 tahunan. Anggota organisasi sosial ini bernumlah sekitar 50-an orang yang secara rutin mengadakan pertemuan rutin tial sebulan atau dua bulan. Setiap kali pertemuan anggota bersilaturahmi, merasakan keakraban dan kebahagiaan. Saat pertemuan diadakan arisan, ceramah dan pemeriksaan kesehatan.  Dalam sekali atau dua kali setahun. Dakam event pertemuan anggota lengkap bersama kabupaten/kota dan provinsi selain dihsri perwakilan Kenenduk Bangga/BKKBN menyamosihan beberapa program penting juga  ada pertunjukan seni budaya menyanyi dan berjoget. Dalam suasana itu anggota Juken merasakan keskraban dan kegembiraan dalam kebersamaan. Bakat seni anggota Juken kab/kota dan provinsi tersalur.

Tak hanya menulis, tarik suara dan tarian untuk malam seni-budaya di Jamnas terasa ada juga keterampilan membuat kuliner bagi ibu-ibu Juken u tuk dipadsrksn bekerjasama dengan AKU pada kesempatan Harganas. Selain itu, kemampuan diseminasi menyampaikan masalah demografi sosial ydng terjadi di perkotaan dan perdesaan bisa tersalurkan melalui kegiatan pertemuan Juken

Talenta Menulis

Dengan kemunculan Gemari majalah  online dari Juken Pusat, berita kegiatan Juken selalu terliput dan tersampaikan ke seluruh oenjutj Juken se Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Kebetulan sewktu masih aktif sebagai PNS BKKBN 13 tahun yang lalu saya pernah di Penmot, Latbang dan Bidang  Dalduk di sana memang pekerjaanya menulis dan mengajar. Kebetulan dicanangkannya Gerakan 1000 Menulis Juken merupakan moment yang sangat bagus. Dakam kesempatan emas ini saya kngin mengulang lagi masa-masa lalu sekaligus nrlsyih talenta menulis lagi yang merupakan keasyikan tersendiri. Tentu saja tak terkecuali untuk seluruh anggota Juken dapat menyalurkan bakatnya masing-masing.

Mandiri dan Berdaya

Menjadi lansia mandiri diperlukan cikal dan Modal  llmu pengetahuan. Persiapan saat menghadapi masa pensiun 2013 sudah memiliki sertikat SK Lektor 100 sejak 2005 dari Kopertis Dikti waktu itu. Dengan pangkat Lektor saya dipercaya mengajar dan membimbing skripsi oleh Yayasan Pendidikan Pendidikan lokal.

Masa Pensiun

Masa pensiun saya tetap mengabdi kepada masyarakat melalui Tridarma Perguruan Tinggi, organisasi sosial Juken sebagai sekretaris, olahraga dan berkesenian mandiri. Kesepian di saat pensiun dapat teratasi dengan pertemuan Juken sebulan sekali, komunikasi online dengan anggota Juken setiap saat. Penulis adalah Sekretaris JuKen Provinsi Kalimantan Selatan