Belajar Berkorban sejak Balita
Pada hari Jumat yang penuh berkah hari ini, satu hari sebelum tanggal 6 Mei 2023, saat pak Haryono Suyono genap berusia 85 tahun, beliau merenung sejauh-jauh masih bisa mengingatnya kapan beliau mulai dididik kedua orang tuaya untuk mengalah dan menyerah berkorban untuk orang lain.
Salah satu pengorbanan yang sangat diingat adalah peristiwa bangun pagi berdiri tegak memberi hormat pada upacara penaikann bendera di depan tempat kediaaman yang dijadikan Markas Tentara Jepang.
Pada saat pendudukan Jepang di Pacitan, Ibu Siti Padmirah dan anak-anak yang menempati rumah induk agak besar “diperintahkan” pindah ke bangunan Warung disebelah rumah karena bangunan rumah induk yang agak besar akan dijadikan Markas pasukan Jepang. Setiap pagi pasukan kecil Jepang yang menempati rumah induk itu menaikkan bendera dengan upacara dan dibuka dengan meniup terompet.
Begitu terdengar tiupan terompet isi selurh rumah harus berdiri dimuka rumah dan memberi hormat.
Karena bangun secara mendadak maka kesadaran belum penuh sehingga suatu pagi karena bergegas berlari kaki pak Haryono yang masih balita terantuk palang pintu dan jatuh terjerembab. Luka-luka kakinya berdarah dan meninggalkan bekas dengan tanda yang tidak bisa hilang sampai dewasa ini. Suatu pertanda peringatan penjajahan Jepang yang masih sangat teringat sampai dewasa ini. Sayang belum punya kamera untuk membuat foto bersejarah.
Peristiwa kedua yang tidak pernah hialang dari kenangan adalah saat nendapat hikuman dari ibu tatkala kami ditusai memelihara kambing dilapangan agar tidak lari kemana mana. Sebagai anak anak yang selalu ingin meme;ihara solidaritas dengan rekan lainnya, di ketinggian gunung teman-teman berteriak bisa melihat laut yang indah karena terbuka tidak ada awan yang menghalangi.
Untuk naik keatas bukit maka kambing piaraan terpaksa kita ikatkan pada pohon yang berdekatan. Tidak waspada pohon itu terletak di pinggiran bukit sehingga sewaktu kambing menyusur rumput terperosot dan jatuh. Karena terikat erat pada pohon kambing itu tidak bisa bergerak dan mati seperti layaknya gantung diri.Kami mendapat hukuman diikat pada tiang di rumah dan cambuk yang membuat kita selalubertanggung jawab pada kewajiban betapapun tawaran untuk menyeleweng menaarik perhatian dan indah.
Peristiwa ketigayangtidak pernah leoas dari ingatan adalah permintaan kakak Sumargo dan mbak Sugiatin isterinya yang akan menyelengarak upacara untuk anaknya yang petama. Saah satu syaratnya adalah dipotongkan kambing. Dan kambing yang terpilih adalah kambing Hantan yang gemuk piaraan yang sangat kami sayangi.
Pada waktu itu sudaj ada kamera sehingga secara khusus kami di foto Bersama kambing tersayang sebelum dipotong, namunkareansayang itu fotonya terselip pada dokumen yang tersembunyi sampai sekarang. Pengorbanan kepada bayi keponakan yang lincah dan belum lama meninggal dunia karena mengidap penyakit gula dengan kadar yang tinggi.
Tiga kenangan yang membekas indah biarpun fotonya tidak ada tetapi semuanya selalu teringat menjelang hari ulang tahun karena sangat indah, membekas dan mengatur arah hidup ini.